MANGKUNEGARA IV

MANGKUNEGARA IV SEBAGAI PENGUSAHA SUKSES PADA ZAMANNYA

Biografi Mangkunegara IV

Nama kecil Mangkunegara IV adalah Raden Mas Sudiro. Ia putra dari Kanjeng Pangeran Haryo Hadiwijaya I dengan Raden Ajeng Sekeli (Putri Mangkunegara II), sehingga R.M. Sudiro adalah cucu Mangkunegara II. R.M. Sudiro lahir pada hari ahad, tanggal 3 Maret 1811 (Senin Pahing, 8 Sapar 1738 tahun Jawa Jimakir, Windu Sancaya) di Surakarta. Sejak masih bayi beliau diangkat sebagai putera angkat kakeknya yaitu Mangkunegara II. R.M. Sudiro, sejak kecil tidak memperoleh pendidikan formal ,tetapi Sejak masih anak-anak Sudira sudah dikenal kepandaian dan kecerdasannya. Pada waktu itu belum ada pendidikan formal di Surakarta. Sehingga Ia hanya memperoleh pendidikan secara privat dengan mendatangkan guru. R.M. Sudiro mendapatkan pendidikan dari orang-orang Belanda yang di datangkan Mangkunegara II yang juga untuk mengajar K.P. Riya calon putra mahkota. Selain guru dari Belanda, Mangkunegara II juga mengajari R.M. Sudiro secara langsung yaitu ilmu kanuragan. Setelah berusia 10 tahun, R.M. Sudiro diserahkan kepada K.P. Riya untuk melanjutkan pendidikannya dan diangkat sebagai putra angkatnya.
Pengeran Riya diserahi tugas untuk membimbing Pangeran Sudiro mengenai membaca, menulis dan berbagai cabang kesenian dan kebudayaan serta kawruh lainnya. Selama lima tahun penuh Pangeran Sudiro belajar dengan tekun dibawah bimbingan Pangeran Riya. Selain itu Pangeran Sudiro juga belajar mengenai agama, beliau sangat tertarik mempelajarinya. Ia lalu berguru dengan para ulama samapai mengenai aturan ibadah haji. Namun belum selesai menuntut pelajaran agama beliau dipanggil untuk mengabdi kepada pemerintah, meskipun begitu beliau selalu berusaha untuk tidak meninggalkan ibadahnya.
Pada usia 15 tahun, Pangeran Sudiro dimasukkan ke pendidikan Kadet. Pendidikan Kadet Legioen Mangkunegara berbeda dengan pendidikan kadet tentara Hindia Belanda. Pendidikan Kadet Legioen Mangkunegaran, khususnya bagi para putra bangsawan, ternyata hanya satu tahun. Beliau lulus pada tahun 1826 dan diangkat menjadi perwira baru dengan pangkat Letnan dan gajinya ƒ50. Saat terjadi Perang Jawa atau Perang Dipanegara, Legioen Mangkunegaran terlibat aktif membantu Pemerintah Belanda. Dalam peperangan itu, Pangeran Sudiro menunjukkan kecakapannya dan beberapa kali kompi yang dipimpinnya memperoleh kemenangan. Pada tahun 1827 dalam rangka konsolidasi Legioen Mangkunegaran memasuki kota Yogyakarta dan Belanda dalam strateginya mulai menerapakan beteng stelsel. Dengan strategi itu, pada tahun 1928 ada titik balik dalam medan peperangan. Pasukan Pangeran Dipanegara mulai tertekan dan mengalami kekalahan di berbagai pertempuran. R.M. Sudiro pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten menggantikan kakaknya yang diangkat menjadi mayor.
Setelah perang, ternyata perlakuan Belanda terhadap Kasunanan dan Mangkunegaran berbeda, kalau kepada Mangkunegaran, Belanda memberikan imbalan dengan menyerahkan tanah seluas 500 karya, justru sebaliknya kepada pihak Kasunanan, Belanda meminta agar Kasunanan menyerahkan daerah Mancanegaranya dan akan mengganti dengan sejumlah uang.
Pada tahun 1833, R.M. Sudiro menikah dengan putrid Pangeran Surya Mataram dan namanya diganti menjadi R.M. Gandakusuma. Pada tahun 1836 dengan penarikannya dari Legioen Mangkunegaran, R.M. Gandakusuma diangkat menjadi Patih Jero, yang bertugas melayani tata pemerintahan di dalam dan sekaligus menjadi pembantu terdekat Mangkunegaran III.
Pada tahun 1853, sesaat setelah Mangkunegaran III mangkat belum ditunjuk putra mahkota. Oleh sebab itu sesuai bunyi acta van verband untuk sementara Residen Surakarta mengambil alih kekuasaan Mangkunegaran sampai terpilihnya Penguasa baru. Hampir 3 bulan, Residen Surakarta H.R. Buschens memegang kendali Mangkunegaran. Baru pada tanggal 7 Maret 1853, Residen Surakarta menerima kakancil dari Gubernemen yang menunjuk P.A. Gandakusuma menggantikan Mangkunegaran III. Penunjukkan K.P.A. Gandakusuma menggantikan Mangkunegara III, sebenernya Gubernemen sudah cukup cermat dan objektif. Ternyata keputusan itu melahirkan reaksi yang keras, karena ada anggapan bahwa Gubernemen telah melanggar naluri tradisi kraton Jawa. Hal ini dikarenakan hubungan Mangkunegaran III dengan Pangeran Gandakusuma adalah hanya putra angkat dan saudara sepupu. Maka pada tanggal 6 April 1853 Gubernur Jendral menugasi Residen Surakarta agar K.G.P.A.A.P. Prangwadana IV untuk menikahi R.Aj. Dhunuk, putri sulung Mangkunegara III. Dengan begitu Prangwedana IV menjadi sah menggantikan Mangkunegara III, sehingga Gubernemen telah memperbaiki kesalahan melanggar tradisi dan naluri kraton Jawa. Perkawinan itu menjadikan Prangwedana IV memiliki kekuasaan legitimasi, status, otoritas dan kekuasaan sebagai Mangkunegara.
Pada awal kepemimpinannya, yang dilakukan adalah menata pemerintahan. Ucapan pertama yang sangat terkenal dihadapan para Punggawa Mangkunegaran, yang berbunyi :
“Panguwasa iku sinambung tembung kang tansah gumunggung ana gunung. Tan sinelak panguwasa ikuuga nugraha, hamung cakcakan kang kapacak gumantung pakarti budi kang kapiji. Yen ta panguwasa iku dadi panguripan yekti lumebune mring angkara, andel sora, lan rosa. Nanging yen ta dadi kahuripan, yekti lumebune mring darma, andel rosa, lan rumangsa. Samengko kehkehe yen wus kuwasa, kalimput lali, tan lila kelangan kalungguhan. Hamung yen wus gadung ing rasa, candhak ing tata, aja wedi nampa panguwasa”.
Artinya: Penguasa (raja) itu selalu dihubungan dengan ucapannya yang dianggap setinggi gunung. Tidak dapat dibantah bahwa menjadi penguasa itu adalah karunia Tuhan, hanya cara-caranya yang digunakan tergantung pada kepribadian yang dimiliki. Kalau menjadi penguasa itu untuk mencari kekayaan, maka yang ditampilkan adalah kesrakahan, kekerasan dan kekuatan. Akan tetapi kalau menjadi penguasa itu untuk kepentingan kesejahteraan umum, maka yang ditampilkan adalah pengabdian, belas kasihan, dan tanggung jawab. Sekarang kebanyakan orang yang berkuasa, lupa, tidak rela kehilangan kedudukannya. Seseorang sudah dewasa berfikir, memahami peraturan, jangan takut ditawari menjadi penguasa.
Ucapan itu ditujukan kepada kerabat dan sentana dan juga kepada dirinya, dengan harapan mampu diteladani. Tetapi dari ucapan itu menimbulkan berbagai tantangan. Sebagai penguasa, ia juga menerapkan sebagai raja baik. Berpedoman pada buku sahabatnya yaitu R.Ng. Ranggawarsita yang berjudul Witaradya. Dalam buku itu terdapat petunjuk, bahwa raja yang baik hendaknya memegang prinsip panca pratama yaitu :
1. Mulat, artinya waspada dalam segala hal.
2. Amilata, artinya memelihara dengan baik.
3. Amiluta, artinya berbuat baik agar rakyatnya suka padanya.
4. Miladarma, artinya melaksanakan darma yang baik agar tercipta kesejahteraan.
5. Palimarma, artinya suka memberi maaf.
Selain memegang prinsip pranca pratama, Mangunegara IV juga menerapkan prinsip hasta brata yaitu ajaran Prabu Rama kepada Gunawan Wibisana, adik Rahwana ketika harus menggantikan kakaknya sebagai Raja Alengka. Hasta Brata diambil dari Serat Rama karya R.Ng. Yasadipura I. Dalam Hasta Brata seorang raja hendaknya meneladani delapan sifat dewa, yaitu :
1. Dewa Hendra, bersifat teguh dan sentausa hatinya.
2. Dewa Surya, bersifat member motifasi dan semangat.
3. Dewa Kuwara, bersifat mampu memberikan kesenangan.
4. Dewa Baruna, harus mampu menampung apa saja.
5. Dewa Yama, mampu menjaga kewibawaan, jujur dan terbuka.
6. Dewa Brama, bersifat konsisten dan mampu menahan emosi.
7. Dewa Candra, bersifat menyenangkan.
8. Dewa Bayu, mampu mengetahui segala keadaan.

Mangkunegaran sebagai Pengusaha
Pada era Mangkunegara IV ada usaha penyempurnaan, karena pada era itu, ada usaha penggalian-penggalian sarana ekonomi dalam usaha membawa Mangkunegaran makin kokoh. Era Mangkunegaran ini ditandai munculnya perusahaan-perusahaan milik Mangkunegaran. Perusahaan-perusahaan itulah yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keuangan Mangkunegaran.
Untuk membangun ekonomi, Mangkunegara IV, mengawali dengan mempelajari secara cermat sistem agraria di wilayah Mangkunegaran. Hal yang utama dia pelajari adalah syarat-syarat pemilikan tanah, hukum tanah yang menunjukkan bahwa raja atau penguasa memiliki hak mutlak. Tetapi hak itu terbatas pada tanah-tanah yang urusan keuangannya langsung dikuasai raja, sehingga tanah yang diberikan sebagai hadiah atau gaji seperti tanah lungguh dan apanage tidak termasuk.
Pasca perang Dipanegara, kondisi rakyat makin berat, hal ini karena rakyat dibebani pajak dan harus menyerahkan sebagian hasil buminya kepada pemerintah Hindia-Belanda. Ditambah lagi dengan kerja rodi, gugur gunung, jaga desa dan masih banyak lagi. Sedangkan bagi rakyat yang tidak sanggup, boleh meninggalkan tempat tinggalnya. Langkah yang diambil Gubernur Jendral van der Capllen dianggap tidak bijak, oleh karena itu Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignis mencabut kebijakan tersebut. Baru 12 tahun kemudian persewaan tanah di vorstenlanden diatur lagi oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan diterapkannya peraturan baru yang berisi bahwa yang boleh menyewa adalah :

1. Orang yang berkebangsaan Belanda dan penduduk pulau Jawa.
2. Memahami adat-istiadat dan bahasa jawa
3. Lama sewa 15 tahun.
Hal ini berarti penduduk yang tinggal di tanah itu hanya dianggap sebagai penumpang, sehingga mereka dikenai keharusan kerja.
Kondisi ini membuat Mangkunegara IV menata strategi pembangunan ekonomi, demi dapat bertahan dan kokohnya Mangkunegaran. Terdapat lima langkah yang dilakukan Mangkunegara IV, yaitu :
1. Mempelajari berbagai aturan tentang persewaan tanah yang dikeluarkan oleh Gubernemen. Disini Mangkunegara IV sadar bahwa apabila Mangkunegaran mampu mengusahakan sendiri tanah yang disewakan maka Mangkunegaran pun juga akan mendapatkan keuntungan.
2. Mangkunegra IV memutuskan untuk menarik semua tanah yang disewa dan tidak memperpanjang kontraknya.
3. Ia membebaskan tanah perkebunan kopi yang disewa pengusaha asing serta menarik tanah lungguh untuk menjadi milik keluarga kerajaan kembali.
4. Pada tahun 1862, ia menarik tanah-tanah apanage dan menggantinya dengan uang kepada yang berhak menerima.
5. Menetapkan ganti rugi tiap jung sebesar f.120 per tahun dengan syarat Mangkunegara IV sebagai Negarawan dapat bertindak mengolah tanah menurut caranya.
Keterkaitan antara budaya dagang pada umumnya dengan sudut pandang tata cara penerapan etos dagang modern dalam pemikiran Sri Mangkunegara IV sesuai dengan kondisi masanya tersebut mengacu pada masalah perkebunan.
Untuk memenuhi maksud dari reorganisasi yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup pada masanya terutama di bidang perkebunan. Sedangkan pada masa sebelum dan sesudah Mangkunegara IV kondisi kehidupan umumnya para priyayi dimana mereka yang makin lama makin tinggi gelar bangsawannya maka makin buruk keuangannya. Karena orang-orang darah biru tersebut tidak diperbolehkan bekerja. Rasa haus akan kegemerlapan dan kemewahan yang ada dikalangan orang-orang Jawa yang berpangkat dan terkemuka khususnya di Keraton Solo. Di satu sisi karena berkurangnya wilayah kekuasaan dan di sisi lain karena salah urus dengan akibat-akibat penyewaan tanah(lungguh) perkebunan, telah menyebabkan dalam kemiskinan dikalangan para pangeran dan pembesar-pembesar di Kerajaan Surakarta.
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa penyebab timbulnya system social dan ekonomi pada kalangan priyayi adalah akibat kekurangsesuaian antara acuan pandangan nilai-nilai moral para orang-orang darah biru dan identitas mereka sebagai priyayi. Implikasi negatif tersebut bagi keluarga Keraton Mangkunegaran khususnya pada masa Mangkunegara IV, menjadi acuan strategi bagi system kepemerintahan pendahulunya yaitu dengan memperbarui masalah penyewaan tanah perkebunan pada dasarnya bukan karena kondisi krisis ssistem social dan ekonomi dalam lingkungan keluarga Keratonnya, melainkan karena akibat Perang Jawa yang terjadi tahun 1825-1830.
Daerah-daerah seperti Tanjungtirta, Gombang dan Benteng di daerah Klaten, daerah-daerah tersebut sebagian besar telah jatuh ke tangan penguasa perkebunan. Dari hal tersebut dapat dilihat keuntungan dan manfaat dari cara pembudidayaan tanaman perkebunan mereka, namun juga melihat sendiri bagaimana beban rakyat kecil atas eksploitasi para bekel dan penguasa perkebunan dari Eropa.
Hal ini semakin memberikan pemahaman kepada Mangkunegara IV bahwa sumber utama penyebab beban rakyat kecil terkait dengan undang-undang pajak tanah lungguh dalam prinsip kepemilikan tanah menurut tradisinya masyarakat Jawa yaitu perhatian priyayi atau pemilik lungguh baik terhadap penggarap dan tanah yang sudah disewakan cenderung tidak ada atau tidak peduli terhadap nasib rakyat biasa.
Maka dari itu diperbaharuilah Serat Pranata (Surat Peraturan)terkait dengan masalah agraria seperti persewaan tanah, perpajakan dan masalah-masalah pedesaan lainnya dalam dokumen-dokumen jawa pada umumnya dikeluarkan oleh Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Mangkunegara IV selama masa pemerintahannya melakukan perubahan-perubahan mendasar dibidang pemerintahan dan ekonomi, terutama pada masalah pertnahan dan perpajakan). Yang isina berubah menjadi penarikan kembali tanah Apanage dengan pemberian gaji bagi para keluarga Negara tertanggal 28 Maret 1871 yang berisi:
1. Penataan gaji para putera dan keluarga serta abdi dalem, hanya diberi uang belanja (gaji) tanpa tanah lungguh di dusun. Sebab, sewaktu masih mempunyai tanah itu mereka kurang berhati-hati, banyak yang memiliki hutang, tidak memikirkan pembayaran si penggarap.
2. Hanya abdi dalem para priyayi dan para opsir di legiun Mangkunegaran tetap memiliki tanah lungguh 1 jung dan gaji 10 rupiah sebulan,… tetapi tidak bisa diwariskan, perubahan penghasilan sesuai dengan keinginan masing-masing, sedangkan untuk para abdi penghasilannya sesuai dengan kerjanya,… oleh karena itu boleh diubah ditata penghasilannya dengan adil.
3. Peraturan ini dapat dikatakan mengubah tingkah laku orang kecil dan priyayi. Sebab nantinya orang kecil merasa besar hati karena yang tadinya menganggap orang yang mempunyai tanah lungguh sebagai bandara (majikan), sekarang merasa menjadi teman, demikian juga para priyayi dalam memerintah orang kecil tidak seperti dulu, sekarang banyak sopan santunnya.

Delapan tahun kemudian dari hasil strategi ekonominya Mangkunegara IV dapat meraih kesuksesan dalam usaha strategi ekonominya, bahkan Mangkunegaran mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Mangkunegara IV pernah menjelaskan, bahwa kebijakan ekonominya adalah karena keinginan mengatur pendapatan keluarga dan pegawainya serta berusaha meningkatkan taraf hidup rakyat Mangkunegaran. Usaha-usaha lain yang dilakukan Mangkunegara IV adalah membangun perusahaan atau pabrik seperti kopi dan gula.
a) Perusahaan Kopi
Besarnya penanaman kopi di Mangkunegaran sebenarnya sudah lama. Pada tahun 1814 telah dimulai dengan menanam kopi secara besar-besaran. Akibat terjadi perang Dipanegara 1825-1830, pendapatan kopi Mangkunegaran menjadi sangat menurun. Dengan resolusi 31 Maret 1833 nomor: 18, Residen Surakarta MacGilarvry menetapkan agar hasil kopi Mangkunegaran diberi kesempatan diserahkan ke gudang-gudang Gubernemen dengan bayaran f.25/ pikul atau f.40,47/ kuintal. Pada tahun 1835 sesuai hasil perundingan, ada pengaturan angsuran hutang Mangkunegaran untuk tidak menahan semua hasil Mangkunegaran. Resolusi 26 Januari 1836 nomor: 14, terdapat ketetapan baru, bahwa apabila hasil kopinya kurang dari 1.000 kuintal, dipotong hutang 50%. Apabila hasilnya lebih dari 1.000 kuintal, dipotong sepertiga hutangnya. Dari resolusi itu jelas bahwa Mangkunegaran tidak ada keharusan menjual hasil panen kopinya kepada Gubernemen, tetapi hanya diberi kesempatan.
Setelah tahun 1853, Mangkunegara IV melakukan perluasan penanaman kopi, dengan cara menjinakan tanah-tanah perawan, sebagian dengan menebangi hutan-hutan dan meneruskan eksploitasi dari tanah-tanah perkopian yang dikembalikan oleh usahawan-usahawan Eropa. Sehingga terjadi pergeseran yakni:
• Kopi perusahaan menjadi kopi desa.
• Kopi tanah lungguh jadi kopi Praja.
Andai kata kopi ini dijual dipasaran bebas tidak dimonopoli oleh Gubernemen penghasilan Praja Mangkunegaran dari penjualan kopi itu lebih besar lagi.
Jika sebelum tahun 1856 hasil kopi Mangkunegaran hanya 2.787 kuintal, maka pada tahun 1863 atau tujuh tahun kemudian dari usaha Mangkunegara IV, hasil panen kopi Mangkunegaran menjadi 10.957 kuintal atau lima kali lipat. Pada periode 1871-1881 kopi “baik” dibayar oleh Gubernemen dengan harga sama dengan harga kopi “kurang baik”, penghasilannya f 13.873.149.97 atau f 1.261.195.45 rata-rata per tahun. Usaha Mangkunegara IV untuk mendapatkan harga kopi lebih tinggi tidak ditanggapi oleh Gubernemen.
Sesudah diadakan reorganisasi dalam penanaman kopi terdapat 24 pertahanan kopi di bawah seorang administratur baik yang berkebangsaan Eropa, maupun yang berbangsa Jawa. Administratur Jawa berpangkatkan Panewu atau Mantri kopi. Tiap-tiap afdeling mempunyai “PASANGGRAHAN” untuk kediaman Administratur dan diadakan pula gudang. 24 pertahanan kopi itu dibawah dua orang inspektur masing-masing membawahi 12 buah Pertahanan kopi, dua orang itu adalah J.B Vogel dan L.J. Jenty. Diatas dua orang inspektur itu ada seorang superitenden, yaitu Wedana Kertapraja, pada saat itu yang menjabat bernama Raden Mas Wirahasmara. Tercatat bahwa dari 24 pertahanan kopi tersebut, penghasil terbesar didaerah Kabupaten Wanagiri. Kecuali kopi kebun-kebun itu juga menghasilkan coklat, sedikit lada, pala, panili, dan karet fiskus. Jika dihitung banyaknya pohon kopi ditahun 1863 maka diseluruh Mangkunegaran terdapat 6.056.203 batang.
b) Perusahaan – Perusahaan Gula Mangkunegara IV
Pada tahun 1861, mulai dipikirkan usaha lain selain kopi. Mangkunegara IV mulai mengajukan rencana pendirian pabrik gula kepada Gubernemen lewat Residen Surakarta Nieuwenhutysen. Rencana itu didetujui Gubernemen dan merupakan orang Jawa pertama yang diizinkan mendirikan pabrik gula. Jika semua pegunungan ditanami dengan kopi tanah-tanah sawah yang dapat dibebaskan yang berada di ngarai sebagian diperuntukkan bagi areal dua pabrik gula Mangkunegaran yang sampai kini masih ada. Tempat yang dipilih di desa Colomadu, sehingga pabrik Gulanya juga diberi nama pabrik gula Colomadu. Pembangunan pabrik dimulai 6 Desember 1861, sedang pengelolanya dipercayakan kepada Robert Kamp. Mesin – mesin yang digunakan didatangkan dari Eropa dan biaya pembangunan pabrik ini sebesar f 400.000, yang sebagian diperoleh dari pinjaman Gubernemen dan sebagian lagi dari pinjaman teman Mangkunegara IV yaitu Be Bin Coan, seorang mayor Cina di Semarang.
Pada tahun 1863 tahun panen pertama, areal tebu yang luasnya 95 ha itu walaupun keadaan musim tidak begitu baik masih dapat menghasilkan 3.700 kw gula, jadi rata-rata tiap ha menghasilkan sekitar 39 kw. Hasil gula itu dijual dengan perantara firma CORES DE VRIES, dijual dengan harga + f 32 tiap kw, sebagian dijual di Singapura dengan harga f 42 tiap kw dan laku di Bandanaera f 57 tiap kw. Oleh karena keberhasilan pabrik gula pertama, maka pada tahun 1874 Mangkunegara IV kembali membuka pabrik gula baru dengan nama pabrik gula Tasikmadu. Dalam pembangunan pabrik ini dibuat bangunan yang lebih besar dan menurut orang-orang pada masa itu sedikit sekali yang dapat menyamai kekuatan utama dari Tasikmadu yaitu air, sedangkan cadangannya penggilingan dijalankan dengan menggunakan uap. Pabrik gula ini terkenal sebagai pabrik gula percontohan di Jawa.
Mengenai hasil panen pertama tidak diketahuai yang ada mengenai data penanaman pertama seluas 140 ha secara herendiner. Areal seluas 140 ha tersebut terus diperluas lagi demikian pula kapasitas pabrik juga di perbesar. Dapat ditarik kesimpulan, bahwa Tasikmadu adalah sumber utama pertambahan produksi gula di tanah swapraja. Pada permulaannya keadaan demikian bahwa eksploitasi pabri- pabrik gula diadakan jika kopi cukup memberikan penghasilan. Eksploitasi yang konsisten baru terjadi sesudah disetujui kontrak konsegnasi dengan agen dari Nedellandsche handelmaatchappy di Semarang yang menyediakan modal kerja yang dibutuhkan.
Di bawah pengawawasan Factory semakin lama keperluan teknis diperbaiki. Surat kabar “DE LOCOMATIEF” tertanggal 2 September 1881 menulis tentang pabrik ini yaitu “Keduanya dibuat demikian sehingga dapat dipakai sebagai contoh bagi yang lainnya. Hal ini membuat Mangkunegara IV memegang peranan penting dalam kenaikkan produksi gula di Jawa.
c) Kebudidayaan Beras Boga
Perusahaan beras Boga yang didirikan Mangkunegara II antara tahun 1867 diperluas dan ditata kembali. Pada awalnya perusahaan ini didirikan bukan untuk mencari keuntungan melainkan sebagai persawahan Praja, untuk membantu para pegawai dalam musim paceklik.
Sesudah pembangunan pabrik selesai maka ditunjuklah seorang Administratur yaitu Mas Ngabei Pancasuwirya. Perusahaan ini didirikan di desa Boga di kecamatan Kepuh tidak jauh dari ibukota Surakarta. Untuk penggilingan padi menggunakan alat yang semula digunakan untuk penggiling batu. Mengenai penanaman padi dan pemeliharaannya yang mendatangkan tanaman padi tersebut, Pangeran Adipati meminta nasehat kapada seorang ahli. Walaupun perusahaan ini tidak memberikan hasil yang besar tetapi dapat berdikari, sesudah Mangkunegara mangkat tahun 1886 mka perusahaan ini ditiadakan dan tanahnya dijadikan tanah lungguh.

d) Usaha-usaha lainya
 Tembakau
Percobaan penanaman tembakau diadakan didesa-desa Jegoh Jatisrana, namun hasil mengecewakan. Mangkunegara IV telah dengan sungguh-sungguh melaksanakan rencana itu dengan penuh memperhatikan cara kerja dan para penduduk yang bekerja menerima upah yang sungguh baik, namun tetap tidak sampai membuat perusahaan yang ajeg atau eksis dan dapat memberi keuntungan.
 Kina
Sekitar tahun 1874 timbulah rencana untuk menanam pohon kina. Dua orang dari pegawai diperintahkan untuk pergi ke Garut mempelajari penanaman kina selama setahun sebagai sinder kebun.
Di desa Kalisara dan Nglurah di kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar pada tahun 1877 di pilihlah beberapa bidang tanah untuk penanaman kina. Diberbagai tempat diantara pohon-pohon kopi ditanami kina sebagai permulaan ditanamnya 100 ha pada ketinggian + 1.200 m keuntungan dari penanaman kina ini tidak terlalu besar. Setelah tahun-tahun pertama pemanenan lahan dari kopi dipersempit maka berakhirlah penanaman kina itu.
 Teh
Penanaman teh juga tidak memberikan keuntungan besar, tanah-tanah teh yang terdapat di desa-desa Kalisara dan Ngimarata di kawedanan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar pada ketinggian + 1.200 m, dengan luas + 30 ha. Percobaan ini umumnya hanya beberapa tahun saja, pada tahun 1874 penanaman the ditiadakan.
 Ulat Sutra
Diusahakan pula pemeliharaan ulat sutra, yang pada akhirnya juga mengalami kegagalan yang terjadi didesa Tawangmangu yang telah menydiakan tanah seluas ½ ha untuk keperluan itu. Karena hasil yang didapat sedikit pemeliharaan ulat sutra di bawah pimpinan M. Ng. Pancagerjita pada tahun 1878 ditiadakan.

 Milik Semarang
Dengan banyaknya kekayaan Praja Mangkunegara IV, mulailah pencarian lahan untuk menanam modal tidak hanya diluar perusahaan pertanian juga di luar daerahnya. “MILIK SEMARANG” demikianlah nama beberapa bidang tanah serta rumah-rumah yang ada di wilayah Semarang yang berturut-turut dibeli oleh Mangunegara IV terdiri dari :
1. Tanah sawah di daerah Demak.
2. Desa Terbayan yang nanti akan dilewati banjir kanal.
3. Komplek bidang-bidang tanah di Semarang diantaranya tanah partikelir Pendrikan.
4. 12 buah rumah kediaman di kota Semarang.
Ternyata harga yang dibayarkan untuk semua tanah diatas dengan harga yang tinggi. Tanah-tanah di Demak dibelinya pada tahun 1860 dari warisan Bupati Jepara yang telah meninggal.
Selain itu, Mangkunegara IV juga membeli saham, tercatat memiliki 330 lembar saham Javansche Bank, dan 125 lembar saham N.H.M, menyimpan perhiasan penting di Bank dan menyimpan deposito. Meskipun menuai begitu besar keberhasilan, Mangkunegara IV dianggap menyimpang dari adat raja-raja Jawa. Hal ini karena sebelum Mangkunegara IV memerintah, Raja hanya menerima upeti saja, tetapi tidak bagi Mangkunegara IV yang tidak malu mengaplikasikan strategi pembangunan ekonomi dengan meniru gaya Pemerintah Hindia Belanda serta melakukan monopoli.
Th. Pigeaud menegaskan bahwa berkat pengalamannya di lapangan dan banyak bergaul dengan bangsa barat, Mangkunegara IV mampu mengaplikasikan dan meniru system VOC dalam skala kecil. Suatu langkah inovatif yang belum pernah dilakukan pendahulunya, yaitu Beliau mampu mengangkat derajad Mangkunegaran dan memperhatikan rakyat kecil.
Adanya penolakan dari Gubernemen terhadap usaha-usaha lebih lanjut dari Mangkunegara IV telah menimbulkan ketakutan Gubernemen, karena Mangkunegaran sebagai satelit Gubernemen dapat merusak keseimbangan politik baru. Tetapi sumber lain dari barat menyebutkan bahwa keberhasilan Mangkunegara IV adalah wujud sikap ramah Mangkunegara IV terhadap orang-orang Eropa dan Mangkunegaran mampu menyerap kebudayaan barat tanpa harus kehilangan kebudayaan aslinya yaitu kebudayaan Jawa.

DAFTAR PUSTAKA

1. Drs. M.T. Arifin, M.Pd., dkk. 2005. Kajian Sejarah Mikro sebagai Muatan Lokal. Surakarta : Sebelas Maret University Press.
2. Pura Mangkunegaran, Selayang Pandang. Diterbitkan oleh Reksopustoko tanpa tahun.
3. Tandjung, Krisnina Maharani A. 2007. 250 tahun Pura Mangkunegaran. Jakarta : Yayasan Warna Warni Indonesia.
4. Wasino, 2008 , Kapitalisme Bumi Putera Perubahan Masyarakat Mangkunegaran , LKIS , Yogyakarta.
5. http://www.wikipedia.com , Mangkunegara IV.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s