BATAK-TOBA DAN BATAK-MANDAILING

BATAK-TOBA DAN BATAK-MANDAILING
Hubungan kebudayaan dan pertentangan yang mendasar

Terlepas dari pengakuan ideologis tentang kesatuan Indonesia, gerak maju suku Batak, terutama Toba Batak, sesungguhnya merupakan gejala yang menarik dalam sejarah modern Indonesia. Sudah sejak dari zaman kolonial, para pegawai pemerintah dan terutama penyebar injil bangsa asing, keduanya sangat berperan sebagai pembuka pintu tanah batak.
Kemajuan seakan akan telah merupakan kekuatan magis yang baru. Kualitas serba mistis dari tradisi kelampauan telah berganti dengan kualitas serba riil. Demikian pula halnya dorongan untuk mendapatkan daerah harajoan, yang memungkinkan si pelopor untuk menjadi kepala, dengan terbukanya jalan-jalan serta daerah baru, menambah kegairahan mereka untuk berpindah. Pindah bukan sekedar pemecahan dari tekanan ekonomi, tetapi juga didorong untuk menaikkan harkat diri.
Sub suku bangsa mandailing, berdasarkan rekonstruksi antropologi sejarah, lebih dahulu mengalami masa perpidahan dari tanah asal mereka, menuju ke selatan.
Gaerakan Padri, yang dengan ekstrim ingin mengadakan pembaharuan dan pemurnian kehidupan beragama yang pada saat itu Islam sangat kuat di sana yaitu di daerah minangkabau. Melanjutkan usahanya ke utara. Sub suku bangsa batak, yang disebut mandailing, memulai proses Islamisasi mereka.
Ketika daerah baru telah dimasuki dan pergaulan yang lebih luas dengan berbagai jenis suku bangsa mulai dialami, maka ketika itu keinginan untuk menanyakan identitas diri makin kerasa.
Dengan sadar agama Islam dijadikan sebagai dasar untuk merumuskan identitas diri dalam konteks hubungan masyarakat yang pluralis. Pencarian identitas menciptakan suasana konflik karena ia memperjelas mana yang ‘kita’ dan mana yang ‘mereka’.

Sesudah pengakuan kedaulatan keresidenan Tapanuli sudah tidak ada lagi. Bagian utara dan bagian selatan dijadikan kabupaten-kabupaten tersendiri, yang langsung dimasukan ke dalam propinsi Sumatera utara. Dengan demikian terjadilah suatu pemisahan ketatanegaraan antara batak-toba di satu pihak dan batak-mandailing dan angkola-sipirok di lain pihak.
Perpisahan ini bukannya tidak terduga duga bagi seseorang yang banyak sedikitnya mengenal keadaan daerah itu sejak sebelum perang. Ketika itupun sudah banyak tanda-tanda pertentangan yang jelas, yang mudah menjurus kea rah suatu perpisahan menyeluruh. Terlebih lebih orang Mandailing kala itu sudah merupakan pelopor perjuangan “apartheids-politiek” politik memisahkan diri, seperti antara lain ternyata dalam tahun-tahun tiga puluhan, ketika suatu “Comite Kebangsaan Mandailing” mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia-Belanda ketika itu, agar di masa mendatang dalam surat menyurat resmi sudi menebut orang batak mandailing sebagai orang mandailing, sebagai “bangsa” mandailing, jadi sebagai kelompok tersendiri, yang tidak ada sangkut pautnya dengan pengertian batak.
Tapi ternyata permohonan itu ditolak dengan resmi berdasarkan dengan pertimbangan “bahwa penduduk keresidenan tapanuli, dengan dengan mengecualikan orang-orang melayu, yang bertempat tinggal di sepanjang pantai, merupakan satu bangsa dalam arti genealogis antropologis dan ethnologis, yang disebut dengan nama batak”. Diberitahukan pula, bahwa pemerintah tidak berkeberatan untuk mengusahakan, agar dalam hubungan administrasi kepegawaian dan di bidang pendidikan pada umumnya orang batak-mandailing akan disebutkan sebagai mandailinger, orang mandailing.
Tahun 1923 terjadi peristiwa “tempat pekuburan”, yang ketika itu menyebabkan amat ramainya perdebatan yang lisan maupun tertulis. Orang batak-mandailing di medan ketika itu melarang orang batak dari angkola dan padang bolak, yang juga beragama Islam, untuk mempergunakan tanah wakaf pekuburan mereka di kota itu, dengan alasan bahwa mereka orang mandailing bukanlah orang batak dan bahwa pekuburan itu hanya diperuntukkan bagi “bangsa” mereka sendiri.
Yang lebih mengherankan lagi ialah. Bahwa orang dari angkola dan daerah yang berbatasan, dalam hal ini dijadikan sasaran dari cita-cita memisahkan diri ini, sebab cita-cita itu sebenarnya mula-mula hanya ditujukan terhadap batak-toba, yang tidak diakui orang mandailing mempunyai hubungan apapun dengan mereka. Sebaliknya mereka hidup bertetangga baik dengan orang angkola mereka seagama, bisa terlihat dalam pergaulan, terdapat hubungan perkawinan yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi penduduk angkola dan sipirok memang menganggap diri sebagai orang batak, memang mengakui berasal usul dari batak-toba.
Logat batak-toba dan logat mandailing erat sekali pertaliannya logat-logat ini kedua-duanya, bersama sama dengan logat yang dipakai di angkola dan sipirok, termasuk logat batak selatan, dinamakan demikian untuk membedakannya dengan logat batak utara, yang meliputi logat batak-karo, dan dairi. Logat batak-simelungun berada antara bagian-bagian bahasa batak yang kedua ini. Jadi, batak-toba dan mandailing termasuk dalam satu kelompok. Perbedaannya terutama terletak dalam cara pengucapan, karena orang toba dan begitu pula orang batak-angkola memang memadu dua huruf mati berurutan, sedang orang mandailing tidak.
Selain dari perbedaan dalam pengucapan perbedaan antara logat toba dan logat mandailing terutama terletak dalam kenyataan, bahwa orang mandailing agak banyak juga meminjam kata-kata dari bahasa minangkabau dalam percakapannya.
Masyarakat batak-toba mengenal suatu bangunan struktur yang teratur dari kaum-kaum, yang bersifat eksogam (keharusan kawin keluar kaum) dan patrilinial (penentuan keturuna menurut garis ayah), yaitu marga-marga yang kemudian dikelompokkan lagi menjadi marga-marga induk, yang pada gilirannya merupakan bagian dari beberapa kesatuan yang lebih besar lagi yang akhirnya berhimpun dalam kedua belahan suku bangsa, yakni lontung dan sumba.
Dari semua kesatuan yang bersifat patrilinial ini, sebagian berdasarkan mitologi, sebagian lagi berdasarkan sejarah, maka marga yang eksogam itulah yang terpenting karena nama seorang individu berasal dari marga itu, dalam perkawinan pertama-tama margalah yang harus diperhitungkan dan banyak kewajiban dan hak sosial seseorang bersangkut paut dengan keanggotaannya dalam marga yang tertentu. Keluargalah yang lebih penting artinya karena keluarga memperoleh namanya dari nenek moyang bersama atau tempat ia menetap.
Menurut kepercayaan orang batak kuno keluarga itu merupakan persekutuan persembahan korban akan tetapi sekarangpun saparompuan (senenek moyang) masih mempunyai tempat yang penting bagi seorang batak-toba, yakni pada peristiwa kelahiran, perkawinan, kematian, dan kesempatan lainnya, yang seringkali dapat terjadi.
Walaupun dekat daerah minangkabau, di mandailing sistem kekerabatan patrilinial lah yang menentukan arah dalam hubungan masyarakat. Sruktur batak maupun minangkabau berasal dari sistem Dubbel-Unilateraal (garis keturunan tunggal berganda), yang pada orang batak aspek patrilinialnya sangat kuat, hampir semata mata menonjol sebagai kebalikan dari minangkabau. Di mana pengertian dan pranata matrilinal yang menentukan segala sesuatunya.

Kesimpulan I

Jadi menurut saya hubungan kebudayaan keduanya yaitu antara batak-toba dan batak-mandailing erat sekali kaitannya baik dalam logat maupun penulisan. Yang membuatnya menjadi berbeda adalah karena batak-mandailing tidak mau di anggap sebagai orang batak dan hanya mau di anggap sebagai bangsa mandailing saja. Masuknya agama Islam pun juga menambah perubahan kebudayaan orang-orang mandailing.
Sedangkan yang menjadi sumber pertentangan sendiri yaitu menurut saya disebabkan masuknya pengaruh luar ke mandailing dan agama yang menjadi factor penting di dalam orang-orang mandailing sendiri.
Agama islam yang masuk dari minangkabau membawa pengaruh sangat dalam bagi orang-orang mandailing, mereka jadi merubah gaya kebudayaan mereka sendiri.
Banyak juga perbedaan antara batak-toba dan batak-mandailing, di mana batak- mandailing di mana sebagian besar penganut agama islam di daerahnya sangat bersih, kampungnya besar dan juga orang-orangnya sangat terbuka. Dan juga mereka sangat terbuka untuk masuk ke dalam perkumpulan-perkumpulan di bawah panji-panji Islam. Sementara di pusat tanah batak yaitu batak-toba sendiri yang mayoritas Kristen lingkungan mereka sangat kotor dan terlihat kumuh di mana banyak babi-babi berkeliaran di sudut-sudut desa. Perbedaan ini yang membuat orang-orang mandailing benci terhadap batak-toba.

Kesimpulan II

Di dalam bukunya taufik abdulah ini yaitu yang membahas tentang batak-toba dan batak-mandailing, penulis menggunakan metodologi secara subjektif di mana terdapat aktifitas dari kedua suku batak tersebut serta kehidupan sehari-hari dari suku batak-toba dan suku batak-mandailing dan juga di mana mereka menetap dan tersebar. Taufik abdulah juga melakukan pendekatan secara antropologi yaitu mengambil dari sudut pandang masyarakat mandailing, toba, angkola dan sipirok yang merupakan keturunan batak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s