Jenis Penulisan Sejarah Lokal Berdasarkan Latar Belakang Penyusunnya

1. Sejarah lokal tradisional : contohnya hikayat.
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.
2. Sejarah lokal Dilentatis : contohnya Pramoedya Ananta Toer
seperti karyanya yang berjudul Bumi Manusia. Dalam novelnya di gambarkan kehidupan pada masa kolonial, dimana peraturan dari pemerintah kolonial lah yang berlaku. Meskipun pribumi adalah pegawai pemerintahan tetapi hukum kolonial lah yang berlaku.
3. Sejarah lokal edukatif inspiratif : contohnya Jurnal
yang diterbitkan oleh masyarakat profesi atau perguruan tinggi dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme.
4. Sejarah Lokal Kolonial : contonya History of java karya Thomas Stamford Raffles. Melalui buku ini, Raffles secara gamblang mengupas Jawa dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari keadaan geografis, informasi mengenai penduduk asli Jawa, keadaan pertanian, sistem perdagangan, kepercayaan dan upacara keagamaan, bahasa, serta berbagai hal seputar sejarah Jawa dari awal tradisi sampai kemunculan Islam yang dibawa Wali Songo yang kemudian berlanjut sampai sejarah kedatangan Inggris di pulau Jawa. Raffles juga menyinggung secara spesifik mengenai kepadatan penduduk, menurutnya pada 1915 gejala kelebihan penduduk (over population) bakal terjadi di Jawa. Raffles mencatat, pada tahun itu populasi penduduk di Pulau Jawa sebanyak 4.615.270 jiwa. Orang Jawa bagi Raffles lain dari pada yang lain. Raffles menggambarkan orang Jawa sebagai “orang pribumi yang tenang, sedikit berpetualang, cenderung tidak melakukan usaha ke luar daerahnya, dan tidak mudah terpancing untuk melakukan kekerasan atau pertumpahan darah.” Raffles memiliki asumsi sendiri untuk menggambarkan orang Jawa sebagai orang yang tidak akan menimbulkan kesulitan besar bagi penguasa kolonial yang baru, yakni Inggris. Raffles juga menceritakan bahwa pada 1814, Ia menerima laporan tentang penemuan candi besar yang tertutup oleh semak belukar di sekitar Magelang, Jawa Tengah. Ia kemudian mengutus perwiranya, H.C. Cornelius untuk mengunjungi candi besar tersebut, yang ternyata adalah borobudur.
5. Sejarah Lokal Kritis Analitis : contohnya Sartono Katodirdjo Pemberontakan Petani Banten 1888. Menurut Prof Sartono, bangsa Indonesia sebelum perang sebenarnnya memiliki etos nasionalime berupa rela berkorban. Salah satu contohnya adalah Pemberontakan Petani Banten pada tahun 1888 atau sering juga disebut dengan Geger Cilegon 1888. Peristiwa bersejarah itu menjadi bahan disertasinya: The Peasant’s Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Social Movements in Indonesia yang memperoleh cum laude dari Universitas Amsterdam, Belanda tahun 1966. Studi ini menjadi referensi gerakan sosial dan petani di Indonesia. Menurutnya penulisan disertasi bertemakan gerakan sosial─dalam hal ini dilakukan oleh para petani yang dipimpin oleh Kyai Wasid dan Jaro Kajuruan didorong oleh hasrat melancarkan protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosentris.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s