Pendidikan dan Kebudayaan pada Masa Nuriyah dan Ayyubiah

Selama berlangsungya perang salib, terjadi proses interaksi budaya antara barat dan timur. Setelah perang salib, suriah mereka tinggalkan dalam keadaan hancur dan kacau balau, yang semakin parah ketika dinasti mamluk menghancurkan sebagian besar kota-kota maritim yang duluditempati oleh orang-orang Franka.
Meskipun terus-terusan dilanda oleh perang salib dan perang saudara, suriah menikmati, dibawah kekuasaan dinasti Nuridiyah dan Ayyubiyah, terutama pada masa kekuasaan Nur al-Din dan Shalah al-Din, periode paling brilian dalam sejarah muslim Suriah, selain periode Bani Umayyah. Damaskus, masih menyimpan bukti yang menunjukkan aktivitas arsitektur dan pendidikan yang dikembangkan oleh kedua penguasa utama itu.
Di Damaskus terdapat sebuah prasasti yang terdapat di menara benteng Aleppo di sebelah barat dan sampai saat ini masih dapat dibaca. Benteng pertahanan Aleppo dianggap sebagai sebuah mahakarya dalam bidang arsitektur militer zaman kuno, berhutang besar pada sultan Suriah ini yang telah merenovasi dan memeliharanya.
Selama masa pemerintahan Mamluk, yang dalam bidang seni meneruskan tradisi seni dinasti Ayyubiyah, lahir satu tradisi baru, yaitu menguburkan para pendiri sekolah-masjid di bawah kubah bangunan yang mereka dirikan.
Shalah al-Din merupakan khalifah yang lebih banyak mencurahkan perhatian pada bidang pendidikan dan arsitektur dibanding para pendahulunya. Kemudian penguasa berikutnya, Nizham al-Mulk, dikenal sebagai khalifah agung yang banyak mendirikan berbagai akademi dalam islam.
Rene Grousset mengemukakan bahwa, ”Seni Arab klasik dari timur dipresentasikan pada bangunan-bangunan yang terdapat di Damaskus dan Aleppo yang didirikan pada abad ke 13 oleh para penguasa dinasti Ayyubiyah, dan para khalifah awal dinasti Mamluk”. Karakteristik arsitektur itu itu sangat solid dan kuat. Bahan-bahan material tahan lama yang digunakan untuk membangun monumen-monumen itu. Misalnya batu-batu yang bagus serta dekorasi dengan motif-motif yang sederhana menyuguhkan nuansa keindahan yang abadi. Salah satu monumen yang paling indah, dan menjadi contoh terbaik dalah Masjid-Sekolah Sultan Hasan di Kairo.
Shalah al-Din memperkenalkan sekolah tipe Madrasah ke negeri Yerusalem dan mesir. Selama pemerintahannya, masyarakat Hijaz juga bisa merasakan pendidikan di sekolah yang seperti madrasah gagasan Shalah. Disamping mendirikan sejumlah sekolah, Shalah al-Din juga membangun dua rumah sakit di Kairo. Sebelumnya, Ibn Thulun, dan khalifah Kafur dari dinasti Iksidiyah telah mendirikan lembaga serupa yang berfungsi sebagai tempat pelayanan masyarakat yang tidak memungut biaya. Shalah al-Din memiliki seorang dokter yahudi yang kondang, yaitu Ibn Maymun, juga seorang sarjana Irak yang produktif dan mudah beradaptasi yaitu Abdul Lathif al-Baghdadi (1162-1231).

Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Filsafat, dan Sastra

Kebudayaan Islam pada masa perang salib di timur bisa dikatakan sama sekali tidak berkembang. Dalam dunia filsafat, kedokteran, musik, dan disiplin lainnya, hampir semua kekuatan besar itu telah musnah. Ada cukup banyak contoh konkret yang menunjukkan proses peralihan pengetahuan dan filsafat. Adelart dari Baht, yang terjemahannya atas karya-karya berbahasa arab dalam bidang astronomi dan geometri telah dikemukakan di atas, pernah mengunjungi Antiokia dan Tarsus pada awal abad ke 12. satu abad kemudian, ahli Aljabar dari Eropa yang pertama, Leonardo Fibonacci, yang mempersembahkan sebuah karya tentang angka angka kotak kepada Frederick 2, juga pernah mengunjungi Mesir dan Suriah. Frederick sendiri memiliki ambisi besar untuk mendamaikan Islam dengan Kristen, serta menyokong penuh kegiatan penerjemahan karya-karya berbahasa Arab. Seorang penduduk Pisa, Stephen dari Antiokia, menerjemahkan sebuah buku penting dalam bidang kedokteran karya Al-Majusi di Antiokia pada 1127. Di Antiokia Philip dari Tripoli sekitar 1247 menemukan sebuah manuskrip berbahasa Arab yang berjudul Sirr al-Asrar, diperkirakan disusun oleh Aristoteles untuk membimbing murid utamanya, Alexander Agung.
Pengaruh kebudayaan Arab terhadap perkembangan sastra di barat sangat terasa. Legenda Grail Yang Suci mengandung elemen-elemen yang tidak diragukan lagi berasal dari Suriah. Kitab Kalilah wa Dimnah dan ”Kisah Seribu Satu Malam”, kemudian mereka membawanya serta ke negeri mereka. Karya Geoffrey Chaucer yang berjudul Squieres Tale merupakan cuplikan dari kisah seribu satu malam. Raymond Lull(w. 1315) terinspirasi oleh kegagalan metode militer tentara salib untuk memerangi ”orang-orang kafir”. Pada 1276, ia mendirikan sebuah universitas bagi para biarawan di Miramar untuk mempelajari bahasa Arab dan bisa jadi karena pengaruhnya pulalah Konsili Wina tahun 1311 memutuskan untuk menyajikan studi bahasa Arab dan Tartar di universitas Paris, Louvain, dan Salamanca.

Perkembangan Bidang Militer

Jika kita mengalihkan perhatian pada dunia militer, kita bisa melihat bahwa pengaruh Arab, sebagaimana diperkirakan sangat terasa imbasnya. Penggunaan ketapel, pemakaian baju zirah yang tebal oleh golongan ksatria dan kudanya, serta penggunaan bantalan kapas di bawah baju perang, semuanya berasal dari perang salib. Mereka juga belajar dari penduduk pribumi bagaimana melatih merpati-pos.
Shalah al-Din kemungkinan menjadikan burung elang sebagai simbol utamanya. Sebagian besar khalifah Dinasti Mamluk menggunakan nama-nama dan gambar binatang untuk menghiasi perisai mereka, dan atribut perang lainnya. Simbol pasukan Baybar adalah singa, seperti simbol pasukan Ibn Thulun, raja sebelumnya. Sultan Barquq (w. 1398) adalah burung elang. Pada akhir abad ke 11, pasukan inggris diketahui baru menggunakan ornamen kebesaran pasukan pada awal abad ke 12. pasukan muslim modern, simbol binatang, bulan sabit, singa, dan matahari menjadi satu-satunya simbol kebesaran pasukan muslim yang masih digunakan.
Perang salib juga mendorong pengembangan berbagai taktik pengepungan, termasuk metode memperlemah pertahanan, pemasangan ranjau, penggunaan mangonel, dan alat pendobrak, serta penggunaan berbagai bahan peledak dan alat-alat pembakaran. Sekitar 1240, pasukan Mongol mengenalkan bubuk mesiu ke Eropa.

Perkembangan Bidang Arsitektur

Para tentara salib mendapatkan pengetahuan substansial tentang bangunan militer dari Italia dan Normadia yang sebagiannya dikembangkan oleh orang-orang Arab sebagaimana terlihat dari arsitektur benteng Kairo. Benteng Akrad, Markab dan Syakif (Belford) masih bertahan hingga kini. Di Yerusalem, beberapa bagian dari gereja makam suci, ”Solomon’s Stables”, dekat masjid Aqsa, dan beberapa ruangan berkubah merupakan hasil karya mereka.
Arsitektur pada masa perang salib umumnya berbentuk kubus dengan kubah sederhana, biasanya berbentuk gerinda. Karya seni orang Franka yang paling indah di Kairo dalah pintu yang diambil dari gereja di Akka pada 1291, kemudian dipasang di masjid al-Nashir.

Pertanian dan Industri

Dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri, tentara salib mendapatkan lebih banyak keuntungan dan manfaat dibanding dalam bidang intelektual. Mereka berhasil mendapatkan pengetahuan tentang pertumbuhan beberapa tanaman baru di kawasan Mediterania Barat, seperti biji wijen dan carob, padi-padian semangka dan jeruk, aprikot dan shallot.
Sementara di timur, orang Franka mendapatkan citarasa baru, terutama dalam parfum, rempah-rempah, makanan makanan baru, dan produk-produk tropis lainnya dari Arab dan India yang tersedia berlimpah di pasar-pasar Suriah. Keharuman dupa dan getah Arab, mawar Damaskus (Rosa Damascena), dan wewangian manis lainnya, yang banyak diproduksi di Damaskus, juga minyak wangi yang mudah menguap (Volatile oil), dan mawar merah (attar) dari Persia menjadi produk yang paling diminati para pedagang Eropa. Tawas dan pohon gaharu menjadi obat-obat baru yang mereka minati. Cengkeh, rempah-rempah, bumbu-bumbu beraroma, berikut lada, dan bumbu-bumbu serupa lainnya mulai digunakan di barat pada abad ke 12, dan sejak saat itu tidak ada lagi perjamuan yang tidak dilengkapi rempah-rempah.
Temuan lain yang didapatkan oleh orang Eropa pada periode perang salib adalah kincir air yang lebih maju. Qaishar ibn Musafir Ta’asif (w. 1251), seorang Mesir yang mengabdi pada penguasa Emessa, pembuat bola dunia yang paling tua dan satu-satunya yang berbahasa Arab, dan masih bertahan hingga kini. Pada masa Yaqut (w. 1229) dan Abu al-Fida (w. 1331), Emessa terkenal dengan kincir airnya.
Di Eropa, secara berangsur angsur muncul sejumlah pusat kerajinan yang memproduksi barang-barang rumah tangga, seperti karpet, permadani, dan pakaian yang meniru produk-produk dari timur, misalnya sentra kerajinan s=di Arras yang hasil produknya sangat dihargai.
Kebutuhan finansial dalam situasi yang baru itu meniscayakan terciptanya persediaan yang lebih besar dan proses peredaran uang yang lebih cepat. Karenanya, digunakanlah sistim pencacatan kredit.
Koin emas pertama yang mungkin pernah dibuat oleh bangsa latin adalah Byzantinius Saracenatus, yang dicetak oleh orang Venesia di tanah suci dan menerakan tulisan berbahasa Arab. Kantor-kantor konsulat luar negeri, terutama yang lebih mengurusi perdagangan ketimbang diplomatik, mulai bermunculan. Konsulat pertama yang tercatat dalam sejarah adalah konsul Genoa untuk Akka yang didirikan pada 1180. salah satu temuan terpenting yang berhubungan dengan aktivitas bahari para tentara salib adalah kompas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s