Asal mula kampung Manahan

Tidak ada nama yang turun dari langit, begitulah sering kita dengar sebutan dari para ahli bahasa. Memang nama merupakan pemberian manusia kepada sesuatu dengan tujuan tertentu. Menyelidiki nama-nama asli sesuatu tempat berarti menyelidiki asal-usul nama itu secara etimologis, secara kebahasan untuk memperoleh makna dan maksud dari pada nama tersebut.
Di dalam tradisi pemberian nama-nama tempat, kampung, desa dan sebagainya itu tiap kota memiliki tradisi sendiri. Misalnya: nama-nama perkampungan di Jakarta mendasarkan pada keadaan alam atau peristiwa sejarah masa lampau, seperti Glodhog, Rawa Bangke, Rawamangun, Pasar Senen, Pasa Rebo, Grogol, dan sebagainya. Juga Yogyakarta terdapat nama-nama perkampungan yang terdiri mengikuti tradisi yang digunakan di Solo (karena keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Kerajaan Mataram yang satu nenek moyang).
Berdasarkan tujuan tersebut, maka tentang nama-nama perkampungan di kota Surakarta Hadiningrat dapat diperinci menjadi beberapa kelompok:
a. Berdasarkan nama orang yang terkenal atau terhormat yang bertempat tinggal di tempat itu.
b. Berdasarkan nama jabatan dalam birokrasi pemerintahan tradisional kerajaan.
c. Berdasarkan keadaan setempat dari daerah tersebut.
d. Berdarsarkan kegiatan utama dari tempat tersebut.
e. Nama-nama ciptaan baru.
Perang Mangkubumen diahiri dengan diadakannya perjanjian giyanti (1755) dan Salatiga (1757). Pembangunan kota Surakarta Hadiningrat belum selesai. Selanjutnya, setelah P. Arya Mangkunegara kembali ke Surakarta, dia diberi separuh kota Surakarta bagian utara, dengan pusat rumah tinggal Patih Lebet Sindureja, yang kemudian diminta oleh Mangkunegara dijadikan Pura Mangkunegaran.
Selanjutnya kota Sala (Surakarta), sejak 1927) dibagi menjadi dua daerah kekuasaan, yaitu Kawedanan Distrik Kota Surakarta dan kawedanan Distrik kota Mangkunegaran. Kawedanan Distrik kota Surakarta dibagi menjadi onder distrik: Jebres, Pasar Kliwon, Serengan dan Laweyan. Sedang Kawedanan distrik kota Mangkunegaran kemudian dijadikan daerah Kecamatan Banjarsari dengan sedikit perubahan.

LEGENDA TERJADINYA KOTA SURAKARTA

Pada tahun 1741, konon terjadilah keributan di Kartasura, sekitar 15 kilometer dari Surakarta kearah barat. Orang orang Cina marah akibat perlakuan Belanda kepada mereka. Kekacauan itu bermula dari Batavia, Jakarta tempo doeloe, yang merembet ke Cirebon, Semarang, kota-kota lain hingga akhirnya sampai di Kartasura.
Pada waktu itu, kartasura adalah pusat pemerintahan kerajaan Mataram. Sunan Paku Buwana II bertahta memegang tampuk kendali kekuasaan. Tatkala keributan itu masih pada tahap awal, raja berpihak kepada Cina. Namun, karena desakan Belanda terus-menerus dilakukan dengan berbagai cara, bahkan lewat ancaman tersembunyi dan berbagai macam teror mental, Paku Buwono II berbalik membantu Kompeni.
“Aku sangat sedih, Patih”, kata beliau kepada Patih Pringgoloyo.
“Hamba Maklum. Tapi, jangan Paduka membiarkan diri menjadi korban kesedihan. Sebaliknya justru harus bersikap tegas, “jawab Patih.
“Bagaimana caranya aku membantu saudara-saudara kita orang Cina yang diperlakukan dengan sangat tidak senonoh oleh Kompeni?” Raja bertanya denga nada rendah sambil bertopang dagu.
“jangan membantu mereka. Itulah saran hamba”. Jawab Patih. Sebaliknya, Paduka harus membantu Kompeni. Sebab, orang-orang Belanda itulah yang akan menang…,”sambungnya.
Raja tertegun kurang paham akan nasihat Patih.
Kalau aku membantu Kompeni, dimana sifat seorang Raja yang justru harus melindungi kawulanya dari segala ancaman?” Raja diam sejenak. Lalu bertanya selanjutnya. “Apakah aku tidak akan kehilangan kewibawaanku?”
“ini bukan soal kewibawaan lagi, tetapi soal keselamatan Paduka sendiri. Apakah paduka cukup tahan berhadapan dengan ancaman-ancaman dari Kompeni dengan senjata lengkap seperti itu?” Patih Pringgoloyo balik bertanya.
Sri Sunan Paku Buwono II membayangkan betapa kuatnya pasukan Kumpeni dibandingkan dengan orang-orang Cina. Terlintas, cepat atau lambat, mereka akan dikalahkan. Jika kekalahan itu terjadi, ini akan membawa akibat buruk bagi Raja yang membela mereka. Itu alasan Raja menghentikan dukungannya.
Melihat perilaku demikian, salah seorang putranya, Raden Mas Garendi, kecewa berat dan sangat tidak suka. Ia bahkan kemudian bergabung dengan orang Cina untuk melawan Ayahnya. Karena Garendi juga menguasai sejumlah pasukan, keributan itu semakin berkobar.
Pada tanggal 30 Juni 1742, serangan dilancarkan secara besar-besaran. Tembok keraton sebelah utara berhasil diruntuhkan. Mereka menyerbu dengan membabi-buta. Dapatlah dibayangkan bagaimana kacaunya keadaan sebab tidak jauh dari tembok itu adalah tempat mempersiapkan makanan dan Keputren, tempat para putri tinggal. Jeritan-jeritan memilukan terdengar akibat ketakutan. Walaupun para pemberontak tidak memperlakukan putri-putri dengan kasar, karena keadaan sangat kacau dan tidak terkendali, banyak pula di antara mereka yag terluka oleh senjata tajam.
Pasukan keraton tidak mampu membendung serangan itu sebab, orang-orang Cina membawa petasan dan membakarnya. Gaung letusan petasan di dalam istana bagaikan sunyi senjata api. Itulah sebabnya, banyak anggota pasukan keraton lari terbirit-birit. Mereka mengira para pemberontak membawa senapan kebingungan juga melanda pasukan Kompeni.
Sementara pemberontak semakin tidak terkendali, beberapa orang putri berusaja menghadap Raja. Diantara mereka dalah Dewi Puspaningrum, Wirati, dan Retnowati. Mereka mengatakan bahwa keraton sudah ditembaki oleh para pemberontak. Kalau Raja tidak dapat melindungi, mereka akan melarikan diri.
“Kamu mau pergi kemana?” bertanya raja.
“tidak tahu. Tapi, kami sangat takut,” jawaba Puspaningrum dengan suara gemetar.
“ini malam hari. Di luar sangat gelap. Siapa yang akan mengawal kalian?”
“Apa boleh buat. Sudah banyak pasukan keraton yang melarikan diri…” jawab Wirati.
Karena keadaan semakin kacau, dengan beberapa pengawal rendah maka Sri Sunan Paku Buwono II akhirnya meloloskan diri dari keratin bersama putri-putri itu. Mereka menuju ke arah timur, masuk ke desa Magetan dan Ponorogo. Di desa ini, beliau mendirikan perkemahan sementara.
Lolosnnya Sri Sunan Paku Buwono II, membuka jalan bagi Mas Garendi untuk menduduki tahta. Kemudian, ia mengangkat dirinya sebagai Raja dengan gelar Sunan Kuning atau Sunan Kencet. Berita tentang munculnya raja baru di kerajaan Kartasura menyebar ke segala penjuru. Tidak mengherankan jika Sri Sunan Pakub Buwono II juga mendengar berita itu. Hatinya sangat masgul dan merasa sangat terpukul. Bagaimana mungkin Mas Garendi, putranya sendiri, sampai hati melakukan hal itu.
Atas desakan beberapa pengawal, dan terutama upaya yang dilakukan oleh Patih Pringgoloyo dan Kompeni, Sri Sunan Paku Buwono II diminta menyusun kekuatan untuk merebut Kartasura kembali. Penyerbuan dilakukan dengan bantuan Kompeni, yang tidak hanya memberikan dukungan tentara dan senjata, tetapi juga nasihat-nasihat untuk mempercepat menyerahnya Mas Garendi. Sri Sunan Paku Buwono II menyetujui rencana serangan balik itu, tetapi berpesan agar menjaga jangan sampai jatuh korban terlalu banyak. Sebab, Mas Garendi dan pendukungnya adalah bagian dari kelaurganya sendiri; pasukan-pasukan mereka adalah kawula Raja sendiri. Mereka itu sebenarnya bukan musuh.
Dengan gerak cepat, tahta akhirnya direbut kembali. Tidak begitu jelas bagaimana dengan nasib Mas garendi. Yang terang, ketika Sunan Paku Buwono II tiba di istana Kartasura, sang putra sudah tidak tampak.
Namun,. Kembalinya tahta dan mahkota ke tangan Sunan Paku Buwono II tidak segera membuatnya tenteram. Perasaan was was terus menghantui. Akhirnya, pada suatu malam, sunan berkenan bersamadi. Dalam keheningan malam, ia merasakan ada petunjuk dari Sang Maha Pencipta bahwa keratin memang harus pindah. Ada tiga kemungkinan desa yang dapat dipilih, yakni Kadipala, desa Sala, atau Sanasewu. Dari tiga tempat itu, desa Sala yang dipilih. Petunjuk itu juga mengatakan bahwa kelak, keadaan kerajaan akan mundur. Namun, jika keraton didirikan di desa Sala, walaupun wilayahnya kelak tinggal selebar payung terbuka, ibaratnya, akan dapat bertahan sepanjang zaman.
Pada pagi harinya, segera ditunjuklah orang-orang yang ditugasi memeriksa desa Sala. Diantara mereka adalah pangeran Wijil, Kiai Pekih Ibrahim, Tumenggung Tirtawiguna, Kiai plonthang dan dipimpin oleh Patih Pringgoloyo. Seorang tentara Belanda, Mayor Hogendor, mengajukan diri untuk mengikuti pemeriksaan desa itu. Sebenarnya, wirati tidak setuju dengan masuknya Hogendorp. Sebagai seorang wanita cerdas, ia tahu kelicikan Belanda. Akan tetapi, pada waktu itu usul dari seorang wanita kurang mendapat tanggapan layak. Apalagi Wirati masih dianggap belum cukup dewasa. Oleh Karen itu, Hogendorp tetap diikutsertakan dalam pemeriksaan desa Sala.
Ketika rombongan tiba di desa itu, mereka baru tahu mengapa desa itu disebut Sala. Adapun sebabnya, di desa itu tumbuh pepohonan yang oleh penduduk desa disebut pohon Sala. Di samping itu, desa itu dipimpin oleh seorang tetua yang disebut Kiai Ageng Sala. Tetua ini merupakan keturunan ketiga. Ayah dan kakeknya juga dikenal dengan nama Kiai Sala.
Setelah diadakan pembicaraan panjang lebar termasuk bagaimana memindahkan penduduk yang tinggal di desa itu, akhirnya untuk membuka hutan, meratakan tanah, dan membangun keraton cukup lama. Berbagai gangguan yang sering terjadi, mialnya para pekerja tiba tiba mengalami kejang-kejang. Walaupun mungkin akibat suatu penyakit biasa, pada waktu itu, peristiwa demikian dianggap akibat gangguan makhluk makhluk halus. Oleh para penasihat Raja dianjurkan untuk mengatasinya, perlu ada upacara-upacara.
Keraton akhirnya dapat didirikan dengan selamat. Pada saat peresmian, sejumlah undangan hadir, termasuk orang-orang Belanda. Sri Sunan Paku Buwono II kemudian berkenan mengatakan bahwa mulai saat itu, wilayah kekuasaan kerajaan disebut Surakarta Hadiningrat yang lebih dikenal dengan kota Sala. Nama Sala diabadikan dan ditetapkan sebuah ibukota.
ASAL MULA NAMA KAMPUNG MANAHAN
1. Menurut Legenda
Alkisah dimana pemerintahan Kerajaan Pajang tersebutlah dua orang sahabat karib, Ki Ageng Pemanahan dn Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring terkenal sebagai seorang petani pertapa sekaligus penyadab nira kelapa yang hidup di tengah pegunungan seltan, sedangkan Ki Ageng Pemanahan merupakan abdi dalem Sultan Hadiwijoyo. Dalam satu pertapaannya Ki Ageng Giring mendapatkan ‘wahyu gagak emprit’ berwujud sebuah degan dimana barang siapa meminum air degan tersebut sekali tenggak maka anak turunannya akan menjadi raja-raja besar di tanah Jawa.
Dengan pertimbangan agar sekali teguk air degan dapat habis maka Ki Ageng Giring menaruh degannya di pawon rumahnya untuk pergi ke ladang dengan maksud nanti setelah bekerja di ladang dan kehausan maka dia akan segera pulang dan menengak habis air degannya.
Tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba datanglah Ki Ageng Pemanahan mampir ingin menengok sahabat karibnya. Setibanya di depan rumah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan mendapati rumah sahabatnya kosong tanpa penghui. Ia kemudian njujuk ke pawon dan mendapati sebuah degan yang ranum di sebuah babagran pawon sahabatnya. Ia berpikir mungkin sahabatnya sengaja menyediakan degan tersebut bagi sang tamu yang kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Tanpa berpikir panjang degan tersebut kemudian diboboknya untuk kemudian ditenggaknya sekali tenggak habis.
Tak begitu lama kemudian datanglah Ki Ageng giring dari ladang. Ia langsung menuju pawon bermaksud meminum degannya. Ternyata didapati degan sudah dibobok orang dan isinya sudah habis. Ia keluar ke belakang rumah dan didapatinya sang sahabat, Ki Ageng Pemanahan sedang bersantai menikmati semilir angin di bawah waru doyong. “Adi Pemanahan? Kapan tiba di gubugku ini Di?” tanyanya. “Baru saja Kakang, aku sekedar mampir setelah menengok Alas Mentaok atas perintah Kanjeng Sultan”, jawab Ki Ageng Pemanahan. “Dan Kakang, karena perjalanan jauh yang telah kutempuh tadi aku langsung tadi aku langsung njujug di pawon dan meminum degan yang ada di babagran milik Kakang, aku mohon maaf sebelumnya Kakang” lanjut Pemanahan.
“Ketiwasan Adi!”, sergah Ki Ageng Giring dengan nada lemas dan kecewa berat. “Sebenarnya Adi, degan tersebut merupakan wahyu yang telah aku upadi dengan tapa brata yang sulit untuk mendapatkan kemuliaan bagi anak cucuku kelak di kemudian hari”, ia menegaskan. Ia kemudian menceritakan mengenai ‘wahyu gagak emprit’ yang diperolehnya berwujud degan tersebut. Dengan besar hati akhirnya ia berkata, “Adi, barangkali ini semua memang sudah menjadi titah Gusti, sehingga aku harus rela anak cucumulah kelak yang akan menjadi penguasa tanah Jawa ini. Namun Adi, apabila engkau tidak berkeberatan izinkan juga anak cucuku setelah keturunan ke tujuh darimu juga ikut nunut mukti.”
Pemanahan kemudian menjawab, ”Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemudian anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa.”
Pemanahan kemudian menjawab, “Aduh Kakang beribu ampun aku minta maaf, karena ketidaktahuanku aku menjadi penghalang kemuliaan anak cucumu, tapi barangkali ini memang sudah ginarising pepesthen, namun demikian aku rela dengan permintaan Kakang agar setelah keturunanku yang ke tujuh nanti anak cucu Kakang ikut mukti wibawa. Dah untuk itu Kakang, apabila kita kelak mempunyai anak kuusulkan agar kita berbesanan sebagai jalan tengah”. Akhirnya kedua sahabat tersebut bersepakat.
Kelak di kemudian hari terbuktilah oleh sejarah, Senopati atau Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan berhasil menjadi raja Mataram pertama setelah keruntuhan Kerajaan Pajang. Dan setelah tujuh generasi, melalui Pangeran Puger yang kemudian bergelar Susuhunan Paku Buwono I, kekuasaan berganti jalur setelah pusat pemerintahan baru berpindah ke Kartasura.
2. Menurut Sumber Sejarah
LISAN
Menurut sumber lisan dari para tetua di kampung Manahan. Manahan merupakan suatu lapangan milik dari Mangunegaran yang dahulunya sebagai tempat memanah. Yaitu tempat untuk latihan memanah para kaum bangsawan. Nama Manahan diambil dari pemilik tanah aslinya yaitu Ki Ageng Pemanahan seorang pengawal raja Kerajaan Pajang. Daerah ini termasuk dalam kawasan Mangkunegaran. Selain itu juga Manahan digunakan sebagai tempat latihan pacuan kuda pada saat itu.
Dan menurut para tetua banyak dari penduduk Manahan sudah tidak penduduk asli lagi, yaitu kebanyakan adalah pendatang dari etnis cina dan arab sedangkan penduduk asli kebanyakan sudah berpindah lebih ke pinggir kota dikarenakan faktor ekonomi. Dimana daerah manahan itu adalah daerah yang sangat strategis dan sangat banyak peminat dari orang-orang kaya maupun pengusaha yang ingin mendirikan usahanya di sana. Maka dari itu banyak rumah-rumah di sana sudah di beli oleh pengusaha dan dialih fungsikan menjadi tempat usaha. Para etnis cina dan arab pun tidak mau ketinggalan dan mereka juga berusaha membeli rumah di Manahan. Dan bisa dilihat pula yang tinggal disana mayoritas warga pribumi pun jarang. Sekarang pun sudah banyak rumah-rumah mewah berdiri di sana.
Menurut para tetua ini mengakibatkan tradisi turun temurun yang selalu diselenggarakan para warga pada waktu sebelum maupun pada waktu lebaran, yaitu pada waktu sebelum puasa (ruwahan) membuat kue srabi dan dikirim ke tetangga begitupun sebaliknya dan juga membuat kue srabi, teh, kopi, air putih, kembang telon di taruh di mangkuk di beri air, pisang raja, jenang merah dan jenang putih dan diletakkan di rumah biasanya diletakkan di ruang tamu. Dan pada waktu lebaran yaitu halal bihalal bersama sekarang sudah sangat jarang dilakukan. Hal ini mengakibatkan hubungan kekerabatan yang erat terjadi di antara warga sudah tidak terjadi lagi.
TERTULIS
Manahan, dulu tanah milik Ki Ageng Pemanahan
Manahan merupakan salah satu kawasan di kota Solo yang cukup terkenal karena adanya stadion olahraga bertaraf nasional. Di stadion tersebut pernah berlangsung berbagai pertandingan olahraga tingkat nasional. Yang paling terkenal tentu sepakbola.
Namun, mungkin tidak banyak orang yang tahu secara detil mengapa daerah tersebut diberi nama Manahan. Kebanyakan orang mungkin hanya tahu dari asal katanya yaitu Manahan, yang kemudian dikaitkan dengan salah satu cabang olahraga yaitu memanah. Mereka mungkin berpendapat tempat itu dulunya adalah tempat utuk olahraga panahan.
Pendapat itu tidak salah, karena itu dulunya, pada masa pemerintahan Mangkunegara VII, memang digunakan para prajurit kraton Mangkunegaran untuk berlatih panahan.
Namun, kalau ditelusuri lebih jauh, pemberian nama Manahan ternyata masih ada kaitannya dengan pemilik tanah tersebut yaitu Ki Ageng Pemanahan. Daerah yang sekarang disebut Manahan dulunya adalah tanah milik Ki Ageng Pemanahan, salah seorang pengawal raja Kerajaan Pajang. “Waktu itu Sultan Pajang, Hadiwijoyo memberika hadiah kepada semua pengawal dan penasihat setianya termasuk Ki Ageng Pemanahan, yang mendapatkan tanah yang sekarang disebut Manahan,” Tanah tersebut, tidak ditempati sehingga ketika Pakubuwono II mulai memerintah di Solo (17 Februari 1745) daerah tersebut menjadi hutan dan rawa-rawa.
Kondisi tersebut berlangsung hingga daerah itu berada di bawah kekuasaan Mangkunegara I, sekitar 15 tahun kemudian. Baru pada masa pemerintahan Mangkunegara VII dan Pakubuwono X, daerah itu mulai mengalami perubahan. Ketika Belanda ingin mengembangkan Solo sebagai daerah perkotaan dengan segala atributnya seperti stasiun kereta api, drainase, sanitasi, dan sebagainya. Salah satu yag dibangun adalah Stasiun Balapan yang memakai tempat pacuan kuda milik Istana Mangkunegaran. “Karena tempat pacuan kudanya dipakai untuk membangun stasiun, Istana Mangkunegaran kemudian meminta tanah milik Ki ageng Pemanahan sabagai gantinya. Belanda memenuhinya dengan meminta tanah tersebut dari Kasunanan, dan menyerahkannya kepada Istana Mangkunegaran,”. Pihak Istana Mangkunegaran, kemudian membangun sarana olahraga yang meliputi lapangan sepakbola, tempat pacuan kuda, dan tempat latihan panahan. Dengan demikian, asal-usul Manahan tidak hanya terkait fungsi tempat tersebut sebagai tempat latihan panahan, melainkan masih ada kaitan dengan nama pemiliknya, yaitu Ki Ageng Serang.
UMBUL DI MANAHAN
Di sebelah barat kota kira-kira satu setengah Pal jauhnya dari pura terdapat salah satu umbul petilasan kina bernama umbul Manahan. Disebabkan daerah tersebut bernama manahan.
Sebelah selatan umbul tersebut terdapat tempat peristirahatan besar dan bertingkat terbuat dari tembok kecariyos kanjeng Gusti yang ketiga.
Pada jaman Kanjeng Gusti yang keempat. Umbul manahan tersebut sangat ramai dan terkenal bagi masyarakat dalam negeri. Setiap malam jumat, hari jumat siang. Dan hari yang baik pasti banyak orang laki-laki dan perempuan untuk mandi, berdoa atau bertepi dengan membawa sesajian tetapi banyak juga hanya untuk berwisata saja, karena pada saat itu tempat tersebut seperti kebun aatau Sriwedari belum ada.
Mereka yang berdatangan tidak hanya orang Mangkunegaran saja dari bawah kasunanan juga banyak yang memerlukan untuk datang. Tetapi pra leluhur para orang tua juga datang ke pesanggrahan manaha, mendekati hari padusan. Disitu terdapat arca, salah satu Batu perempuan yang diberi nama mbok Rara Item.
Kebanyakan orang yang mandi tersebut memberikan oleh-oleh, sebanyak 2 uang (uang lama) setiap satu orang.
Sesudah jaman Kanjeng Gusti yang keempat Umbul Manahan tersebut sudah tidak terkenal lagi disebabkan karena tempat peristirahatan tersebut sudah rusak dan tua. Juga disusul dengan jadinya kebon Raja atau taman Sriwedari.
Pada masa Kanjeng Gusti yang ketujuh sebelah barat umbul dibangun padusan Balekambang yang bernama tirtoyoso, orang yang masuk Balekambang dan mandi di Padusan tersebut dipungut biaya.

PERTAPAAN KEMBANG LAMPIR
Kembang lampir merupakan petilasan Ki Ageng Pemanahan yang terletak di Desa Girisekar, kecamatan Panggang, kabupaten Gunung Kidul. Tempat ini merupakan pertapaa Ki Ageng Pemanahan ketika mencari wahyu Keraton Mataram. Ki Ageng Pemanahan merupakan keturunan Brawijaya V dari kerajaan Mahapahit. Dalam bertapa itu akhirnya ia mendapat petunjuk dari Sunan Kalijaga bahwa wahyu Keraton berada di Disun Giring, desa Sodo, kecamatan Paliyan, Gunung Kidul. Untuk itu ia diperintahkan oleh Sunan Kalijga untuk cepat-cepat pergi ke sana. Sampai di Sodo ia singgah ke rumah kerabatnya, Ki Ageng Giring.
Diceritakan bahwa ditempat itu Ki Ageng Giring dan Pemanahan “berebut” wahyu keraton yang disimbolkan dalam bentuk dengan (kelapa muda). Barangsiapa meminum air degan itu sampai habis, maka anak keturunannya akan menjadi raja Tanah Jawa. Konon degan tersebut merupakan simbol persetubuhan dengan seorang puteri. Dalam perebutan wahyu tersebut Ki Ageng Pemanahan yang berhasil memenangkannya

TOKOH YANG MELATARBELAKANGI
KI AGENG PEMANAHAN
Sultan Pajang setelah memberikan tanah hadiah bumi mentaok kepada ki Gede Pemanahan yag disaksikan Kanjeng Sultan Kalijogo mengambil simpatik dari Ki Gede Pemanahan agar tidak menurunkan kewibawaan di negeri Pajang, jawaban dari Ki Gede: Kanjeng sultan tidak akan menurunkan kewibawaan anda saya hanya hanya ingin mematuhi perintah anda kecuali bila ada (gaib) pangeran yang saya tidak (kuwawa mbirat) sejak dari kodrat Tuhan yang maha Esa di dalam hati mendengarkan suara getar, Kanjeng sultan tercapai memberikan hadiah dan diterima oleh Ki Gede Pemanahan dan mengucapkan banyak banyak terimakasih. Kanjeng Sunan Kalijga setelah tercapai bumi mentao diberikan, lalu pamit untuk pulang sekedipan mata sudah tidak terlihat, lalu Kanjeng Sultan pulang ke dalam pura, Ki Gede Pemanahan sudah menerima lalu pindahan ke Mataram Ki juru mertani dan tidak ketinggalan (jumurung) perginya Ki Gede Pemanahan istri anak dan abdi banyak yang ikut pindah ke Mataram. Putra Ki Gede Pemanahan yang pertama bernama Ngabei Loring Pasar diambil putra Kanjeng Sultan Pajang, putra yang kedua bernama raden jambu, raden santri pandhadha, raden tumpe, raden kadawung, dan ada yang dapat penghargaan tumenggung mayang, lalu yang bungsu bernama raden haryadhadhaptulis. Lima putra tersebut ikut ayahnya pindah ke Mataram. Dahulunya putra-putra Pemanahan susah untuk meninggalkan putra Kanjeng Sultan Pajang seperti pangeran dipati benowo dan para adiknya terlebih ngabehi dan dian dipati benowo berpelukan. Mereka bersedih dan sayang terhadap ngabehi sudah menjadi saudara tunggal ayah ibu.
Selanjutnya Ki Gede Pemanahan memakai sebutan Ki Ageng Mataram, saran dari Ki Ageng terhadap anak-anak perempuannya biar patuh terhadap pra suaminya, semua itu tingkah Ki Ageng sama (rereyongan) dan menyuruh untuk mendahului, suami putri mereka yang ikut naik tandu. Sedangkan Ki Ageng naik kuda karena banyaknya bawaan yang banyak maka perjalanannya sebentar-sebentar istirahat. Perginya Ki Ageng lewat pengging istirahat antara lima belas hari. Ki Ageng di pengging sekalian tabur bunga ke makam leluhurnya. Ki Ageng kejatuhan “lailatul qadar” paginya meneruskan perjalannya sampai di desa taji. Ki Ageng Pemanahan istirahat di desa taji. Mampir di rumah tetau desa taji yang bernama Ki Ageng karang elo, selain itu orang yang mengantar Ki Ageng semua istirahat, di ruang tamu Ki Ageng Pemanahan sekeluarga makan dengan lauk pecel ayam, sayur menir, dan sambal kluwak. Dia makan dan para putra menerima hidangan tadi mengingat sewaktu perkatan Ki Ageng Pemanahan: “Ki Ageng sesungguhnya memberika hidangan segar agar orang berterimakasih semoga dibalas oleh Allah SWT. Ki Ageng Karang Lo: meminta saudara agar memakan hidangan dari istrinya apabila sudah kenyang semua dan para pengikutnya. Yang menjawab Nyi Ageng Pemanahan. Sudah kyai, saya berterima kasih kepada Nyai dan Kyai karena sudah menyambut saya beserta pengikut Kyai geng Karang Lo. Nyai hanya ini yang bisa saya hidangkan secukupnya.
Setelah sekian waktu istirahat Ki Ageng Pemanahan pamit: sudah Ki saya akan melanjutkan ke Mataram saya berterma kasih kepad Ki Ageng sekelurga. Jawaban dari Ki Ageng Karang Lo: terimakasih semoga perjalanan anda menemui keselamatan dan dijauhi halangan atau cobaan. Ki Ageng Pemanahan memberikan jawaban: “saya minta restudari Ki Ageng, syukur nanti kalo pergi tersesat semoga mampir ke rumah saya”. Ki Ageng Karang Lo menjawab insya Allah kalau diberikan waktu. Dan Ki Ageng mengantarkan sampai di sungai opak.
Perginya Ki Ageng Pemanahan dan para pengikutnya setelah sampai di sungai opak bertemu Kanjeng Sunan Kalijaga yang sedang mandi. Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Karang Lo membasuh tangan kanan Ki Ageng Pemanahan sedangkan tangan kiri Ki Ageng Lo yang membasuh. Kanjeng Sunan bicara Karang Lo ikutlah hilang dan keturunanmu setelah Kanjeng Sunan Kalijaga bicara lalu bilang tanpa bekas. Ki Ageng berdua menghaturkan syukurnya karena mereka dapat bertemu dengan sang buruh. Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Karang Lo berpisah dengan salaman, Ki Ageng Karang Lo pulang sedangkan Ki Ageng Pemanahan melanjutkan perjalanan. Tidak diceritakan selengkapnya, nantinya Ki Ageng Pemanahan dan para pengikutnya telah hilang dari pasanggrahan yang ditempati, di kanan kirinya terlihat hutan yang sangat lebat.
Ganti yang menceritakan sejarahnya dari awal Ki Ageng Tarub, mempunyai anak Nyi Ageng Nyerang mempunyai anak Ki Ageng kurma lalu mempunyai anak namanya Ki Ageng Puhan sedangkan Ki Ageng Puhan mempunyai dua orang anak. Yang tua bernama Ki Ageng warung adiknya bernama Ki Ageng Karang Lo yang bertempat tinggal di desa taji di awali babad bumi mentao. Ki Ageng Pemanahan tempatnya babad setelah menjadi banyak dibubukan: ikut didukung lalu mendirikan pasar saengga kasusra, juru mertani nantinya sudah ditempati pemanahan sedangkan keluarga Ki juru mertani. Dahulu Ki Ageng Pemanahan menghadap kula wangsa Ki Ageng berbicara keinginan saya untuk menghadap Pajang dan akan memastikan apabila Kanjeng Sultan jadi mengunjungi Giripura.
Sebenarnya di Pajang Kanjeng Sultan Hadiwijya sudah pergi, Ki Ageng Pemanahan menyusul ke Giri purwa yang dihadiri brang wetan dan para siswa setelah semua belajar kemudian sungkem dan semua duduk menata duduknya Kanjeng Sunan Giri bicara putra-putraku dan cucu-cucuku nanti saya akan menetapkan keraton Pjang. Menjawablah terhadap para sentana dikeraton semoga rukun dalam persaudaraan jangan sampai mendahului dan membuat mendadak itu saya tidak mengamingi. Semua yag hadir mendengarkan perintah dari guru dan menjawab berbicara lagi: lebih-lebih saling bertengkar, suka musyawarah apabila ada masalah, “murih dan menjalin kekerabatan”.
Setelah habis (dawuh) yang telah diberika kepada para tamu. Kanjeng Sunan Giri minta keterangan kepada Sultan Pajang: adi sultan Pajang siapa yang memberikan perintah untuk kesini? Kanjeng sultan menjawab; ini abdi dalem saya di Mataram yaitu kakang mas Pemanahan. Sunan Giri bicara lagi: ya disuruh duduk bersama para adipati mengertilah kaki di besok yang bangkit menurunkan raja-raja besar di Mataram. Setelah Ki Ageng Pemanahan mendapat perintah untuk duduk bersama setelah memberikan sungkem dan mengucapkan Ponang dhuwung dua kali. Yang pertama kepada Sunan Giri seraya mengatakan putraku para adipati semua saksikan kalamun di tanah Mataram nanti tanah Jawa akan berada di kaki Pemanahan. Para adipati pada mendengarkan perkatannya Kanjeng Sunan Giri kepada para siswanya. Knajeng Sunan Giri memerintahkan lagi “para anak cucuku biasakan mandi”. Para adipati harus kerja keras. Kira-kira sebentar sja harus jadi, airnya bersih sekali dapat disebut telaga patut. Sehabis memerintah Kanjeng Sunan Giri kepada para adipati dan para siswa bubar. Njeng Sultan Pajang dan Ki Ageng Pemanahan pulang dari mertamu. Kanjeng Sultan Pajang pulang setelah itu para bupati menghadap Kanjeng Sultan. Ki Patih Mencanegara juga sudah datang. Pada saati itu sultan Pajang membicarakan riwayat njeng Sunan Giri sebenarnya parepatan agung. Kakak Pemanahan datang besok pasti memutar bumi dan para adipati yang mendengarkan sangat kagum. Ki patih semakin kaget pangeran Benawa juga mengatakan apabila begitu sebelum terjadi, harus dapat mengambil kebijaksanaan agar tidak menjadikan sabda eyang Sunan Giri. Njeng Sultan setelah itu berbicara: kaki saya takut akan eyang karena perkataannya itu menegaskan bahwa itu merupakan penetapan dari Allah. Jadi bukan kehendak eyang pribadi. Jadi ayah tidak berani mengambil kebijaksanaan yang meneliti merunut sabda dari sang buruh, pangeran benawa dan para adipati akan meneliti merunut sabda dari sang buruh, pangeran benawa dan para dipati akan berbicara juga ragu-ragu, untuk menggantikan kekecewaan. Cerita Ki Ageng Mataram ya Ki Ageng Pemanahan setelah tinggal di Mataram. Yang di bicarakan Ki juru metani serta berbicara: kakang sewaktu saya di giripura telah terbaca oleh Knajeng Sunan Giri menurunkan ratu. Ki Juru mendengar ikut suka serta menghaturkan syukur kepada Allah semoga mengabulkan hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Bakdi Soemanto. 1997. Cerita Rakyat dari Surakarta 2. Jakarta: PT. Grasindo.
Radjiman. 1984. Sejarah Mataram Kartasura sampai Surakarta Hadiningrat. Surakarta: Penerbit dan Toko Buku Krida.
RM. Said. 1984. Babad Sala. Mangkunegoro: Rekso Pustoko.
Pusdok Solo Pos. Oktober 2007.
Taufik Abdullah. 1990. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s