Perhimpunan Indonesia

Pada awal abad XX motivasi penduduk bumi putera di Hindia Belanda untuk menuntut pendidikan yang lebih baik semakin meningkat. Tidak hanya karena penerapan politik etis, tetapi juga karena semakin tumbuhnya kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi Bangsa indonesia. Adanya beberapa pemuda Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi di Eropa, terutama di belanda.Tahun 1908, jumlah mahasiswa yang menempuh pendidikan di negeri penjajah itu sudah sebanyak 23 orang. Pada tahun itu pula berdiri Indische Vereeniging.Tidak seperti Boedi Oetomo yang sekalipun didirikan pada tahun yang sama, lambat laun menjadi organisasi yang beranggotakan orang jawa saja. Meskipun pada mulanya organisasi ini juga mengarah pada hal itu namun Indische Vereniging mampu mengatasi hambatan etnosentris ini meskipun pada kenyataannya diperlukan waktu hampir satu setengah dasawarsa. Pada perkembangan selanjutnya organisasi ini mulai merambah dunia politik itandai dengan semangat anggotanya yang ingin berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Sejak saat itu organisasi mulai mempermasalahkan nama organisasi. Mereka menganggap nama India tidak cocok untuk menunjukan identitas kebangsaan yang jelas dan tegas. Akhirnya para mahasiswa menemukan nama ”Indonesia” sebagai istilah yang pas untuk mengganti kata ”India”. Nama ini mereka temukan dalam khasanah antropologi yang pada tahun 1850 diperkenalkan oleh Logan, seorang pegawai Inggris di Penang. Selanjutnya nama Indische Vereniging berganti menjadi Indonesische Vereniging atau dalam bahasa Indonesia berarti Perhimpunan Indonesia. Semula, gagasan nama indonesisch (Indonesia) diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan
itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia) (Lihat: Sejarah nama Indonesia). Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi ini berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia (PI). Majalah mereka, Hindia Poetra, kemudian juga berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. M. Hatta menjadi Voorzitter (Ketua) PI sejak awal tahun 1926, sedang sebelum itu yaitu sejak awal tahun 1924, Voorzitter PI dijabat oleh M. Nazir Datuk Pamoentjak dan Hatta sendiri menjadi pengurus urusan keuangan (penningmeester).
Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen”–Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif. Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa. PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927. Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika). Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu. Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Di sini ia mengemukakan pembelaan yang berjudul Indonesia Vrij. Karena terbukti tidak bersalah akhirnya oleh pegadilan di bebaskan. Perhimpunan Indonesia sangat berperan penting dalam menghidupkan pergerakan nasional. Dalam perkembangan selanjutnya PI menjadi perintis berdirinya PNI dengan sifat-sifatnya yang mirip dengan PI. Mempertegas tujuan perjuangan bangsa dan mempertegas corak kenasionalan Indonesia dari berbagai pergerakan nasional seperti partai Sarekat Islam, BU yang menjadi terbuka untuk seluruh bangsa Indonesia dan para pemuda yang menyelenggarakan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s