David Hume EMPIRISME

David Hume lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711.33 Ia pun menempuh
pendidikannya di sana. Keluarganya berharap agar ia kelak menjadi ahli hukum,
tetapi Hume hanya menyenangi filsafat dan pengetahuan. Setelah dalam beberapa
tahun belajar secara otodidak, ia pindah ke La Flèche, Prancis (tempat di mana
Descartes menempuh pendidikan).34 Sejak itu pula hingga wafatnya 1776 ia lebih
banyak menghabiskan waktu hidupnya di Prancis.
Sebagaimana Descartes, Hume juga meninggalkan banyak tulisan berikut:
A Treatise of Human Nature, 1739-1740; Essays, Moral, Political and Literary,
1741-1742; An Enquiry Concerning Human Understanding, 1748; An Enquiry
Concerning the Principles of Morals, 1751; Political Discourses, 1752; Four
Dissertation, 1757; Dialogues Concerning Natural Religion, 1779; dan
Immortality of the Soul, 1783.35 Perlu dicatat bahwa buku-buku An Enquiry
Concerning Human Understanding dan An Enquiry Concerning the Principles of
Morals merupakan ringkasan dan revisi dari buku A Treatise of Human Nature.36
Ajarannya
Usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak dan
pasti telah berlangsung secara terus menerus. Namun, terdapat sebuah tradisi
epistemologis yang kuat untuk mendasarkan diri kepada pengalaman manusia
yang meninggalkan cita-cita untuk mendapatkan pengetahuan yang mutlak dan
pasti tersebut, salah satunya adalah Empirisme.
Kaum empiris berpandangan bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh
melalui pengalaman. Hume seperti layaknya filosof Empirisme lainnya menganut
prinsip epistemologis yang berbunyi, “nihil est intelectu quod non antea fuerit in
sensu” yang berarti, “tidak ada satu pun ada dalam pikiran yang tidak terlebih
dahulu terdapat pada data-data inderawi”.37
Hume melakukan pembedaan antara kesan dan ide. Kesan merupakan
penginderaan langsung atas realitas lahiriah, sementara ide adalah ingatan atas
kesan-kesan. Menurutnya, kesan selalu muncul lebih dahulu, sementara ide
sebagai pengalaman langsung tidak dapat diragukan.38Dengan kata lain, karena
ide merupakan ingatan atas kesan-kesan, maka isi pikiran manusia tergantung
kepada aktivitas inderanya.
Kesan maupun ide, menurut Hume, dapat sederhana maupun kompleks.
Sebuah ide sederhana merupakan perpanjangan dari kesan sederhana. Begitu pula
ide kompleks merupakan kelanjutan dari kesan kompleks. Tapi, dari ide
kompleks dapat diturunkan menjadi ide sederhana.39
Pikiran kita menurut Hume bekerja berdasarkan tiga prinsip pertautan ide.
Pertama, prinsip kemiripan yaitu mencari kemiripan antara apa yang ada di
benak kita dengan kenyataan di luar. Kedua, prinsip kedekatan yaitu kalau kita
memikirkan sebuah rumah, maka berdasarkan prinsip kedekatan kita juga
berpikir tentang adanya jendela, pintu, atap, perabot sesuai dengan gambaran
rumah yang kita dapatkan lewat pengalaman inderawi sebelumnya. Ketiga,
prinsip sebab-akibat yaitu jika kita memikirkan luka, kita pasti memikirkan rasa
sakit yang diakibatkannya.40
Hal-hal di atas mengisyaratkan bahwa ide apa pun selalu berkaitan dengan
kesan. Karena kesan berkaitan langsung dengan pengalaman inderawi atas
realitas maka ide pun harus sesuai dengan relitas yang ditangkap pengalaman
inderawi.
Berdasarkan prinsip epistemologinya, Hume melancarkan kritik keras
terhadap asumsi epistemologi warisan filsafat Yunani kuno yang selalu
mengklaim bahwa pengetahuan kita mampu untuk menjangkau semesta
sesungguhnya. Hume mengemukakan bahwa klaim tentang semesta
sesunguguhnya di balik penampakan tidak dapat dipastikan melalui pengalaman
faktual maupun prinsip non-kontradiksi.41
Kritik Hume diejawantahkan dalam sikap skeptisnya terhadap hukum sebab
akibat yang diyakini oleh kaum rasionalis sebagai prinsip utama pengatur
semesta.42 Kenicayaan hubungan sebab akibat tidak pernah bisa diamati karena
semuanya masih bersifat kemungkinan.
Hubungan sebab akibat, menurut Hume, didapatkan berdasarkan kebiasaan
dan harapan belaka dari peristiwa-peristiwa yang tidak berkaitan satu sama lain.
Orang sudah terbiasa di masa lalu melihat peristiwa matahari terbit di Timur
selalu diikuti oleh peristiwa tenggelam di Barat dan ia akan mengharapkan
peristiwa yang sama terjadi di masa yang akan datang. Bagi Hume, ilmu
pengetahuan tidak pernah mampu memberi pengetahuan yang niscaya tentang
dunia ini. Kebenaran yang bersifat apriori seperti ditemukan dalam matematika,
logika dan geometri memang ada, namun menurut Hume, itu tidak menambah
pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah lewat
pengamatan empiris atau secara aposteriori.

empirisme
Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism
dan experience.13 Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία
(empeiria) dan dari kata experietia14 yang berarti “berpengalaman dalam”,
“berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut A.R. Lacey15
berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang
berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan
kepada pengalaman yang menggunakan indera.
Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai
Empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari
dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang
dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah
satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.16
Menurut aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlak
dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat
dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih
lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan
mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besar
untuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin.17
Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia
dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan
seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “tunjukkan hal itu
kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh
pengalamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa seekor harimau
di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menjelaskan bagaimana kita
dapat sampai kepada kesimpulan tersebut. Jika kemudian kita mengatakan bahwa
kita melihat harimau tersebut di dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan
mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita, namun dia hanya akan
menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang
kita ajukan, dengan jalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.18
Seperti juga pada Rasionalisme, maka pada Empirisme pun terdapat
banyak tokoh pendukungnya yang tidak kalah populernya. Tokoh-tokoh
dimaksud di antarnya adalah David Hume, John Locke dan Bishop Berkley.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s