V.O.C di Makassar

Lokasi Makassar dengan pelabuhannya yang sangat menarik sebagai stasiun dalam pelayaran antara Maluku dan Malaka.Karena pendudukan Malaka oleh Portugis mengakibatkan pula suatu eksodus pedagang melayu ke pelabuhan lain,antara lain ke Makassar .Makassar juga menjadi pusat pemasaran hasil dari wilayah Indonesia timur serta tempat mengambil bahan makanan.
Situasi ini membuat mengalirnya barang – barang ke Makassar seperti sutera dan pecah belah China dengan kapal Siam dan bahan pakaian dengan kapal portugis.Diberitakan pula bahwa di Makassar ada perdagangan budak belian. Goa dan Tallo adalah pusat kekuasaan politik di Makassar,sebagai pusat perdagangan ada saling ketergantungan perdamaian dan keamanan yang ada di Sulawesi Selatan di bawah hagemoni,Goa dan Tallo memungkinkan perkembangan perdagangan di Makassar dan sebaliknya perdagangan internasional yang tertarik kesana membawa banyak kekayaan. Karena perdagangan rempah-rempah sangat vital bagi Makassar maka setiap usaha menguasai daerah penghasil bahan-bahan itu mengancam kepentingannya,sehingga tidak dapat dielakkan adanya konflik dengan Ternate pada satu pihak dan VOC pada pihak lain.Seperti kerajaan Bone yang sudah memiliki konflik dengan kerajaan Gowa dan Tallo yang tidak kunjung padam sehingga melakukun oposisi dengan VOC yang akhirnya meruntuhkan kekuasaan Goa dan Tallo. Adanya konfrontasi antara kerajaan – kerajaan di Sulawesi selatan semakin bertambah panas manakala agama Islam masuk dan beberapa Raja mulai menganutnya.Seperti Karaeng Matoaya yang menjadikan Goa menjadi perintis dari kerajaan di Makassar yang memeluk agama Islam serta menyebarkannya ke kerajaan – kerajaan lain.Maka terjadilah peperangan antara kerajaan Goa dengan kerajaan yang belum masuk Islam seperti Tellumpoco – Bone , Waja dan Soppeng.Karena serangan dari kerajaan Goa yang sangat gencar , akhirnya Soppeng dan Waja takluk di tahun 1610 dan akhirnya Bone di tahun 1611 . Dengan begitu proses Islamisasi di Makassar meningkat berkat pengaruh dari Goa. Kemudian Goa mulai melakukan ekspedisi ke luar daerah Sulawesi. Kepulauan Nusa Tenggara yang meskipun telah mendapat pengaruh dari Makassar , namun tetap saja harus menghadapi ekspansi dari VOC . Maka terjadilah perebutan antara Makassar dan Ternate dimana untuk menahan serangan dari Makassar , Ternate meminta bantuan dari VOC. Meskipun begitu armada Makassar sangat kuat dalam menghadapi gerak VOC. Konfrontasi antara VOC dan Makassar berlangsung lama dan baru diselesaikan dengan perjanjian Bongaya. Ekspansi Goa – Tallo berhasil meletakkan hegemoni di Sulawesi Selatan dan dengan demikian mengintegrasikan wilayah itu menjadi kesatuan politik , namun hubungan konflik antara Goa dan Bone membawa ketegangan politik.Terjadilah penyerangan Goa terhadap Bone , yang sangat sengit , karena banyak kerusakan yang di akibatkan bahkan menimbulkan perpecahan dan keretakan hubungan antara kerajaan – kerajaan di Makassar.

Setelah Bone dapat ditundukkan dan Sulawesi Selatan berada di bawah hegemoni Goa dipastikan , perhatian Goa dialihkan untuk melawan VOC . Hal ini dikarenakan tujuan VOC untuk memegang monopoli perdagangan langsung bertentangan dengan prinsip sistem terbuka , suatu hal yang menjadi kepentingan Makassar selama berkedudukan sebagai pusat perdagangan dengan hegemoni politik sebagai dukungannya.

Konflik semakin memuncak sejak tahun 1660 karena ada insiden dan faktor lain yaitu :
1. Pendudukan benteng Pa”Nakkukang oleh VOC dirasakan sebagai ancaman terus menerus terhadap Makassar.
2. Peristiwa De Walvis pada tahun 1662 , waktu meriam – meriam nya dan barang – barang muatannya disita oleh pasukan Karaeng Tallo , sedang tuntutan VOC untuk mengambalikannya di tolak.
3. Peristiwa kapal Leeuwin (1664) yang terkandas di pulau Don Duango dimana anak kapal dibunuh dan sejumlah uang disita.

Untuk menghadapi kemungkinan pecahnya perang dengan Belanda , Sultan Hasanudin pada akhir Oktober 1660 mengumpulkan semua bangsawan yang diminta bersumpah setia kepadanya. Kekuatan VOC sangat ditentukan oleh aliansinya dengan Toangke juga dari Soppeng dan Bone.Dengan demikian kekuatan pasukan bisa mencapai jumlah 10 – 18.000orang.

Jalannya perang dipengaruhi juga oleh faktor iklim , serangan VOC terhadap Makassar ditunda menunggu sampai musim hujan reda.Antara tahun 1666 – 1669 selama tiga musim hujan , tidak banyak dilakukan operasi perang. Namun berkali kali VOC dapat memanfaatkan konflik yang terjadi dalam masyarakat pribumi di Makassar dengan membentuk aliansi pada salah satu pihak yang berselisih itu. Konflik intern yang terdapat pada masyarakat pribumi itu memberi keleluasaan bagi kekuasaan kolonial menjalankan politik DEVIDE ET IMPERA nya.Hal ini membuat VOC tidak hanya berhasil merebut monopoli perdagangan tetapi juga menempatkan kekuasaan politiknya.

Akhirnya dilakukan gencatan senjata pada 6 November dan penandatanganan perjanjian perdamaian dimana Goa diwakili oleh Sultan Hasanudin dan VOC oleh Speelman.

Terdapat beberapa tuntutan – tuntutan yang ada pada perjanjian itu .Seperti jaminan uang pada Kompeni , penyerahan teritoir yang direbut dalam perang , pengawasan Bima dialihkan kepada VOC , pembatasan kegiatan pelayaran orang Makassar , penutupan Makassar bagi perdagangan bangsa Eropa , peredaran mata uang Belanda di Makassar , pembebasan bea cukai bagi VOC , hak tunggal VOC menjual bahan kain dan pecah belah China , menyerahkan budak sejumlah 1500 orang , yuridiksi daerah pertahanan Ujung Pandang di tangan VOC.

Hal ini menunjukan tujuan utama VOC untuk memegang monopoli di Makassar serta memperkuat kedudukan politik , dan militernya baik di Makassar maupun di Indonesia Timur . Meskipun perjanjian perdamaian sudah ditandatangani , tidaklah sekaligus keadaan di Makassar pulih seperti sedia kala. Suasana masih diliputi ketegangan karena sikap permusuhan dan dendan belum reda , bahkan masih terdapat kelompok – kelompok yang tidak setuju dengan perjanjian tersebut. Dan bertekat untuk meneruskan perjuangan.

Yang akhirnya terjadilah penyerangan – penyerangan yang dimulai tanggal 14 juni 1669 . Yaitu penyerangan terhadap benteng yang berupa tembok tebal sekitar 3 1\2 M itu. Setelah tembok bobol di dua tempat karena tembakan meriam , ada kesempatan bagi pelopor untuk masuk ke dalam benteng . Serbuan terjadi dan daalam kekacauan , pasukan mulai menyita segala benda – benda dari dalam benteng.

Sebelum Somboapu jatuh , Sultan Hasanudin turun dari tahta diganti oleh putera pertamanya Mappasomba (Sultan Amir Hamzah) Dengan kekalahan Goa – Tallo terhapuslah kekuasaan atas kerajaan – kerajaan lain.

Selama perang Makassar , Mandar menjadi tempat pengungsian orang – orang Makassar , Wase dan daerah – daerah lain . Dari Mandar mereka masih melanjutkan permusuhan dengan orang Bugis dan VOC .

Arung Palaka yang akhirnya menjadi raja di Bone mulai menjalin hubungan baik dengan Sultan Amir Hamzah . Hal ini membangkitkan kekhawatiran pada Belanda , kalau – kalau kekuasannya menjadi terlalu besar sehingga membahayakan kedudukan VOC sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s