Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967

Kesaksian tentang Bung Karno
1945-1967
Oleh H. Mangil Martowidjojo

Pengalaman Mangil Martowidjojo, bersama sejumlah polisi rekannya merupakan suatu kisah yang menarik. Di mana dia bersama teman-temannya menjadi pengawal pribadi Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.
Tugas mengawal presiden yang dilakukan oleh Mangil pertama kali pada 17 Agustus 1945 ketika Bung Karno bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan penugasan yang dilakukan Mangil sampai pada 16 Agustus 1967. Ketika seiringnya dengan bergantinya zaman. Lengser atau lebih tepatnya di lengserkan nya Bung Karno dari kursi kekuasaan. Mangil selalu berada di sisi Bung Karno selama 22 tahun dan ia bukan hanya menyaksikan tetapi sekaligus juga menghayati seluruh pengalaman Bung Karno, sejak dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Mengalami puncak kejayaannya hingga sampai pada saat kejatuhannya.
Mangil juga selalu menemani Bung Karno ketika terpaksa hijrah dari Jakarta menuju ke Jogjakarta. Dan juga menghadapi berbagai macam kudeta dari berbagai macam faktor dan ketidakpuasan para eks pejuang. Seperti contoh ini adalah pejuang revolusioner sosialis pimpinan Jendral Soedarsono, dalam peristiwa 3 juli 1946 yang ingin membunuh Presiden namun gagal, banyak tokoh yang terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946 antara lain :
1. Jendral Soedarsono, komandan divisi III
2. Achmad Soebardjo
3. Iwa Kusumasumantri
4. Sukarni
5. Chaerul Saleh
6. Sajuti Melik/Trimurti
7. Dr. Buntaran
8. Mohammad Yamin
9. Tan Malaka sebagai pemimpinnya
Mangil juga berdiri di samping Presiden ketika Istana Presiden di Jogjakarta diserbu oleh pasukan kolonel Van Langen dalam agresi militer Belanda yang kedua tanggal 19 desember 1948. Di mana aksi tersebut dinamai oleh Belanda sebagai aksi polisi atau politionele actie,dan oleh Bung Karno sebagai aksi militer. Di mana Belanda menyerang ibu kota negara yaitu Jogjakarta pada waktu itu, pada pagi hari dengan merebut pangkalan udara maguwo sebagai permulaanya lalu pasukan Belanda yaitu KL dan KNIL memasuki kota Jogjakarta melalui darat. Dan pada akhirnya Belanda dapat menawan Bung Karno beserta Mangil dan anak buahnya, sedangkan Jendral Soedirman mendapat mandat dari Presiden untuk melanjutkan pertempuran dengan cara gerilya dan Pemerintahan darurat didirikan di Sumatera. Pimpinan pun diserakan kepada Syafrudin Prawiranegara.
Namun pada akhirnya kemenangan pun dapat diraih dengan perundingan-perundingan yang dilakukan di dunia Internasional dan keluarlah perundingan Konfrensi Meja Bundar atau KMB yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia di dunia Internasional. Dan Bung Karno pun kembali ke Istana Negara di Jakarta pada akhir Desember 1949.
Mangil pula yang berada pada sisi Bung Karno ketika terjadi peristiwa Cikini pada 30 November 1957 di sekolah yayasan Cikini di mana putra – putri Bung Karno bersekolah. Dimana dilakukan lima lemparan granat yang hampir mengenai Presiden. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh Organisasi Gerakan Anti Komunis yang diketuai oleh Saleh Ibrahim. Gerakan ini tumbuh karena menganggap Presiden Soekarno sebagai pelindung Partai Komunis Indonesia sehingga Komunisme dapat berkembang dengan subur di Indonesia. Tokoh –tokoh dalam peristiwa cikini :
1. Joesoef Ismail
2. Saadon bin Muchamad
3. Tasrip bin Husein
4. Muchamad Tasim bin Abubakar
Pernah juga ketika sebuah pesawat Mig 17 AURI membuat kalang kabut Mangil dan anak buahnya karena melakukan penembakan di Istana Merdeka yang dilakukan oleh Letnan II Daniel Alexander Maukar pada tanggal 9 Maret 1960.
Mangil pun selalu menemani Bung Karno di manapun semisal di makassar dan pernah terjadi percobaan pembunuhan di sana oleh RPKAD REV ( Resimen Pertempuran Koordinator Angkatan Darat Revolusioner) yang bertujuan menentang pemerintahan yang sah dan meneruskan perjuangan Republik Persatuan Indonesia (RPI) untuk menghancurkan atau membatasi gerakan Komunis di Indonesia. Mereka berusaha membunuh Bung Karno dengan cara pelemparan granat, tetapi aksi tersebut tidak berhasil dan hanya membuat kerusakan di mobil Bung Karno dan beberapa rakyat menjadi korban. Beberapa pelakunya adalah :
1. Jan Pieter Korompis
2. Welly Trouwerbach
3. Lukas Hukom
4. Bagus Suja Tanaja
5. Alex Alfonsusratu
6. Marcus Octavianus Latupeirisia
7. Syamsudin
8. Sutar
9. Paulus
10. Maera Tapposubarang
11. Arsyad
Mangil pun berada di dekat Bung Karno waktu terjadi penembakan terhadap Bung Karno pada waktu perayaan Idul Adha. Di mana Bung Karno pada waktu itu di tembak dari jarak dekat tetapi tidak satu pun peluru mengenai beliau. Aksi ini dilakukan oleh anggata Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo yang menginginkan berdirinya negara Islam Indonesia.Para pelaku penembakan adalah:
1. Uci Sacusi Fikrat
2. Harun bin Karta
3. Hidayat bin Mustofa
4. Jahaman bin Mahadi
5. Hambali bin Tajudi
6. Pi’i bin Dachroji
7. Dacja bin Candra
8. Nurdin bin Satebi
Pengalaman Mangil pun tidak hanya pada hari-hari buruk saja tetapi juga pada saat kejayaan Internasional di mana Bung Karno menggebrak dunia Internasional dengan pidato terkenal berjudul To Build The World a New pada sidang umum PBB XV di New York, AS.
Mangil pun pernah menjadi saksi ketika Bung Karno menikah dengan hartini di Istana Cipanas. Dan salah satu kisah percintaan Bung Karno yang mungkin saja paling dramatis dimulai saat Bung Karno bersama Hartini terpaksa masih harus melakukan backstreet karena pada waktu itu Hartini masih terikat perkawinan dengan Soewondo. Dan sampai dengan menikah dan ini mereka harus berani menhadapi badai kecaman, tantangan dan bahkan demonstrasi dari sejumlah massa ormas wanita yang tetap menentang perkawinan mereka. Sampai kemudian setapak demi setapak keberadaan Hartini di Istana Bogor dapat diterima oleh masyarakat luas. Dan lebih penting lagi dapat diterima oleh anak-anak Bung Karno dari hasil perkawinanya dengan Fatmawati.
Menurut Mangil ada dua hal yang membanggakan Mangil ketika bertugas untuk mengawal Bung Karno, yakni ketika dia mendampingi Bung Karno pada tanggal 1 Oktober 1965 dan pada tanggal 11 Maret 1966.
Peristiwa pertama yaitu pada tanggal 1 Oktober 1965 atau lebih dikenal dengan gerakan 30S ini yaitu dimana terjadi sergapan dari angkatan darat resimen Dharma putra kostrad asal Diponegero dan Brawijaya yang dipimpin oleh Jendral Supardjo membangkang dan ingin melaporkan keberhasilan mereka dalam menertibkan para Jendral “pembangakang” serta me lurus kan kembali menurut anggapan mereka jalannya Revolusi kepada Presiden. Dimana pada waktu itu Istana Negara telah dikepung oleh pasukan kostrad dan Mangil melarikan Bung Karno yang pada waktu itu tidak berada di Istana negara menuju ke pangkalan Halim perdanakusuma.
Dan peristiwa kedua adalah pada tanggal 11 Maret 1966 dimana pada saat itu lahirnya Supersemar yang hingga saat ini masih menjadi misteri. Dan dimana pada saat itu juga sedang terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa dan Bung Karno pada waktu itu diungsikan ke Istana Bogor pada 10 Maret 1966 dan keesokan harinya menuju ke Istana Presiden di Jakarta. Dan di sekitar monas banyak pasukan liar dan setelah diselidiki ternyata pasukan RPKAD.dan Presiden tiba di Istana Negara dengan selamat dan setelah mengikuti sidang kabinet Bung Karno menuju kembali ke Istana Bogor. Ketika sudah di Istana Bogor ada beberapa tamu yang menemui Bung Karno yaitu :
1. Soebandrio
2. Chaerul Saleh
3. Jendral Basuki Rahmat
4. Jendral M Jusuf
5. Jendral Amirmachmud
6. Brigjen Sabur
Dan tidak diketahui apa yang dilakukan mereka di dalam paviliun tamu bersama Bung Karno, yang diketahui Mangil adalah Sabur pada waktu itu mengetik sesuatu dan keesokan harinya muncul Supersemar.
Dan sejak 17 Agustus 1967 Mangil tidak pernah bertemu dengan Bung Karno karena Mangil telah dipindahkan dan digantikan CPM Norman Sasono., Komandan Satgas Pomad (Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat)
Mangil pun pernah dipenjara selama tiga tahun di kamp tahanan militer karena disangka terlibat dengan gerakan 30S dan pada akhirnya Mangil dibebaskan karena tidak ada bukti dia terlibat dalam gerakan tersebut dan Mangil pun menyesal karena tidak dapat menemani Bung Karno pada saat-saat terakhirnya karena dia pada saat itu masih dipenjara.

Komentar

Menurut saya buku ini bagus di mana Mangil selaku kepala pengamanan presiden memberikan pegalaman-pengalamannya bersama presiden Soekarno. Di mana ada ungkapan tak kenal maka tak sayang, tak dekat maka tak cinta. Di sinilah Mangil menceritakan kedekatannya dengan Soekarno dan juga keseharian Soekarno pada masa setelah proklamasi dan menjelang kejatuhannya. Ada cerita bahagia, lelucon, dan kesedihan yang dilakukan Mangil selama masa pengabdiannya kepada Soekarno. Disini pula Mangil menjelaskan tentang kehidupan Soekarno yang kadang ada lika liku dan juga Soekarno yang senang dengan kedisiplinan dan kebersihan. Mangil menceritakan pula tentang perjuangan-perjuangan Soekarno dalam melawan penjajahan Belanda dengan cara berdiplomasi dengan negara-negara Internasional agar bangsa Indonesia bisa lepas dari penjajahan Belanda serta Mangil menceritakan tentang kudeta-kudeta yang terjadi selama Soekarno menjabat Presiden Republik Indonesia di mana banyak terjadi pro dan kontra pada waktu itu dan puncaknya pada gerakan 30 September yang mengakibatkan kejatuhan Soekarno karena dianggap melindungi PKI yang dianggap mendalangi gerakan tersebut.
Dalam buku ini adalah dimana Mangil dapat memberikan keterangan yang detail tentang kegiatan-kegiatan Soekarno setiap hari, juga keputusan-keputusan pada saat genting dan candaan-candaan serta gurauan-gurauan Soekarno terhadap anak buahnya yang masih dia ingat.
Meskipun begitu Mangil masih banyak menggunakan cerita dari sudut pandang Mangil sendiri dan tidak mengikut sertakan cerita dari anak buahnya pada waktu itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s