Pembentukan tentara BKR

BKR

 • Letak Geografis Daerah Kedu

Kedu selatan terletak di daerah kedu bagian selatan dan termasuk dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kedu selatan terdiri dari kabupaten purworejo dan kabupaten kebumen.
Nama “kedu” digunakan sebagai nama karesidenan pada zaman pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Dari mana asal nama “kedu” sehingga digunakan menjadi nama karesidenan , sejak kapan , oleh siapa , dan bagaimana riwayatnya tidak diungkap disini. Namun , diantara jalan raya dari magelang atau semarang ke wonosobo , terdapat sebuah desa yang namanya “kedu”.
Batas-batas karesidenan kedu di masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda hingga masa sekarang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Sebelah barat berbatasan dengan karesidenan Banyumas dan karesidenan Pekalongan.
2. Sebelah utara berbatasan dengan karesidenan Semarang.
3. Sebelah timur berbatasan dengan karesidenan Surakarta dan daerah Istimewa Yogyakarta.
4. Sebelah selatan membentang luas Samudra Hindia yang kini lebih sering disebut Samudra Indonesia.
Daerah Kedu di sebelah utara terdiri dari tanah perbukitan dengan dataran-dataran yang luas, menjulang tinggi dengan megahnya gunung Sindoro dan Sumbing. Dataran-dataran perbukitan itu merupakan daerah yang subur seperti Dieng dan Temanggung, yang terkenal dengan tembakau dan vanili sebagai penghasil utamanya. Pada beberapa bagian di sebelah utara dan timur daerah Kedu masih terdapat hutan-hutan lindung yang terpelihara dengan baik.
Tengah-tengah wilayah Kedu terletak kota Magelang yang di jadikan sebagai ibukota Karesidenan Kedu. Di sebelah selatan kota Magelang terdapat dataran luas yang di atasnya berdiri candi Borobudur. Disini dulu bermukim seorang Raja Agung dan pendiri dinasti syailendra yang beragama Budha.
Di selatan wilayah Kedu, tepatnya di sepanjang Samudra Indonesia terdapat dataran luas dan perbukitan kecil di karangbolong ( selatan Gombong ). Karangbolong terkenal dengan penghasil sarang burung walet. Sedangkan dataran rendahnya merupakan penghasil tanaman padi dan palawija. Dibandingkan dengan daerah lain di Kedu, daerah ini sangat padat penduduknya. Secara keseluruhan keadaaan iklim di daerah Kedu sebelah utara hawanya dingin dan sejuk, tapi ke selatan berangsur-angsur panas.
Di zaman Diponegoro Kedu merupakan daerah yang baik untuk gerilya. Medannya berbukit-bukit dan tanahnya yang subur merupakan sumber logistik perang yang handal. Ditambah lagi dengan semangat rakyatnya yang sangat patriotik menjadikan perang Diponegoro berkobar dengan dasyatnya.
Perang yang juga disebut sebagai perang jawa ini baru berhenti setelah pangeran Diponegoro ditangkap oleh Kolonial Belanda secara licik da magelang.akan tetapi para pengikut Diponegoro tidak kembali ke daerahnya. Mereka memilih menyatu dengan rakyat di Kedu dan sebagian besar di daerah Kedu bagian selatan.
Pada masa pemerintah kolonial Hindia Belanda, Karesidenan Kedu dikepalai oleh seorang Residen yang membawahi beberapa Bupati.pada masa kini, Residen disebut sebagai pembantu Gubernur dengan tugas dan kewajiban untuk melakukan koordinasi dan pengendalian terhadap Kabupaten-kabupaten dalam wilayah yang bersangkutan. Para Bupati berada langsung di bawah Gubernur dan tidak berada di bawah Residen seperti zaman Hindia Belanda dahulu.
Wilayah pembantu Gubernur yang dahulu Karesidanan Kedu, kini menjadi bagian propinsi Jawa Tengah. Karesidenan Kedu terdiri dari kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kebumen, Purworejo dan juga kotamadya Magelang. Propinsi Jawa Tengah sendiri terdiri dari 6 wilayah pembantu Gubernur, yakni : Semarang, Pati, Surakarta, Kedu, Banyumas dan Pekalongan.

Pembentukan-badan-Keamanan-Rakyat-BKR

• Proses Pembentukan BKR di Kedu Selatan

Menjelang Proklamasi, pada tanggal 23 Agustus 1945 President mengeluarkan seruan agar bekas para Prajurit PETA, HEIHO, Pelaut serta segenap pemuda untuk masuk dan bekerja pada Badan Keamanan Rakyat. Setelah itu di daerah tingkat kabupaten diadakan musyawarah antara bekas opsir PETA yang tertinngi pangkatnya dengan Bupati dan Kepala Polisi Negara Kabupaten, untuk memecahkan berbagai masalah guna melaksanakan seruan Presiden. Maka dari itu diambilah langkah-langkah sebagai berikut:
1. BKR di tempatkan di dalam wadah BPKKP(Badan Penolong Keluarga Korban Perang) yang dibina oleh KNI di daerah-daerah.
2. Tugas BKR adalah menjaga keamanan Rakyat setempat.
Dengan adanya langkah-langkah itu segera diadakan pemanggilan kepada para bekas prajurit PETA, HEIHO, Pelaut, KNIL dan pemuda lain di kampung atau desa yang telah ditentukan. Mengenai masalah konsumsi BKR, menjadi tanggung jawab Bupati selaku Ketua BPKKP Kabupaten. Wedono untuk tingkat Kawedanan dan Camat untuk tingkat Kecamatan. Sedangkan untuk masalah persenjataan, Kepala Polisi setempat menyatakan kesanggupannya untuk memberikan pinjaman beberapa pucuk senjata selama diperlukan.

1. Di Purworejo
Kepala Polisi Kabupaten Purworejo talah menentukan bahwa tempat berkumpulnya BKR di gudang bekas kediaman Mayor KNIL Oerip Soemohardjo. Waktu berkumpul bagi yang dipanggil adalah segera setelah panggilan diterima. Asal wilayah yang dipanggilan adalah Kota Purworejo dan sekitarnya, yaitu dari wilayah Kawedanan Purwodadi, Loan dan Purworejo. Eks Daidancho Moekahar menunjuk eks Ccudancho Koen Kamdani untuk memipin pasukan BKR Purworejo, jumlah pasukan BKR Purworejo sekitar 600 orang. Bekal untuk pasukan BKR disediakan oleh dapur umum yang melibatkan Ibu Moekahar dan ibu-ibu dari Perwari yang semasa Jepang dikenal sebagai FUJINKAI, sedangkan sumber dana berasal dari Bupati Soeraryo.
Senjata BKR di dapat dari pinjaman Kepala Polisi Kabupaten Purworejo Inspektur I Soewoso berupa beberapa pucuk senapan laras panjang dan pistol yang digunakan polisi. Setelah itu terus menambah senjata dengan melucuti Jepang yang berkedudukan di kota dan sekitar Purworejo. Pakaian pasukan BKR terdiri dari 3 macam: sebagian besar hijau PETA bagi bekas PETA, khaki HEIHO bagi bekas HEIHO, dan campuran KNIL dan pemuda non Prajurit, yaitu memakai pakaian yang dimiliki masing-masing.
Demikianlah BKR Purworejo dengan kekuatan sebesar batalyon, dan senjata hampir dua kompi atau 1:3. Meskipun begitu, dengan berbekal semangat yang tinggi, BKR Purworejo tetap siap bertempur menghadapi segala kemungkinan.

2. Di Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri
BKR Kutoarjo diselenggarakan secara tidak terpusat yaitu di Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri. Keempat tempat itu memiliki pola dasar penyelenggaran yang sama. Logistik menjadi tugas dan tanggung jawab BPKKP yang di ketahui oleh Wedana di Kawedanan dan Camat di Kecamatan. Peminjaman senjata yang diperlukan, diberikan i oleh polisi yang terdekat selama diperlukan di berikan oleh polisi yang terdekat selama diperlukan. Bekal untuk anggota BKR diselinggarakan oleh dapur umum yang melibatkan ibu-ibu yang di zaman Jepang disebut FUJINKAI dan juga keikut sertaan dari pihak keluarga atau organisasi wanita lain.
Selain itu juga terbentuk BKR di beberapa tempat, yaitu BKR Grabag di Bawah pimpinan mantan Shodancho Ramelan, BKR Butuh di bawah pimpin mantan Shodancho Roes’an dan BKR Kemiri di bawah pimpinan mantan Shodancho Panoedjoe. Setiap BKR masing-masing berkekuatan satu kompi dan memiliki markas sendiri.
Persenjataan yang dimiliki BKR Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri sangat minim, meskipun telah mendapat pinjaman dari polisi dan perolehan dari pelucutan senjata di Sumpyuh. Namun dengan semangat yang berkobar-kobar, pasukan BKR Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri siap untuk bertugas menghadapi musuh.
Pakain seragam anggota BKR di Kutoarjo, Grabag, Butuh dan Kemiri sama dengan yang didapat di Purworejo. Sebagian menggunakan seragam PETA, sebagian kecil seragam HEIHO dan sebagian lagi menggunakan pakaian campuran milik masing-masing.
Seperti halnya di Purworejo, bekal bagi anggota BKR menjadi tanggung jawab Bupati. Demikian pula anggota BKR Kutoarjo menjadi tanggung jawab Wedana Kutoarjo selaku Ketua BPKKP; BKR Grabag menjadi tanggung jawab Camat Grabag; BKR Butuh menjadi tanggung jawab Camat Butuh; BKR Kemiri menjadi tanggung jawab Wedana Kemiri.

3. Di Prembun
Pembentukan BKR di Prembun mengambil tempat di gudang bekas Pabrik Gula Prembun, para pemuda bekas prajurit PETA, HEIHO, KNIL, Pelaut dan pemuda lainnya yang bertempat tinggal di sekitar Prembun yaitu dari daerah Kecamatan Prembun dan Kecamatan Mirit diminta untuk menjadi anggota BKR. Bekal bagi anggota BKR Prembun diselenggarakan oleh Wedana Prembun dengan bantuan Ibu-ibu Perwari dan dari organisasi wanita lain. Mereka menyelenggarakan dapur umum guna menyediakan ”NUK” bagi pasukan BKR.
Senjata yang dimiliki BKR Prembun termasuk lumayan. Senjata didapat dari hasil melucuti tentara Jepang yang ada di gedung bekas pabrik gula. Senjata lain berasal dari pinjaman Polisi Prembun. Dengan senjata senapan yang ada ditambah dengan senjata tajam yang berupa keris, tombak dan bambu runcing, BKR Prembun siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Pakaian BKR Prembun berlaku Komandan tunggal, dalam arti semuanya langsung atas komando dari pimpinan BKR.

4. Di Kutowinangun
Pembentukan BKR di Kutowinangun, mengambil tempat di Kawedanan Kutowinangun dipimpin oleh eks Bundancho Marsoem dan Aboe Soedjak, bekas HEIHO Bawoek dan Saimin. Satu kompi BKR Kutowinangun berhasil dibentuk dan dipusatkan di Sekolah Muhammadiyah, serta sebagian lagi di SDN Kutowinangun. Pembentukan BKR mendapat dukungan dari Wedana Kutowinangun. Sedangkan dapur umum diselenggarakan oleh Ibu-ibu Perwari yang menyediakan ”NUK”.
Pakaian BKR Kutowinangun tidak berbeda dengan di tempat-tempat lain. Ada tiga macam, yaitu hijau PETA, khaki HEIHO dan campuran. Sedangkan senjata masih sangat minim. Namun, semangat tetap tinggi.

5. Di Kebumen
Setelah terdengar berita mengenai panggilan BKR dari radio langsung dalam menghubungi bekas Opsir PETA yang berkedudukan di Kebumen, agar secepatnya membentuk BKR Kebumen. Pembentukan BKR di Kebumen dipimpin eks Chudancho Soedradjat bertempat di Kantor Polisi Kebumen. Selain itu peran Ibu-ibu Perwari di Kebumen juga besar di bawah pimpinan Ibu Goelarso dan Ibu Mangkoe Soemitro serta organisasi wanita lainnya. Mereka menyelenggarakan dapur umum untuk bekal pasukan BKR Kebumen yang dipusatkan di Gedung Sekolah Cina HCS (Holland Chinese School) yang terletak di Jalan Kutoarjo, dekat Monumen Walet.
Kepala Polisi Kebumen Ajun Komisaris Soedjono memberikan pinjaman senjata kepada BKR kebumen berupa :
• Pistol Buldok 5 pucuk.
• Pistol Colt kuda 3 pucuk.
• Pistol Mauser 1 pucuk.
• Senapan panjang (polisi) 24 pucuk.
Pakaian yang di kenakan oleh BKR di Kebumen tidak berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Ada tiga macam, sebagian besar berpakaian hijau bekas PETA, khaki bekas HEIHO sebagaian kecil dan sebagian lagi campuran milik masing-masing.

6. Di Pejagoan
Pejagoan adalah Kota Kawedanan yang letaknya dekat dan berbatasan dengan Kota Kebumen. Pejagoan ditunjuk menjadi tempat pemusatan pendaftaran menjadi BKR bagi pemuda bekas PETA, HEIHO, Pelaut dan lainnya yang tinggal di sekitar Pejagoan. Kegiatan pendaftaran, pembentukan serta kesiagaan pasukan BKR dilakukan dengan mengambil tempat di Komplek Perumahan Pabrik Genteng Soka di Kebulusan.
Seperti halnya dengan di tempat-tempat lain,bekal bagi pasukan BKR Pejagoan diselenggarakan oleh Wedana Pejagoan. Pelaksanaannya dilakukan oleh Camat Pejagoan Daroesman dengan dibantu oleh Ibu-ibu Perwari Pejagoan.
Seragam BKR Pejagoan tidak berbeda dengan pasukan BKR lainnya. Ada yang sebagian hijau bekas PETA, sebagian lagi khaki bekas HEIHO, dan sebagian besar campuran milik masing-masing. Senjata pasukan BKR Pejagoan pada awalnya dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Akan tetapi mereka memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan, meskipun hanya dengan bersenjata keris, tombak, pedang dan bambu runcing.

7. Di Karanganyar
Di Karanganyar dilakukan rapat untuk menanggapi seruan Presiden tentang pembentukan BKR, rapat ini di selenggarakan di rumah tinggal eks Bundancho Bambang Widjanarko. Rapat memutuskan tentang waktu dan tempat pendaftaran masuk BKR untuk para pemuda yang tinggal di sekitar Karanganyar, baik bekas prajurit maupun yang bukan. Wedana Karanganyar Hardjo Kartoatmodjo selaku ketua BPKKP dibantu ibu-ibu Perwari menyelenggarakan bekal pasukan BKR Karanganyar. Senjata BKR Karanganyar berjumlah 5 pucuk. Senjata tersebut dimiliki karena sebelum BKR terbentuk para bekas prajurit PETA sudah bertindak melucuti Jepang yang berada di Karanganyar. Meskipun begitu hanya dengan senjata bambu runcing dan senjata tajam yang beragam jenisnya sekalipun, BKR Karanganyar tetap siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Seragam bagi BKR Karanganyar ada 3 macam, yaitu : sebagian hijua bekas PETA, sebagian lagi khaki bekas HEIHO dan sebagian besar lainnya campuran milik masing-masing pemuda non prajurit.

8. Di Gombong
Seruan Presiden RI tanggal 23 Agustus 1945 yang diteruskan melalui pamong praja disambut baik para pemuda bekas PETA, HEIHO, Pelaut, KNIL, serta pemuda lain. Mereka bergegas untuk mendaftarkan diri masuk BKR ke Kesatrian. Dalam waktu singkat terhimpunlah pasukan sebesar 2 kompi. Gombong fasilitas militer yang lengkap, berbeda dengan Karanganyar dan Kebumen. Meskipun mereka telah dibubarkan, namun terdapat beberapa bekas prajurit PETA yang tetap berkumpul dan siaga di Kesatrian. Pengarahan pasukan BKR Gombong disampaikan oleh eks Chudancho Sarbini. Atas permintaan Wedana Gombong Sosroboesono, ibu-ibu Perwari Gombong menyelenggarakan dapur umum, untuk menyediakan ”Nuk” bagi pasukan BKR Gombong.
Sementara itu Kepala Polisi Gombong meminjamkan 40 pucuk senjatanya kepada pihak BKR Gombong, setelah sebelumnya Komandan Pasukan BKR Gombong minta bantuan pinjaman senjata.
Secara keseluruhan dalam hal organisasi, Badan Keamanan Rakyat merupakan organisasi lokal dibawah BPKKP setempat. Ia tidak mempunyai garis komando dari tingkat teratas hingga ke Kabupaten-kabupaten dan Kecamatan-kecamatan.

Pendidikan dan Kebudayaan pada Masa Nuriyah dan Ayyubiah

Selama berlangsungya perang salib, terjadi proses interaksi budaya antara barat dan timur. Setelah perang salib, suriah mereka tinggalkan dalam keadaan hancur dan kacau balau, yang semakin parah ketika dinasti mamluk menghancurkan sebagian besar kota-kota maritim yang duluditempati oleh orang-orang Franka.
Meskipun terus-terusan dilanda oleh perang salib dan perang saudara, suriah menikmati, dibawah kekuasaan dinasti Nuridiyah dan Ayyubiyah, terutama pada masa kekuasaan Nur al-Din dan Shalah al-Din, periode paling brilian dalam sejarah muslim Suriah, selain periode Bani Umayyah. Damaskus, masih menyimpan bukti yang menunjukkan aktivitas arsitektur dan pendidikan yang dikembangkan oleh kedua penguasa utama itu.
Di Damaskus terdapat sebuah prasasti yang terdapat di menara benteng Aleppo di sebelah barat dan sampai saat ini masih dapat dibaca. Benteng pertahanan Aleppo dianggap sebagai sebuah mahakarya dalam bidang arsitektur militer zaman kuno, berhutang besar pada sultan Suriah ini yang telah merenovasi dan memeliharanya.
Selama masa pemerintahan Mamluk, yang dalam bidang seni meneruskan tradisi seni dinasti Ayyubiyah, lahir satu tradisi baru, yaitu menguburkan para pendiri sekolah-masjid di bawah kubah bangunan yang mereka dirikan.
Shalah al-Din merupakan khalifah yang lebih banyak mencurahkan perhatian pada bidang pendidikan dan arsitektur dibanding para pendahulunya. Kemudian penguasa berikutnya, Nizham al-Mulk, dikenal sebagai khalifah agung yang banyak mendirikan berbagai akademi dalam islam.
Rene Grousset mengemukakan bahwa, ”Seni Arab klasik dari timur dipresentasikan pada bangunan-bangunan yang terdapat di Damaskus dan Aleppo yang didirikan pada abad ke 13 oleh para penguasa dinasti Ayyubiyah, dan para khalifah awal dinasti Mamluk”. Karakteristik arsitektur itu itu sangat solid dan kuat. Bahan-bahan material tahan lama yang digunakan untuk membangun monumen-monumen itu. Misalnya batu-batu yang bagus serta dekorasi dengan motif-motif yang sederhana menyuguhkan nuansa keindahan yang abadi. Salah satu monumen yang paling indah, dan menjadi contoh terbaik dalah Masjid-Sekolah Sultan Hasan di Kairo.
Shalah al-Din memperkenalkan sekolah tipe Madrasah ke negeri Yerusalem dan mesir. Selama pemerintahannya, masyarakat Hijaz juga bisa merasakan pendidikan di sekolah yang seperti madrasah gagasan Shalah. Disamping mendirikan sejumlah sekolah, Shalah al-Din juga membangun dua rumah sakit di Kairo. Sebelumnya, Ibn Thulun, dan khalifah Kafur dari dinasti Iksidiyah telah mendirikan lembaga serupa yang berfungsi sebagai tempat pelayanan masyarakat yang tidak memungut biaya. Shalah al-Din memiliki seorang dokter yahudi yang kondang, yaitu Ibn Maymun, juga seorang sarjana Irak yang produktif dan mudah beradaptasi yaitu Abdul Lathif al-Baghdadi (1162-1231).

Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Filsafat, dan Sastra

Kebudayaan Islam pada masa perang salib di timur bisa dikatakan sama sekali tidak berkembang. Dalam dunia filsafat, kedokteran, musik, dan disiplin lainnya, hampir semua kekuatan besar itu telah musnah. Ada cukup banyak contoh konkret yang menunjukkan proses peralihan pengetahuan dan filsafat. Adelart dari Baht, yang terjemahannya atas karya-karya berbahasa arab dalam bidang astronomi dan geometri telah dikemukakan di atas, pernah mengunjungi Antiokia dan Tarsus pada awal abad ke 12. satu abad kemudian, ahli Aljabar dari Eropa yang pertama, Leonardo Fibonacci, yang mempersembahkan sebuah karya tentang angka angka kotak kepada Frederick 2, juga pernah mengunjungi Mesir dan Suriah. Frederick sendiri memiliki ambisi besar untuk mendamaikan Islam dengan Kristen, serta menyokong penuh kegiatan penerjemahan karya-karya berbahasa Arab. Seorang penduduk Pisa, Stephen dari Antiokia, menerjemahkan sebuah buku penting dalam bidang kedokteran karya Al-Majusi di Antiokia pada 1127. Di Antiokia Philip dari Tripoli sekitar 1247 menemukan sebuah manuskrip berbahasa Arab yang berjudul Sirr al-Asrar, diperkirakan disusun oleh Aristoteles untuk membimbing murid utamanya, Alexander Agung.
Pengaruh kebudayaan Arab terhadap perkembangan sastra di barat sangat terasa. Legenda Grail Yang Suci mengandung elemen-elemen yang tidak diragukan lagi berasal dari Suriah. Kitab Kalilah wa Dimnah dan ”Kisah Seribu Satu Malam”, kemudian mereka membawanya serta ke negeri mereka. Karya Geoffrey Chaucer yang berjudul Squieres Tale merupakan cuplikan dari kisah seribu satu malam. Raymond Lull(w. 1315) terinspirasi oleh kegagalan metode militer tentara salib untuk memerangi ”orang-orang kafir”. Pada 1276, ia mendirikan sebuah universitas bagi para biarawan di Miramar untuk mempelajari bahasa Arab dan bisa jadi karena pengaruhnya pulalah Konsili Wina tahun 1311 memutuskan untuk menyajikan studi bahasa Arab dan Tartar di universitas Paris, Louvain, dan Salamanca.

Perkembangan Bidang Militer

Jika kita mengalihkan perhatian pada dunia militer, kita bisa melihat bahwa pengaruh Arab, sebagaimana diperkirakan sangat terasa imbasnya. Penggunaan ketapel, pemakaian baju zirah yang tebal oleh golongan ksatria dan kudanya, serta penggunaan bantalan kapas di bawah baju perang, semuanya berasal dari perang salib. Mereka juga belajar dari penduduk pribumi bagaimana melatih merpati-pos.
Shalah al-Din kemungkinan menjadikan burung elang sebagai simbol utamanya. Sebagian besar khalifah Dinasti Mamluk menggunakan nama-nama dan gambar binatang untuk menghiasi perisai mereka, dan atribut perang lainnya. Simbol pasukan Baybar adalah singa, seperti simbol pasukan Ibn Thulun, raja sebelumnya. Sultan Barquq (w. 1398) adalah burung elang. Pada akhir abad ke 11, pasukan inggris diketahui baru menggunakan ornamen kebesaran pasukan pada awal abad ke 12. pasukan muslim modern, simbol binatang, bulan sabit, singa, dan matahari menjadi satu-satunya simbol kebesaran pasukan muslim yang masih digunakan.
Perang salib juga mendorong pengembangan berbagai taktik pengepungan, termasuk metode memperlemah pertahanan, pemasangan ranjau, penggunaan mangonel, dan alat pendobrak, serta penggunaan berbagai bahan peledak dan alat-alat pembakaran. Sekitar 1240, pasukan Mongol mengenalkan bubuk mesiu ke Eropa.

Perkembangan Bidang Arsitektur

Para tentara salib mendapatkan pengetahuan substansial tentang bangunan militer dari Italia dan Normadia yang sebagiannya dikembangkan oleh orang-orang Arab sebagaimana terlihat dari arsitektur benteng Kairo. Benteng Akrad, Markab dan Syakif (Belford) masih bertahan hingga kini. Di Yerusalem, beberapa bagian dari gereja makam suci, ”Solomon’s Stables”, dekat masjid Aqsa, dan beberapa ruangan berkubah merupakan hasil karya mereka.
Arsitektur pada masa perang salib umumnya berbentuk kubus dengan kubah sederhana, biasanya berbentuk gerinda. Karya seni orang Franka yang paling indah di Kairo dalah pintu yang diambil dari gereja di Akka pada 1291, kemudian dipasang di masjid al-Nashir.

Pertanian dan Industri

Dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri, tentara salib mendapatkan lebih banyak keuntungan dan manfaat dibanding dalam bidang intelektual. Mereka berhasil mendapatkan pengetahuan tentang pertumbuhan beberapa tanaman baru di kawasan Mediterania Barat, seperti biji wijen dan carob, padi-padian semangka dan jeruk, aprikot dan shallot.
Sementara di timur, orang Franka mendapatkan citarasa baru, terutama dalam parfum, rempah-rempah, makanan makanan baru, dan produk-produk tropis lainnya dari Arab dan India yang tersedia berlimpah di pasar-pasar Suriah. Keharuman dupa dan getah Arab, mawar Damaskus (Rosa Damascena), dan wewangian manis lainnya, yang banyak diproduksi di Damaskus, juga minyak wangi yang mudah menguap (Volatile oil), dan mawar merah (attar) dari Persia menjadi produk yang paling diminati para pedagang Eropa. Tawas dan pohon gaharu menjadi obat-obat baru yang mereka minati. Cengkeh, rempah-rempah, bumbu-bumbu beraroma, berikut lada, dan bumbu-bumbu serupa lainnya mulai digunakan di barat pada abad ke 12, dan sejak saat itu tidak ada lagi perjamuan yang tidak dilengkapi rempah-rempah.
Temuan lain yang didapatkan oleh orang Eropa pada periode perang salib adalah kincir air yang lebih maju. Qaishar ibn Musafir Ta’asif (w. 1251), seorang Mesir yang mengabdi pada penguasa Emessa, pembuat bola dunia yang paling tua dan satu-satunya yang berbahasa Arab, dan masih bertahan hingga kini. Pada masa Yaqut (w. 1229) dan Abu al-Fida (w. 1331), Emessa terkenal dengan kincir airnya.
Di Eropa, secara berangsur angsur muncul sejumlah pusat kerajinan yang memproduksi barang-barang rumah tangga, seperti karpet, permadani, dan pakaian yang meniru produk-produk dari timur, misalnya sentra kerajinan s=di Arras yang hasil produknya sangat dihargai.
Kebutuhan finansial dalam situasi yang baru itu meniscayakan terciptanya persediaan yang lebih besar dan proses peredaran uang yang lebih cepat. Karenanya, digunakanlah sistim pencacatan kredit.
Koin emas pertama yang mungkin pernah dibuat oleh bangsa latin adalah Byzantinius Saracenatus, yang dicetak oleh orang Venesia di tanah suci dan menerakan tulisan berbahasa Arab. Kantor-kantor konsulat luar negeri, terutama yang lebih mengurusi perdagangan ketimbang diplomatik, mulai bermunculan. Konsulat pertama yang tercatat dalam sejarah adalah konsul Genoa untuk Akka yang didirikan pada 1180. salah satu temuan terpenting yang berhubungan dengan aktivitas bahari para tentara salib adalah kompas.

Tan Malaka, Pahlawan Yang Terpinggirkan

TanMalaka_DariPendjara_ed3

 

Pada tanggal 19 Februari 1949, Tan Malaka diculik dan dua hari kemudian dieksekusi mati di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, Jawa Timur. Sejak saat itu, selama berpuluh tahun tidak diketahui secara pasti di mana pusara terakhir tokoh pergerakan tersebut.

Di penghujungJanuari lalu, ada titik terang atas jasad yang diduga adalah milik Tan Malaka.Hasil pemeriksaan dari jasad yang tersisa, yaitu 0,25 gram gigi dan 1,1 gram tulang menunjukkan bahwa itu adalah jasad penulis buku Madilog. Pemeriksaan ini juga diperkuat dengan kesesuaian bahan sampel DNA keponakan laki-laki Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin. Begitu pentingnya tokoh ini menjadikan penelitian yang dilakukan oleh Sejarawan Belanda Harry A. Poeze selama kurang lebih 40 tahun harus dibuktikan secara medis melalui tes DNA.

Menurut Aswi Warman Adam, berdasarkan kajian historis menunjukkan bahwa makam di Selopanggung itu merupakan kuburan terakhir Tan Malaka. Indikasinya, merujuk pada data penelitian forensik yang menyimpulkan bahwa jenazah yang pernah bersemayam di makam itu merupakan seorang laki-laki, bertinggi badan 163-165 sentimeter, dikubur secara Islam dan dalam keadaan tangan terikat di belakang badan. Perkiraan tersebut sama dengan posisi Tan waktu ditembak mati oleh Letnan Sukotjo.

Tan Malaka adalah salah seorang pahlawan negeri ini yang namanya “dihilangkan” ketika Orde Baru berkuasa. Pada masa itu, tidak banyak orang tahu siapa dan bagaimana pemikiran Tan Malaka. Namanya sengaja disembunyikan pemerintah untuk melanggengkan propaganda sejarah. Penulis pun mulai mulai kenal dan menyukai tokoh yang satu ini semenjak di bangku kuliah. Sebelumnya tidak pernah mengenal siapa itu Tan Malaka, apalagi tentang pemikirannya.

Perjalanan politik Tan Malaka dimulai ketika ia berangkat ke Semarang tahun 1921. Di kota ini, ia banyak berkenalan dengan dengan tokoh-tokoh pergerakan haluan kiri seperti Muso, Alimin, Darsono,Tjokroaminoto, dan tokoh pergerakan lainnya. Dalam waktu yang relatif singkat ia dipercaya sebagai Ketua PKI sebelum akhirnya dibuang ke Belanda oleh pemerintah kolonial.

Membicarakan Tan Malaka tidak dapat dilepaskan dari komunisme. Sebagai seorang ketua partai,Tan Malaka tidak sepenuhnya sepakat dengan ajaran partai. Ketika PKI akan melakukan “pemberontakan” tahun 1926-1927, sejak awal Tan Malaka tidak sepakat karena rencana tersebut belum dipersiapkan secara matang. Di samping itu pula kondisi obyektif Indonesia berbeda dengan negara-negara komunis.

Rencana ini dilakukan oleh “Kelompok Prambanan” yang terdiri dari Semaun, Alimin,Prawirodirdjo, Musso, dan Darsono. Alhasil, pemberontakan ini berlangsung tidak serentak, hanya terjadi di Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Akibatnya, banyak kader dan simpatisan partai ini ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Sebagian lagi melarikan diri ke luar negeri.

Setelah pemberontakan yang gagal itu, Tan keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di perantauan Bangkok tahun 1927 bersama Subakat dan Djamaludin Tamin. Akan tetapi perjalanan partai ini tidak bertahan lama dan mati suri.

Pada masa perang kemerdekaan tahun 1947, ia mendirikan organisasi Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Ajarannya masih termasuk Marxis-Leninis yang juga termasuk radikal. Berkat pengalaman perjalanannya di berbagai negara, sekalipun masihmenganut Marxisme-Leninisme, namun dominasi Moskow tidak dapat diterima.Kelompok ini juga menolak perundingan dengan Belanda. Kemerdekaan tidak ada artinyajika kekuatan ekonomi tidak sepenuhnya dikuasai oleh negara. Ia menilai bahwayang dapat melihat dan mengetahui kondisi obyektif yang ada di Indonesia adalah masyarakat Indonesia, bukan negara lain.

Meski berpisahdengan PKI, Tan Malaka konsisten dengan perjuangan revolusionernya. Dia dengantegas menyatakan tidak setuju perundingan dengan Belanda kecuali atas dasarpengakuan kemerdekaan 100 persen.

Sikapnya itudiwujudkan dengan membentuk Persatuan Perjuangan. Wadah ini digunakan untukmenghimpun semua kekuatan revolusioner guna menggagalkan usaha-usaha diplomasiyang dilakukan pemerintah. Bahkan dalam pertemuan di Purwokerto tahun 1946, TanMalaka berhasil menghimpun 138 organisasi massa(Quo Vadis Golongan Kiri, 2000).

Rehabilitasi

Belum lama ini, di Surabaya terdapat sekelompokorang yang mengecam acara seminar dengan tema komunisme. Hal yang sama jugaterjadi di Semarang.Diskusi buku Tan Malaka dengan pembicara Harry A Poeze sang penulis buku juga diancam“dibubarkan” oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Nasib Bangsa (Mapenab).

Banyak orang yang menganggap komunisme itu hanyakelompok ateis atau anti agama. Walaupunsebagian besar anggota atau kader adalah ateis, ada banyak orang beragama yangmenganut komunisme sebagai ideologi ekonomi politiknya. Misalnya saja HajiMisbach, dari Solo. Tokoh agama ini menganut komunisme sebagai jalan politik karena pada saat itu PKI yang memiliki semangat perlawanan terhadap imperialisme.

Begitu pula ketika membaca sejarah perjalanan hidup Tan Malaka.Sebagai bocah Minang, Tan hidup dalam nuansa keagamaan yang cukup kuat. Bahkan,diceritakan salah seorang keponakan Tan Malaka, bahwa penulis buku Dari Penjara Ke Penjara ini juga hafalal-Qur’an. Bahkan, sejak terpilih sebagai Ketua PKI tahun 1921-1922 iamengingatkan perlunya persatuan antara komunisme dan Islam dalam revolusi Indonesia.Gagasan Pan-Islamisme ini pun kembali ia sampaikan dalam Kongres Komunis Internasional (komintern) IV di Petrograd, Rusia pada November 1922.

Tudingan komunisme adalah ateis bisa dikaitkan dengan ungkapan KarlMarx (1888), seorang penggagas komunisme yang mengatakan “agama adalah candu.” Baginya,dengan iming-iming surga, agama mengajarkan para pemeluknya untuk selalu pasrah dengan keadaan. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat perlawanan dan perjuangan kelas terhadap pemilik modal. Ungkapan itu kemudian ditafsirkan berbeda demi kepentingan tertentu. Alhasil, membicarakan komunisme

Tan Malaka adalah salah seorang tokoh nasionalis yang pertama menuangkan konsep tentang konstruksi masyarakat bangsayang dibayangkan (the imagined community)di masa depan. Baginya, partai hanyalah alat untukmencapai perjuangan, yakni kemerdekaan bagi Indonesia. Komitmen ini sudah ditunjukkannya ketika berada di Kanton tahun 1925 dengan menulis buku Naar de Republik Indonesia (MenujuKemerdekaan Republik Indonesia).

Nama Tan Malaka tidak begitu dikenal jika dibandingkan dengan Soekano, Hatta, Muh. Yamin, dan lain sebagainya. Padahal pemikiran dan karya-karya yang dihasilkan banyak mengispirasi tokoh-tokoh pergerakan saat itu. Gagasan tentang kemerdekaan Indonesia diajukanya lebih dulu daripada Hatta yang menulis Indonesia Vrije (1928) dan Soekarno yang menulis MenujuIndonesia Merdeka (1933). Bahkan sesuai keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan Nasional.

Ironis, ketika sudah banyak orang yang tahu bagaimana petualangannya di berbagai negara untuk kemerdekaan negara ini,apakah peran dan namanya dipinggirkan begitu saja. Meski tidak mudah, nama Tan Malaka perlu direhabilitasi dan disejajarkan dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Ada banyakcerita, inspirasi dan motivasi yang muncul setiap kali mendiskusikan tokoh ini.Tan Malaka adalah seorang radikal dalam pemikiran, tapi seorang nasionalis dalam semua tindakannya.

 

Penulis M Dalhar.

Peran Bupati Pada Masa Penjajahan Belanda I

Voc

 

Pada abad ke-19 merupakan suatu periode baru bagi imperialisme Belanda yang ditandai oleh politik kolonial yang berbeda sekali dengan politik kolonoal yang telah dijalankan sebelumnya. Yang tadinya kepentingan Belanda terbatas pada perdagangan, maka Belanda dalam periode ini mulai mengutamakan kepentingan politik. Pada saat dibubarkannya VOC, Indonesia diwariskan kepada pemerintah di Negeri Belanda yang saat itu disebut Bataafsche Republik.
Penguasa yang dipercaya untuk mengurus Tanah Jajahan di Asia termasuk Indonesia adalah Raad van Asiatische Besittingen en Establisement yang bertanggung jawab kepada Dewan Eksekutif Rebublik. Pada tahun 1807 Jendral H.W. Daendels diangkat menjadi Gubernur Jendral di Indonesia. Ia berusaha keras melaksanakan pemusatan kekuasaan berdasarkan pada Korps Pangreh Praja Belanda dan Bumi Putera yang berdisiplin. Menurut Daendels kekuasaan pejabat yang diwariskan VOC terlalu besar sehingga mudah untuk memperkaya diri dengan cara melakukan korupsi. Pejabat yang dinilai terlalu besar kekuasaannya antara lain adalah Gubernur Pantai Jawa Timur Laut dan Residen yang berkedudukan di Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Daendels di Jawa selama kurun waktu 14 Januari 1808 hingga 16 Mei 1811 atau selama 3 tahun 4 bulan. Berbekal dua tugas utama yang dibebankan kepadanya yakni mempertahankan pulau Jawa dari ancaman Inggris dan memperbaiki sistem administrasi pemerintahan di wilayah koloni Hindia Timur, Daendels menerapkan sistem pemerintahan model militer. Sasaran yang akan ia capai adalah semua pejabat harus bertanggungjawab secara vertikal dengan kekuasaan terakhir dipegang secara mutlak oleh Gubernur Jenderal. Semua pejabat birokrasi diberikan pangkat militer, tidak terbatas pada orang Eropa, tetapi juga para pejabat pribumi seperti para bupati. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pembangkangan atau subordinasi yang berdampak pada kegagalan proyek pertahanan yang akan dibangunnya. Oleh karena itu tindakan disiplin yang keras diterapkan oleh Daendels dalam pelaksanaan semua program itu.
Sosok dan latar belakang Daendels sangat mempengaruhi sistem pemerintahan yang diterapkannya. Sebagai seorang militer yang dibesarkan dalam periode Revolusi Prancis (Légion Etrangère), Daendels tampil sebagai seorang yang berwatak keras dan tegas. Ia tidak segan mengambil tindakan terhadap bawahannya yang dianggap tidak mampu melaksanakan perintahnya. Di samping itu, suaranya yang keras juga menambah pengaruh penampilan dirinya ketika berhadapan dengan siapapun, baik para pejabat Eropa maupun para penguasa pribumi. Akibatnya, di kalangan para bangsawan pribumi, Daendels dikenal dengan sebutan ‘Marsekal Guntur’. Bahkan karena ketegasannya ketika memberikan perintah, oleh para penguasa pribumi, Daendels juga dijuluki sebagai ‘Mas Galak’ nama yang diambil dari pangkat yang disandangnya yaitu Marsekal. Istilah sapaan ‘Marsekal Guntur’ untuk memanggil Gubernur Jenderal Daendels, digunakan tidak hanya oleh para penguasa atau raja-raja pribumi, tetapi juga para bangsawan dan bupati bahkan sampai ke tingkat demang dan pejabat pribumi rendahan.
Dalam masyarakat jawa terbagi menjadi dua kondisi. Pertama, di desa-desa terdapat kehidupan ekonomi yang sederhana (subsistence). Penduduk desa hanya memproduksi sesuai dengan kebutuhannya untuk kepentingan terbatas.
Kedua, kehidupan masyarakat yang terikat pada hubungan-hubungan kekuasaan dan ketaatan kepada kekuasaan raja-raja, bupati-bupati, dan kepala-kepala yang berada di atas kekuasaan desa.
Daendels juga menginstruksikan para bupati di pantai timur laut jawa dan ujung timur jawa untuk melaksanakan pembangunan jalan dengan menggunakan biaya dari bupati bupati itu sendiri. Tetapi pada akhirnya bupati tersebut menyerahkan kepada penduduk dan rakyat setempat, sehingga akhirnya karena kerja paksa tersebut rakyat menjadi kelaparan karena bupati tidak memberi jatah makan tetapi tetap bekerja keras. untuk meningkatkan kemakmuran di daerah pantai timur laut jawa maka bupati menginstruksikan perluasan lahan serta memperbanyak tanaman kopi dan padi .
Pembangunan jalan juga disebutkan dalam keputusan itu adalah untuk pertahanan. Daendels memiliki kewajiban untuk mempertahankan pulau Jawa selama mungkin dari ancaman Inggris sesuai instruksi yang diterimanya dari Raja Louis Napoléon IV Untuk mengefektifkan jalan itu, ia memfungsikannya sebagai jalan pos yang memiliki fungsi utama sebagai sarana komunikasi antara Batavia dan wilayah sekitarnya di seluruh pulau Jawa. Setelah terjadi kemacetan pembangunan jalan di Karangsambung akibat habisnya anggaran pemerintah, Daendels melakukan evaluasi kembali atas program itu. Sebagai hasil evaluasi ini, Daendels memutuskan untuk meminta bantuan para penguasa pribumi untuk membangun jalan dari Karangsambung sampai Surabaya. Hal ini disepakati dalam pertemuan antara Daendels dan para bupati se-Jawa di Semarang yang diselenggarakan pada bulan Juli 1808 karena pembangunan jalan itu memang diperuntukkan bagi peningkatan kesejahteraan penduduk yang tinggal di sekitar jalan raya itu. Akhirnya, Diputuskan dan disepakati pada pertemuan itu bahwa pelaksanaan pembangunan jalan lebih lanjut diserahkan kepada masing-masing bupati di wilayah mereka masing-masing. Sistem yang digunakan diubah bukan lagi kerja upah tetapi menggunakan sarana ikatan feodal yang selama itu telah ada. Dalam ikatan feodal yang berlaku saat itu, masyarakat pribumi sebagai warga dari suatu kabupaten wajib mempersembahkan upeti tahunan.
Daendels juga mengintruksikan kepada bupati supaya masyarakat menyerahkan upeti. Upeti ini berupa sebagian hasil tanah dan tenaga mereka yang diwujudkan dalam kerja wajib bagi kepentingan kabupaten maupun kepentingan pribadi bupati. Setelah kesepakatan dicapai, program pembuatan jalan diteruskan dari Karangsambung menuju Cirebon. Sejak itu para bupati memegang peranan yang lebih penting dengan mengerahkan rakyatnya sebagai tenaga kerja. Dalam pelaksanaan proyek ini, para bupati sering memanfaatkan instruksi Daendels dalam hal pengumpulan dan pengerahan tenaga kerja dengan menuntut lebih banyak tenaga dan lebih lama waktu kerjanya. Keuntungan yang diperoleh para bupati dari proyek ini adalah bahwa sebagian tenaga itu juga digunakan untuk menggarap sawahnya di sela-sela waktu kerja yang tersisa dari program pembangunan jalan. Tenaga kerja yang didatangkan oleh para bupati ini juga diwajibkan membawa bekal sendiri untuk makan. Bekal ini habis, sesuai dengan masa yang mereka jalani untuk membuat jalan. Akibat yang terjadi justru pada waktu kerja yang tersisa digunakan untuk mengerjakan proyek pribadi bupati. Di sini terjadi bencana yang mengakibatkan terjadinya kelaparan dan korban kematian dalam jumlah cukup tinggi.
Dengan mendasarkan diri pada sistem ikatan feodal ini, program pembangunan jalan raya yang dicanangkan oleh Daendels berhasil dibuat sampai Panarukan dalam waktu satu tahun. Dibandingkan dengan proyek perbentengan yang juga direncanakan, program pembuatan jalan ini jauh lebih berhasil dan dampaknya lebih luas bagi kehidupan masyarakat. Dua proyek benteng besar di Ujung Kulon dan Gresik hanya satu proyek yang berhasil terwujud sesuai rencana. Proyek pembangunan pangkalan armada di Ujung Kulon (Teluk Meeuwen), karena kondisi alam dan kurangnya tenaga kerja, dipaksakan pembangunannya, sehingga mengakibatkan terjadinya konflik antara Daendels dan Sultan Banten yang menyebabkan dihancurkannya istana Sultan Banten. Kenyataannya bahwa pembangunan pangkalan armada laut di Teluk Meeuwen ini tidak selesai dibangun karena sudah dihancurkan oleh armada Inggris ketika proyek ini mendekati penyelesaiannya.
Apabila pada masa VOC kekuasaan pemerintah daerah diserahkan kepada para Bupati maka Daendels tidak mengikuti pola semacam ini. Daendels mengurangi banyak kekuasaan para Bupati sehingga peran Bupati itu tidak lebih dari se orang leverancier hasil bumi bagi kepentingan pemerintah Kolonial. Dengan demikian posisi Bupati diturunkan menjadi pegawai pemerintah kolonial meskipun tidak memperoleh gaji. Sebagai pegawai pemerintah Bupati ditempatkan di bawah Perfect, sedangkan gaji bawahannya masih menjadi tanggungjawab para Bupati.
Peran Bupati masih sangat penting yaitu sebagai penghubung antara pemerintah dengan rakyat. Dengan dipertahankannya penguasa pribumi sebenarnya sangat penting artinya namun Daendels tidak ingin peran penting penguasa Bumi Putera itu terlihat secara nyata. Untuk itu Daendels melakukan tindakan berupa pengapusan perbedaan yang ada antara Bupati yang berkedudukan di Priangan dengan Bupati yang berkedudukan di Pantai Jawa Timur Laut seperti pada masa VOC. Stelsel Priangan yang diciptakan VOC dipertahankan oleh Daendels maupun oleh penguasa Inggris kemudian. Stelsel Priangan yang menjiwai Sistem Tanam Paksa buatan Van den Bosch itu dipertahankan sampai tahun 1871.
Bupati menjadi Ketua Vrijde Gerecht. Land Gerecht bertugas mengadili perkara yang menyangkut orang Eropa dan golongan tertentu dari orang bumi Putera.dan pada saat itu Daendels memperbanyak pengadilan di tanah jawa. Para Bupati juga mendapat kedudukan militer. Hak jabatan yang secara tradisional para Bupati yaitu turun temurun tetap dipertanahkan.
Pemerintah kolonial juga melakukan pembenahan untuk pejabat di lingkungan lebih bawah dari Bupati ada yang diantaranya berada di bawah pemerintah Pusat. Mereka diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah Pusat bukan oleh Bupati. Bupati mempunyai kewajiban menggaji pegawai yaitu para kepala Wilayah yang ada di bawah kekuasaannya. Secara tradisional Bupati memperoleh sepersepuluh dari hasil panen dan memperoleh tenaga tanpa dibayar dari penduduk yang ada diwilayah kekuasaannya. Daendels mengurangi hak Bupati untuk memperoleh sepersepuluh hasil bumi atau hak pancen dan hak memperoleh tenaga tanpa upah. Bagi petani pengurangan penyerahan pancen dan kerja wajib itu boleh jadi tidak penting namun bagi Bupati hal itu sangat penting karena menyangkut status simbol sebagai seorang penguasa tradisional. Pembenahan yang dilakukan itu menyangkut hubungan antara Bupati dengan Pemerintah Belanda.
Pembenahan yang dilakukan Daendels yang lain adalah misalnya ia berusaha keras memberantas kecurangan di kalangan pejabat negara. Justru langkah inilah yang membuat ia mempunyai banyak musuh dari kalangan bangsa Belanda sendiri. Disamping politik keuangannya tidak menguntungkan pemerintah beberapa tindakannya dinilai sebagai menguntungkan diri sendiri. Lawan politik Daendels yang terkenal antara lain adalah M.R.G. van Polanen dan Nicolaas Engelhard, Gubernur Pantai Jawa Timur Laut yang dilepas oleh Daendels.
Dapat disimpulkan bahwa pada masa pemerintahan Daendels kebijakan atau sistem yang diberlakukannya di Hindia-Belanda memberatkan masyarakat pribumi saat itu. Hal ini terlihat dari kerja paksa yang diberlakukan untuk membangun jalan raya pos guna menangkal serangan Inggris serta kelancaran perdagangan. Sedangkan para penguasa pribumi dijadikan sebagai pegawai pemerintah kolonial tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Para bupati dan penguasa tradisional seperti menjadi boneka, mereka diberi tugas untuk mengawasi kerja dari para pekerja paksa selain itu mereka juga bertugas menarik upeti.
Pada masa Daendels, bupati tidak digaji dengan lungguh tetapi mereka mendapat sepersepuluh dari hasil panen dan memperoleh tenaga tanpa dibayar dari penduduk yang ada diwilayah kekuasaannya. Selain itu bupati juga memegang peranan penting yaitu memperluas lahan perkebunan tanaman yang laku dijual dipasaran dunia. Hal ini guna menambah pemasukkan kas bagi pemerintah kolonial.

Daftar Pustaka
Drs. A. Daliman, M.Pd, 2001, Sejarah Indonesia Abad XIX Sampai Awal Abad XX: Sitem Politik Kolonial dan Administrasi Penerintah Hindia-Belanda, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Marwati Djoened Poeponegoro & Nugroho Notosusanto, 1993, Sejarah Nasional Indonesia IV, Balai Pustaka, Jakarta
Sartono Kartodirjo, 1999, Pengantar Sejarah Indonesia baru jilid II, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

SEJARAH KERETA API INDONESIA

Stasiun Tambaksari, Stasiun Kereta Api Pertama di Indonesia

images ka

 

 

 

 

 

Stasiun Tambak Sari di Jalan Pengapon, dibangun oleh (NEDERLANDSCHE INDISCHE SPOORWEGMAATSCHARIJ), Diresmikan OLEH Gubenur Jenderal MR. BARON SLOET VAN DE BEELE. Stasiun ini menggantikan stasiun sebelumnya dibangun pada 16 Juni 1864 sampai dengan 10 Februari 1870 yang melayani jalur Semarang – Jogja – Solo.

Sekelompok peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional (Pusarnas), dibantu peneliti lintas ilmu dan lintas kota yang mencari keberadaan stasiun tertua tersebut.

“Ini bekas stasiun lama Samarang NIS,” kata Tjahjono Rahardjo, penggila kereta dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) yang juga dosen di Unika Soegijapranata Semarang. NIS merupakan singkatan dari Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij, sebuah perusahaan swasta yang pertama kali membangun jaringan kereta api di Semarang pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Stasiun Samarang NIS merupakan stasiun tertua di Semarang, juga tertua di Indonesia. Stasiun itu mulai dibangun tanggal 16 Juni 1864, ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jendral Baron Sloet van de Beele. Pembangunan jalur itu melalui besluit nomor 1 tahun 1862, sementara pembebasan tanahnya berdasarkan staatsblad nomor 135 tahun 1865 yang diperbarui lagi dengan staatsblad nomor 132 tahun 1866. Peluncuran kereta dilakukan tanggal 10 Agustus 1867, merentang sepanjang 25 kilometer dari Semarang ke Tanggung melalui Halte Alastua dan Brumbung.

Menurut sumber lain, stasiun tertua di Semarang bernama Tambaksari. Identifikasinya mirip Stasiun Semarang NIS, misalnya terletak sekitar satu kilometer dari Kota Lama dan tidak jauh dari pelabuhan.
Bahkan ada sumber yang menyebutkan bahwa stasiun pertama di Semarang bernama Kemijen. Stasiun itu terletak di dekat persilangan jalur rel milik NIS dan SJS (Samarang Joana Stoomtram Maatschappij). Oleh sementara orang Stasiun Kemijen sering kali disamakan dengan Stasiun Samarang Gudang, yang sampai sekarang masih terlihat sisa-sisanya meskipun sudah dikepung air.

Yang menjadi pertanyaan, di mana sebenarnya lokasi yang tepat dari stasiun tertua itu? Apakah benar bernama Samarang NIS, Tambaksari, ataukah Kemijen? Sayang saat ini sisa-sisa bangunan stasiun sulit dilacak. Kendati demikian, jejak bangunan stasiun masih terekam di peta Semarang tahun 1866. Stasiun pertama itu disebutkan dengan nama berbeda. Uniknya, Stasiun Tambaksari, Stasiun Kemijen, dan Stasiun Samarang NIS itu sama-sama terletak di wilayah yang dulunya disebut Tambaksari, sekarang Kelurahan Kemijen

Karena Stasiun itu tidak memenuhi syarat lagi, karena bertambahnya volume pengangkutan maka dibangunlah Stasiun Tawang. Arsitek gedung ini adalah JP DE BORDES. Bangunan ini selesai dibangun pada bulan Mei 1914. Bangunan ini mempunyai langgam arsitektur yang Indische yang sesuai dengan kondisi daerah tropis. bangunan ini mempunyai sumbu visual dengan Gereja Blenduk sehingga menambah nilai kawasan. Bangunan ini termasuk “tetenger” Kota Semarang.
IMG_0067

Stasiun Magelang

magelang kota
Sejarah perkeretaapian di Magelang di mulai dengan pembangunan dan beroperasinya jalur KA Jogja-Magelang pada tanggal 1 Juli 1898. Jalur ini dioperasikan oleh NISM (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) yang merupakan salah satu perusahaan KA swasta Belanda yang tergabung dalam VS (Veerenigde Spoorwegbedrigs). Jalur ini menghubungkan Jogja-Sleman-Tempel-Muntilan-Blabak dan Magelang. Sedangkan stasiun yang ada antara jalur dari Magelang sampai perbatasan dengan Jogjakarta adalah Stasiun Magelang Kota, Magelang Pasar, Banyurejo, Mertoyudan, Japonan, Blondo, Blabak, Pabelan, Muntilan, Dangeyan, Tegalsari, Semen.
Stasiun Magelang Kota merupakan stasiun utama pada waktu itu. Jalur rel KA antara Stasiun Magelang Pasar dan Stasiun Magelang Kota berjajar dan berdampingan dengan Grooteweg Noord/Djalan Raja Pontjol/Jl. A Yani sekarang sampai ke Grooteweg Zuid/Chinnese Kamperment Straat/Jl. Pemuda sekarang. Jalur sepanjang kurang lebih 2 km tersebut melewati pusat kota yaitu Aloon-aloon dan kawasan Pecinan. Karena itu di timur Aloon-aloon didirikanlah stopplaats, yaitu semacam halte tempat menaik turunkan penumpang tapi bukan stasiun. Selain itu fungsi dari stopplaats ini juga berfungsi untuk mengangkut kiriman paket/surat dari post kantoor/kantor pos Magelang.
Stasiun Magelang Pasar mempunyai andil besar terhadap tumbuhnya Pasar Rejowinangun dan terminal. Sebagai wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan dan banyak menghasilkan produk pertanian (padi, ketela, sayuran) dan perkebunan (tembakau, kopi, rempah-rempah, dll). Peran stasiun ini sangat vital sebagai pengangkut hasil bumi tersebut. Ketika para calon penumpang yang notabene para pedagang menunggu kereta datang, maka para pedagang yang membawa hasil bumi tersebut juga melakukan transaksi jual beli. Hal ini di lakukan supaya hasil bumi yang dibawa tersebut tidak rusak dan busuk. Nah dengan dijual lebih dulu maka hasil bumi tersebut dapat segera menjadi uang.

Jalur Kereta Api Banjar Cijulang
banjar

Jalur kereta api ini, menghubungkan kota-kota kecamatan di kawasan Ciamis selatan yang sekarang masuk dalam administrasi Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar. Adapun kota-kota yang dihubungkan dengan jalur kereta api ini yakni Banjar-Banjarsari-Padaherang-Kalipucang-Ciputrapinggan-Pangandaran-Parigi dan Berakhir di Cijulang.

Pembangunan jalur kereta api ini diusulkan oleh pihak swasta pada masa pemerintah Hindia Belanda. Terdapat berbagai argumentasi tentang perlunya dibangun jalur kereta api ini, yakni sebagai berikut.

Pada tahun 1898, F.J Nellensteyn mengajukan konsesi pembangunan trem penghubung Pameungpeuk-Rancaherang-Klapagenep-Cijulang-Parigi-Cikembulan-Kalipucang-Padaherang-Banjar. Konsesi tersebut diterima pemerintah, tetapi Nellensteyn sendiri tak mengerjakan proyek yang diajukan itu.

Pada tahun yang sama, usul datang dari H.J Stroband. Ia mengajukan konsesi pembangunan trem uap dengan jalur yang lebih pendek dari usulan Nellensteyn, yaitu Banjar-Banjarsari-Kalipucang-Cikembulan-Parigi-Cijulang. Namun, usulannya ditolak pemerintah.

Kemudian Eekhout van Pabst dan Lawick van Pabst. Akan tetapi, seperti usul sebelumnya, usul Eekhout dan van Pabst pun tidak ditindaklanjuti.

Latar belakang dari pengajuan pembangunan jalur kereta-api tersebut dilatarbelakangi kepentingan ekonomi. Di sekitar Banjar terdapat banyak perkebunan yang sangat memerlukan sarana transportasi memadai untuk proses pengangkutan. Di antara perkebunan itu adalah perkebunan Lawang Blengbeng, Leuweung Kolot I, Leuweung Kolot II, Bantardawa I, Bantardawa II, Cikaso I, Cikaso II, Banjarsari I, dan Banjarsari II. Semua perkebunan itu milik kalangan swasta dari Eropa.

Di samping itu, hasil pertanian yang melimpah di Priangan tenggara dan lembah Parigi merupakan pertimbangan lain di balik usul pembangunan jalur tersebut. Di kawasan itu banyak padi hasil panen petani yang sudah disimpan lebih dari enam tahun karena kesulitan dalam pengangkutan ke luar daerah. Ditambah lagi, seperti dikemukakan van Pabst, di sepanjang jalur Banjar-Cijulang banyak tanah yang bisa dimanfaatkan sebagai sawah dan tegal.

Selama ini hasil perkebunan dan pertanian dari Banjar hingga Parigi itu diangkut melalui jalur darat (roda) atau sungai (perahu) menuju Cilacap (Jawa Tengah). Pengangkutan dengan cara ini membutuhkan waktu lama dan berbiaya tinggi. Dengan pembangunan jalur kereta di daerah tersebut, diharapkan hasil pertanian dan perkebunan bisa diangkut dengan cepat ke Banjar dan dari Banjar ke Cilacap.

Pada akhir abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20 Cilacap merupakan salah satu pelabuhan paling ramai di Pulau Jawa dan satu-satunya di pesisir selatan Pulau Jawa. Pada masa itu produk pertanian dan perkebunan dari beberapa daerah di Jawa Tengah dan Priangan dikapalkan ke luar negeri melalui pelabuhan ini.
Residen Priangan sendiri baru mengajukan pembangunan jalur kereta api Banjar-Parigi pada 1908. Pengajuan ini disertai nota Asisten Residen Sukapura dan Kontrolir Manonjaya. Alasan yang dikemukakan Residen Priangan tak jauh beda dengan yang dikemukakan kalangan swasta, yaitu untuk meningkatkan eksploitasi ekonomi dan pengembangan wilayah Priangan timur dan tenggara.

Setelah melalui pertimbangan yang cukup lama, berdasarkan undang-undang tanggal 18 Juli 1911, pemerintah kolonial memutuskan untuk membangun jalur kereta api Banjar-Kalipucang-Parigi. Pembangunan jalur ini sesuai dengan yang diusulkan Residen Priangan.

Meski demikian, pembangunan jalur tersebut harus ditunda karena muncul kritik dari anggota Majelis Rendah Parlemen, Lambert de Ram. Ia mengkritik jalur yang akan dibangun itu terlalu panjang dan akan memakan biaya sangat mahal. Ia mengusulkan agar jalurnya diubah, yakni dari Banjar langsung ke Cilacap melalui Dayeuhluhur. Namun, usulannya dinilai tidak realistis karena Dayeuhluhur merupakan daerah berawa dan dikenal sebagai sarang nyamuk malaria. Pembangunan jalur kereta melalui daerah ini malah lebih sulit dan memerlukan biaya lebih besar.

Pembangunan menurut rencana semula pun dilaksanakan. Ketika pembangunan jalur kereta sampai di Kalipucang, muncul usul lain. Usul ini disampaikan oleh Inspektur Sementara StaatSpoor (Kereta Api Negara) Radersma. Ia mengusulkan agar dari Kalipucang pembangunan tidak dilanjutkan ke Parigi, tetapi ke Kawunganten. Alasannya, jalur ini lebih dekat menuju Cilacap. Namun, pembangunan jalur ini harus melalui lereng gunung yang ditumbuhi hutan dan terdapat batuan andesit yang hanya bisa dihancurkan dengan dinamit. Akhirnya, usulan ini pun ditolak dan rencana semula diteruskan kembali.

Ketika pembangunan rel sudah sampai di Parigi, ternyata daerah itu dinilai kurang cocok sebagai ujung pemberhentian. Kemudian, pembangunan dilanjutkan 5 kilometer lagi hingga Cijulang. Cijulang dianggap cocok sebagai pemberhentian terakhir karena memiliki lembah unik yang dapat meneruskan jalur sampai Tasikmalaya atau sepanjang pantai selatan sampai Pameungpeuk.Jalur Banjar-Kalipucang resmi dibuka pada tanggal 15 Desember 1916 disusul dengan jalur Kalipucang-Cijulang yang dibuka pada tanggal 1 Januari 1921………….
Jalur Kereta api Banjar-Cijulang atau kadang-kadang dipanggil jalur BanCi merupakan jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Banjar dengan Stasiun Cijulang. Jalur ini dulu merupakan jalur yang sibuk. Panorama jalur ini sangat indah mulai dari pegunungan hingga laut. Jalur Pangandaran-Cijulang ditutup pada 1981 akibat jalur yang sudah lanjut usia. Jalur Banjar-Pangandaran pun menyusul ditutup pada tahun 1984. Pada tahun 1997, jalur ini sempat diperbaiki dan berberapa lokomotif seperti BB300 dan D301 sempat lewat jalur banci ini. Namun jalur ini ditutup lagi saat krisis ekonomi yang melanda seluruh Asia. Jalur dan bantalan yang baru pasang pun dibongkar. Jalur ini merupakan dibawah kendali oleh Daerah Operasi II Bandung.
kereta api pangandaran
stasiun pangandaran
Jalur Kereta Api ini mempunyai banyak jembatan dan 3 terowongan yakni Terowongan Hendrik (100 m), Terowongan Juliana (250 m), dan Terowongan Sumber atau Wilhelmina ( 1.200 meter) . Salah satu jembatan dan terowongan merupakan paling panjang di Indonesia yaitu Jembatan Cikacepit dengan panjang 1.200 meter dan Terowongan Wilhelmina atau Terowongan Sumber.
jembatan
KLV001111194
keberadaan jalur kereta api ini akhirnya menjadi tulang punggung sarana transportasi di wilayah Kabupaten Ciamis khususnya kawasan Banjar hingga Cijulang dan sekitarnya hingga dekade 1980-an. Hal ini dikarenakan jalan raya yang menghubungkan Banjar-Cijulang dan kawasan sekitarnya belum berkembang dengan baik dan sarana transportasi darat saat itu masih terbilang langka. Mundurnya jalur ini hingga dihentikannya pada dekade 1980-an disebabkan karena persaingan dengan moda transportasi jalan raya yang semakin tumbuh dan berkembang. Disisi lain, PJKA (PT. Kereta Api Indonesia sekarang) mengalami kerugian dalam mengoperasikan jalur ini dan biaya perawatan dan perbaikan sarana dan prasarananya cukup mahal.

Dalam berbagai rencana pembangunan sarana transportasi khususnya di bidang perkeretaapian, revitalisasi pembangunan jalur ini dimasukkan dalam rencana pengembangan perekeretaapian khususnya di wilayah provinsi Jawa Barat. Namun demikian, rencana ini terdapat kendala antara lain biaya investasi yang cukup tinggi.

Hal ini disebabkan karena masih banyak potensi dari kawasan ini yang belum dikelola secara optimal dikarenakan sarana dan prasarananya dianggap kurang memadai. Selain potensi Pariwisata di kawasan Pangandaran hingga Cijulang. Kawasan ini menyimpan potensi di bidang Pertanian dan Perkebunan serta Pertambangan diantaranya fosfat, kalsit, batu kapur dan pasir besi khususnya di kawasan selatan Provinsi Jawa Barat.Namun sarana penunjang kereta api ini sudah tak lagi berfungsi. Terus merugi karena kalah persaingan menjadikan jalur ini sudah sejak lama ditutup dan terlupakan. Tragisnya lagi sisa-sisa peninggalan kereta api hilang dicuri tangan-tangan tak bertanggungjawab.

AFGHANISTAN

afghanistan-graveyard-of-empires-a-new-history-of-the-borderland

Filsuf George Santayana menulis, mereka yang mengabaikan masa lalu akan dikutuk mengulanginya. Presiden Amerika Serikat George Walker Bush mengabaikan hal ini. Ia tidak percaya sejarah Afganistan ditentukan oleh kelompok-kelompok suku bersenjata, yang lebih 80 persen buta huruf. Sebagian dari kelompok bersorban ini bersembunyi di goa-goa yang tersebar di pegunungan Kundush, seperti halnya di zaman batu.
Sejarah menunjukkan, tahun 330 sebelum Masehi, atau jauh sebelum masuknya agama Islam, Iskandar yang Agung memutuskan mundur bersama pasukannya dari Afganistan akibat gawatnya perlawanan suku Pashtun. Ia sendiri dua kali mengalami cedera dalam pertempuran.
Sejak itu pasukan asing silih berganti menduduki Afganistan, termasuk tentara Mongol pimpinan Jenghis Khan. Namun, pendudukan itu tidak bertahan lama. Afganistan kemudian disebut sebagai ”kuburan tentara pendudukan”.
Kerajaan Inggris mengabaikan sejarah dengan menginvasi Afganistan tahun 1839. Lagi-lagi akibat gawatnya perlawanan, sekitar 16.500 pasukan Inggris dan warga sipil mundur dari kota tersebut menuju Jalalabad, yang jaraknya 140 kilometer, 6 Januari 1842.
Kelompok-kelompok suku Pashtun ternyata mengikutinya dan menyerang sepanjang perjalanan. Akhirnya, yang berhasil mencapai Jalalabad hanya Dr William Boyd. Selebihnya tewas dibantai ataupun ditawan sebagai budak.
Belum jera atas kekalahan tragis tersebut, Inggris tetap berusaha menguasai Afganistan melalui dua perang, 1878-1880 dan 1919. Keduanya berakhir dalam kegagalan.
Uni Soviet mengalami nasib yang sama ketika mengirim puluhan ribu Tentara Merah ke Afganistan, Desember 1979. Tujuannya adalah membendung rembesan revolusi Iran dan mengamankan rezim kiri pro-Moskwa saat itu.
Di luar perkiraan, kehadiran pasukan asing ternyata mengundang maraknya perlawanan bersenjata. Setelah sekitar 15.000 prajuritnya tewas dan puluhan ribu lainnya cedera, Moskwa menarik 114.000 pasukannya dari Afganistan, 1989. Peristiwa ini menimbulkan disintegrasi Uni Soviet. Negara Tirai Besi ini tamat tahun 1991.

afganistan

Invasi militer

afghanistan_is_the_graveyard_empires

Presiden AS George Walker Bush tidak melihat peristiwa di atas sebagai hal penting. Ia lebih percaya pada keunggulan ilmu pengetahuan dan superioritas teknologi militer sebagai kekuatan yang menentukan sejarah dan peradaban.

07_27GYOE

Maka ketika terjadi serangan 11 September 2001, ia tidak ragu mengultimatum Mullah Muhammad Omar, pemimpin tertinggi Taliban, agar menyerahkan Osama bin Laden dan 13 orang kaki tangannya. Selain itu semua kamp teroris di Afganistan harus ditutup. Bush menuding Osama bin Laden dalang serangan 11 September.
Mullah Omar menolaknya karena tidak percaya pemimpin Al-Qaeda tersebut mampu merencanakan serangan sehebat 11 September, yang jaraknya ribuan kilometer dari Afganistan. Selain itu Washington sendiri tidak menunjukkan bukti-bukti keterlibatan Osama bin Laden.
Subuh 7 Oktober 2001, pesawat-pesawat pengebom berat AS dan Inggris melancarkan serangan udara di Afganistan. Perang melawan teror telah dimulai. Bush menyebutnya sebagai Operasi Kebebasan Abadi.
Afganistan, salah satu negara termiskin di dunia, porak poranda akibat hujan bom yang dijatuhkan dari langit. Setelah lebih sebulan serangan udara berlangsung, Taliban mundur dari Kabul, 12 November 2001. Besoknya, pasukan Aliansi Utara yang beroposisi, mengambil alih kota tersebut.
Kandahar, benteng terakhir Taliban, direbut awal Desember tahun yang sama. Peristiwa ini menandai berakhirnya kekuasaan Taliban dan berkuasanya Aliansi Utara dukungan AS. Lantas, apakah AS dan sekutunya berhasil mencapai tujuan perang tersebut?

To accompany Picture Package AFGHANISTAN - A DECADE OF WAR


Makin gawat

Perang Afganistan, yang kini memasuki tahun kesepuluh atau 109 bulan, adalah perang terlama dalam sejarah militer AS. Jauh lebih lama dibanding Perang Dunia II. Bahkan, melampaui rekor Perang Vietnam yang berlangsung 103 bulan (Agustus 1964–Maret 1973).
Perang masih berkecamuk dan makin gawat dari tahun ke tahun. Pada tahun pertama, AS hanya menempatkan sekitar 19.500 personel militer di Afganistan. Kini jumlahnya menggelembung menjadi 98.000 orang.
Pasukan Koalisi Internasional—termasuk NATO—menambah kekuatannya dari 20.000 menjadi sekitar 50.000 personel militer. Hal ini belum termasuk 120.000 personel angkatan darat Afganistan yang direkrut pasukan koalisi internasional dan AS.
Seiring dengan meningkatnya perlawanan Taliban, jumlah pasukan AS yang tewas juga meningkat drastis. Tahun 2008, tercatat 155 prajurit AS tewas. Tahun lalu jumlahnya 327 orang, atau naik lebih 100 persen. Hingga Oktober tahun ini sekitar 250 prajurit AS tewas. Jumlah keseluruhan tentara AS yang tewas di Afganistan lebih kurang 1.350 orang. Ribuan orang lagi cedera. Sebagian dari mereka harus diamputasi.

graveyard-of-empires

Inggris, yang pasukannya relatif kecil, kehilangan sekitar 340 prajuritnya. Angka tersebut melampaui jumlah pasukan Inggris yang tewas dalam menghadapi gerilya komunis di Malaysia ataupun perang Malvinas melawan Argentina.
Washington yang tadinya memperkirakan anggaran perang Afganistan sekitar 50 miliar dollar AS, kini telah menghabiskan lebih 361 miliar dollar AS. Hal ini belum termasuk dana pasukan koalisi internasional.
Ironisnya, tujuan perang itu sendiri belum tercapai, yakni membekuk Osama bin Laden, Mullah Omar, Dr Ayman al-Zawahiri, dan pentolan teroris lainnya. Lebih celaka lagi, lebih dari 60 persen wilayah Afganistan kini di bawah kendali Taliban.
Baru-baru ini mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, mengingatkan NATO bahwa mereka tidak akan menang.

22401495E

Di atas angin

Seperti biasa, tidak ingin dianggap gagal, AS mulai mencari kambing hitam. Media dan pejabat AS menuding badan intelijen Pakistan (Inter-Services Intelligence) sebagai biang kerok. Mereka diam-diam memasok informasi dan logistik kepada Taliban. Selain itu pemerintahan Presiden Karzai yang korup juga dituding sebagai penyebab meluasnya dukungan terhadap Taliban.
Presiden Obama mencoba mengubah strategi dengan menambah 30.000 prajurit AS. Tujuannya melakukan ofensif besar-besaran untuk memaksa Taliban ke meja perundingan. Hasilnya, pertemuan informal antara pemimpin Taliban dan pejabat pemerintahan Presiden Karzai berlangsung beberapa kali.
Kalangan pengamat pesimistis pertemuan tersebut akan meningkat ke perundingan resmi. Terutama karena Taliban kini berada di atas angin dan tahu bahwa Washington mulai menarik pasukannya Juli 2011. Dengan kata lain, Taliban hanya tinggal menunggu waktu untuk berkuasa kembali.
Jika hal itu terjadi, George Santayana benar bahwa mereka yang tidak belajar dari masa lalu akan dikutuk mengulanginya. Presiden AS George Walker Bush mengabaikan hal itu.
Kini AS bersama 46 negara yang mengirim pasukannya bertempur di Afganistan, mengulangi kekalahan tentara pendudukan di negara para mullah tersebut.
Dalam hal ini, prediksi Osama bin Laden tidak meleset. Jauh sebelum peristiwa 11 September, ia mengatakan, satu-satunya jalan mengalahkan AS adalah memprovokasinya menginvasi Afganistan.
Kini AS terperangkap dalam dilema. Mundur atau bertahan di Afganistan adalah bencana.

afghanistan-war-cartoon

Rudal SA – 2 Indonesia

S-75 (kode NATO: SA-2 Guideline) adalah sebuah sistem peluru kendali darat ke udara yang dibuat oleh Uni Soviet. Sejak pemakaiannya pertamanya pada tahun 1957, peluru kendali ini telah menjadi peluru kendali yang paling banyak digunakan dan didistribusikan dalam sejarah. Contohnya Vietnam Utara menggunakan S-75 selama Perang Vietnam untuk mempertahankan Hanoi dan Haiphong. S-75 juga diproduksi di Republik Rakyat Cina dengan nama HQ-1 dan HQ-2. Beberapa negara lain telah memproduksi versi gabungan S-75 sehingga sangat sulit untuk menemukan versi asli S-75 pada hari ini.

 

Rudal yang pertama kali dibuat oleh pabrik Lavochkin OKB pada tahun 1953 juga dikenal dengan sebutan SAM (Surface to Air Missile)-75 mampu membuat negara tetangga dan NATO/AS sempat dibuat keder saat era tersebut, saking populernya, karena banyak merontokkan pesawat tempur AS.

Spesifikasi SA-2
Pabrik : Lavochkin OKB
Berat : 2.300 kg
Panjang : 10,6 meter
Diameter : 0,7 meter
Penggerak : Solid fuel booster dan liquid fuel upper stage operational
Hulu ledak : 200 kg
Daya jangkau : 45 km
Batas ketinggian: 20.000 meter
Kecepatan : 3,5 Mach
Pengendali : radio

 

SA-2 terbilang rudal yang punya reputasi tempur tinggi, dengan sosoknya yang terbilang besar, yakni berat 2,3 ton, panjang 10,6 meter serta diameter 0,7 meter menjadikan SA-2 adalah sosok rudal terbesar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dengan bobot hingga ukuran ton, sudah pasti daya jelajah rudal ini terbilang fantastis dan memang SA-2 digolongkan segai rudal darat udara jarak jauh. Jangkauan SA-2 efektif bisa mencapai 45 km dengan kecepatan 3,5 Mach, sebuah kecepatan yang fantastis, mengingat sejak SA-2 Indonesia belum pernah memiliki rudal darat udara dengan kecepatan diatas 3 Mach (3 kali kecepatan suara). Walau terbilang rudal kelas berat, proses peluncuran SA-2 bisa dilakukan secara cepat bila telah mengunci sasaran. Saat pertama diaktifkan yang menyala adalah engine booster selama 4 sampai 5 detik dan kemudian engine utama akan aktif selama 22 detik dengan kecepatan 3,5 Mach dengan tingkat akurasi 65 meter.

 

Selain unggul dalam daya jelajah dan kecepatan luncur, jangkauan ketinggian SA-2 pun mengagumkan, yakni bisa mencapai 20.000 meter. Daya hantam SA-2 pun cukup menakutkan dengan hulu ledak high explosive fragmentasi seberat 200 kg. Dengan spesifikasi diatas, jelas SA-2 jadi senjata yang mujarab untuk merontokkan pesawat jet pengintai yang kerap terbang tinggi. Ini terbukti pada 1 Mei 1960 rudal ini dapat menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika U-2 ‘Dragon Lady” pada ketinggian 15,24 Km dan berhasil menangkap pilotnya Francis “Gary” Powers.

 

Selain itu ada peristiwa lain yang mencatat keberhasilan rudal ini dari berbagai variannya adalah pada insiden U-2 Taiwan ditembak jatuh oleh tentara RRC di atas Narching. Lalu Pada bulan Oktober 1962, U-2 Amerika hilang ditembak oleh tentara Kuba di atas pangkalan angkatan laut Banes yang kemudian memicu krisis rudal Cuba. Berikutnya adalah di ajang Vietnam dengan korban pesawat tempur F-4C Phantom pada bulan Juli di tahun yang sama. Tak heran memang, SA-2 dihadirkan Uni Soviet sebagai kegeraman atas kehadiran pesawat intai U-2 yang kerap masuk ke wilayah Soviet. Dalam operasionalnya, SA-2 digunakan pada tahun 1957 oleh resimen PVO-Strany dan ditempatkan pada suatu daerah dekat kota Sverdiovsk.

 

Walau tampil menakutkan bagi armada tempur NATO, SA-2 tidak pas untuk menyergap pesawat yang terbang dengan ketinggian rendah yang bermanuver tinggi. SA-2 kodratnya adalah rudal untuk menghantam target pada ketinggian menengah dan tinggi yang bermanuver rendah seperti pesawat pembom dan pesawat mata-mata. Dalam bobot yang besar, SA-2 bukan rudal yang bersifat mobile, platform peluncurannya menggunakan ground mounted. Sedangkan untuk pengiriman rudal menggunakan moda truk.

Awal mula SA – 2 di Indonesia

 

Menyandang predikat sebagai ‘Macan Asia’ dalam sisi militer, Indonesia pada era 60-an menjelma sebagai kekuatan yang menggetarkan negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Dari seabreg perlengkapan tempur modern yang diperoleh dari Uni Soviet, unsur pertahanan udara (Hanud) nyatanya juga sangat diprioritaskan oleh Ir. Soekarno, Presiden RI pertama. Sebagai unsur Hanud, mulai dari pesawat tempur, rudal dan radar, apa yang Indonesia punya saat itu adalah produk tercanggih dimasanya.

 

Ketika ancaman perang dengan Belanda kembali muncul, Bung Karno langsung menggelar crash program: modernisasikan militer! Untuk tugas itu, Kolonel AH Nasution dipercaya mengelus-elus Uni Soviet agar bersedia melepas persenjataannya kepada Indonesia. Selanjutnya militer Indonesia menjelma menjadi kekuatan paling utama di Asia Tenggara dan Pasifik.

 

Konon AURI paling diuntungkan dari pembelian ini. Seperti membalik telapak tangan, AURI yang sebelumnya mengoperasikan pesawat-pesawat peninggalan Belanda semasa Perang Pasifik, kelimpahan alutsista baru dari negara-negara Blok Timur. Satu dari ratusan sistem persenjataan yang dipasok adalah peluru kendali (rudal) darat ke udara V-75 yang oleh kalangan militer Amerika Serikat (AS) diberi kode SA-2 dan NATO menyebutnya Guideline sementara kalangan TNI AU mengenalnya dengan SA-75. Sementara dalam terminologi Barat rudal jenis darat ke udara biasa disingkat SAM (surface to air missile)

Ada sebuah cerita menarik tentang keberadaan rudal SA-75 dengan seseorang yang bernama Subagiyo Surodiwiryo, berikut ini kisah perjalanan beliau dalam mengemban misi mendatangkan rudal SA-75 yang sangat fenomenal dalam sejarah TNI Angkatan Udara.

 

Agak sulit bagi Marsda (Pur) Subagyo Surodiwiryo mengingat peristiwa yang telah berlalu 40 tahun silam itu, hanya saja bagi Subagyo yang saat itu menjabat koordinator di Skadron Pendidikan Peluncur Rudal dan Tehnik Wing 100 Lanud Kalijati dan sempat menjabat asisten logistik KSAU, hadirnya SA-2 sudah cukup membuat negara tetangga dan negara Blok Barat merinding. “Sayang ketangguhannya urung teruji karena Trikora berakhir di meja runding,” jelas Subagyo sambil menambahkan bahwa persenjataan dari Uni Soviet itu dibeli justru untuk berjaga-jaga andaikata Belanda dibantu para Sekutunya.

 

Bagi Subagyo, keterlibatannya dalam urusan senjata pemusnah serangan udara ini sebenarnya kurang relevan dengan latar belakang korpsnya di AURI yang aeronautik. Tapi jalur pendidikan weapon system yang dialaminya sejak tahun 1958, suka atau tidak suka telah menarik Subagyo kepada tetek-bengek perudalan. Rencana pembelian rudal darat ke udara sebagai realisasi kunjungan Nasution, membuat Subagyo harus berangkat ke Uni Soviet bersama tim AURI untuk meneruskan perjanjian yang telah disepakati kedua negara. Tim yang dipimpin Kolonel Sudarjo itu berangkat ke Uni Soviet pada 1960. Khusus merealisasikan pembelian SA-2 dimana Subagyo terlibat, tim kecil ini dipimpin Mayor Imam Sukotjo.

 

Sesuai dengan “petunjuk“ dari Jakarta bahwa pembelian merupakan crash program, tim AURI ini juga tidak berlama-lama di negara tirai besi (saat itu). Dalam kunjungan sekitar sebulan itu dibicarakan segala sesuatu mulai dari jumlah yang akan dibeli, bagaimana pengirimannya, bagaimana dan dimana pendidikannya hingga garansi lainnya yang mesti tertera di dalam kontrak. Sayang sekali, Subagyo lupa berapa jumlah yang berhasil dibeli. Persiapan mulai terlihat di sana-sini. Mulai dari hanggar, shelter, perkantoran, hingga asrama pun dibangun. Daftar nama personil mulai dari bintara hingga perwira yang akan dikirim ke Uni Soviet untuk mempelajari pengoperasian SA-2 juga sudah dikantongi. Satu di antara rombongan itu dinamai “Naya 2“.

 

Seratus orang diberangkatkan pada tahun 1962, mereka direkrut dari bintara-bintara yang memang bertugas di satuan-satuan radar TNI AU, sedangkan pendidikan radarnya dilaksanakan di Polandia, berikut penuturan saudara Budhi yang terlibat dalam proyek pembelian rudal tersebut , “Kami tidak dikirim ke Rusia, tapi ke Polandia. Di sini pendidikan khusus bagi calon operator radar di skadron rudal,” aku Budhi Katamsi, mayor purnawirawan yang menutup karirnya sebagai staf Dinas Penerangan TNI AU.

 

Diakui Budhi yang ditempatkan di Skadron Peluncur 101 Cilodong, tidak semata mempelajari bagaimana mengoperasikan radar satu situs rudal SA-2 mengoperasikan radar IFF (identified friend or foe) dan radar penuntun malah yang membuat mereka harus “mendekam“ selama, persisnya, 18 bulan di Polandia, justru bagaimana mengutak-atik jeroan radar itu sendiri. “Jadi kami diajarkan mulai dari menyolder (soldering, mematri) sampai menggulung trafo, sementara pelajaran radarnya sendiri sebentar dan itu pun tidak terlalu sulit,” beber Budhi.

 

Sistem pendidikan sapujagat seperti ini jelas diarahkan dengan harapan pasukan mampu beroperasi secara mandiri. Sekali dayung dua pulau terlewati. Saat bersamaan di Jakarta juga mulai dilakukan perekrutan personil baru, terutama untuk memenuhi kebutuhan perwira. Selain memanfaatkan perwira yang sudah ada, puluhan mahasiswa maupun jebolan ITB Bandung digiring bergabung dengan AURI dalam kondisi tertentu negara berhak memaksa warganegaranya bergabung dengan militer demi tujuan bela negara, mereka inilah yang dididik pada tahap awal di Kalijati.

 

Secara administratif persiapan AURI cukup hebat tentu tidak terlepas dari lampu hijau yang diberikan Bung Karno. Presiden pertama menyebut pengadaan SA-2 ini sebagai “Proyek A“. Menurut Budhi, sebagai contoh, dua rudal lengkap dengan peluncur telah datang dan terpasang pada 1962. “Namun belum ada yang mengoperasikan,” jelasnya.

 

Sebagai rudal darat ke udara (surface to air), kedatangan SA-2 tentu akan mewujudkan sebuah sistem pertahanan udara yang boleh dibilang canggih kala itu. Puluhan pesawat tempur telah berdatangan (MiG 15, 17, 19, 21), pula artileri-artileri pertahanan udara telah dimiliki AURI. Alhasil sebagai sistem pertahanan udara lapis kedua (areal defence) setelah pesawat tempur dan sebelum pertahanan titik (hanud pasif, point defence), kehadiran SAM yang baru diproduksi 1956 dan ditempatkan dalam skala besar di beberapa titik di Uni Soviet pada 1958, tak pelak lagi akan menjadi pergunjingan yang tak kalah hebatnya dibanding Tu-16 dan MiG-21 yang telah hadir lebih dulu. Mengingat hingga 1960, selain sudah terpasang mempertahankan fasilitas-fasilitas vital di bagian barat Uni Soviet, Pakta Warsawa sendiri baru menggelarnya pada 1960.

 

Indonesia betul-betul seperti kekasih bagi Uni Soviet, jauh dikangeni dekat dimanja. Buktinya persenjataan itu. Kembali ke sistem pertahanan udara, melalui Surat Keputusan Menteri/Pangau No 39 tahun 1963 tertanggal 15 Agustus, dibentuklah Komando Pertahanan Udara (Kohanud). Sebagai sebuah sistem pertahanan, Kohanud ditongkrongi kesatuan-kesatuan yang ditampung dalam tiga wing pertahanan udara (Hanud). Wing Hanud 100 (peluru kendali), Wing Hanud 200 (radar), dan Wing Hanud 300 (buru sergap).

 

SA-2 Sang Perisai Ibukota


Bila terjadi insiden pertempuran yang melibatkan operasi udara, sangat wajar bila target utama yang disasar adalah Ibukota RI, Jakarta. Dan SA-2 pun dihadirkan tak lain untuk mengamankan wilayah udara di beberapa instalasi strategis, termasuk Jakarta.

 

Dengan Skep Men/Pangau Nomor 53 Tahun 1963 tanggal 12 September 1963, dalam rangka mempertahankan wilayah kedaulatan udara nasional, dilakukan pembagian unsur-unsur rudal Hanud dalam pelaksanaan operasi, berada di bawah naungan Wing Pertahanan Udara (WPU) 100, membawahi 3 skadron peluncur dan 1 skadron teknik peluru kendali Yaitu :

 

1. Skadron 101 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilodong)

 

2. Skadron 102 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Tangerang)

 

3. Skadron 103 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilincing)

 

4. Skadron Teknik 104 Penyiap Peluru Kendali (di Pondok Gede).

 

Tugas dari pada WPU 100 Peluru Kendali, pertama adalah mengatur, mengkoordinasikan dan memimpin langsung kegiatan-kegiatan dalam rangka pertahanan udara yang meliputi usaha penghancuran dengan peluru kendali terhadap sasaran-sasaran musuh/lawan, baik didalam maupun di luar wilayah Republik Indonesia. Kedua adalah mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi latihan yang membawa semua kesatuan yang dibawahnya dalam keadaan siaga.
WPU 100 Peluru Kendali berpangkalan di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma. Rencananya juga akan ditempatkan di Bekasi dan Surabaya, namun perangnya (Trikora) urung. Surabaya pertimbangannya karena di sana pusat Angkatan Laut. Kalau tiga skadron pertama merupakan skadron operasional, maka Skadron 104 merupakan skadron penyiap (Satpen) yang bertanggungjawab menyiapkan rudal-rudal yang akan ditempatkan di ketiga skadron operasional.

 

Nyaris Terjadi Insiden

 

Selama kampanye Trikora, SA-2 disiapkan membentengi Jakarta, tak banyak cerita seputar masa genting itu, mengingat pada 1962 Belanda dan Indonesia sepakat menyelesaikan pertikaian di meja runding. Namun satu peristiwa pantas disimak dengan keberadaan SA-2 adalah pada suatu saat radar rudal menangkap adanya target dalam jarak tembaknya. Seperti biasa, anggota Skadron Peluncur 102 bersiaga seperti hari-hari sebelumnya. Namun, tiba-tiba keluar perintah yang menegangkan, bahwa sebuah pesawat intai strategis U-2 Dragon Lady melintas di Teluk Jakarta. Kejadian itu segera dilaporkan ke Panglima Kohanud. Oleh panglima diteruskan kepada Presiden lewat jalur ‘telepon merah’ untuk menunggu perintah selanjutnya. Sementara operator radar sudah mengunci posisi U-2. Bisa dibayangkan bila Bung Karno saat itu ada di tempat ketika telepon berdering dari Panglima Kohanud, tidak seorang pun bisa membayangkan bagaimana perang yang akan terjadi kemudian. Namun saat itu, RI-1 sedang tidak ada di tempat dan target kemudian melarikan diri.

 

hingga saat ini rudal SA-2 sudah diproduksi sekitar 4600 unit dalam berbagai varian. Sebagian besar penggunanya jelas para negara-negara sahabat Uni Soviet/Rusia. Di lingkungan ASEAN, tercatat hanya Vietnam yang juga pernah mengoperasikan rudal ini. Sebagai rudal yang dikendalikan lewat gelombang radio, SA-2 rawan menghadapi aksi jamming, untuk itu pihak Rusia berhenti menggunakan rudal ini pada tahun 1980, dan kini mengadopsi rudal anti serangan udara yang superior, yakni SA-10/SA-12, atau juga dikenal dengan sebutan keluarga rudal S-300.