Pembentukan tentara BKR

BKR

 • Letak Geografis Daerah Kedu

Kedu selatan terletak di daerah kedu bagian selatan dan termasuk dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kedu selatan terdiri dari kabupaten purworejo dan kabupaten kebumen.
Nama “kedu” digunakan sebagai nama karesidenan pada zaman pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Dari mana asal nama “kedu” sehingga digunakan menjadi nama karesidenan , sejak kapan , oleh siapa , dan bagaimana riwayatnya tidak diungkap disini. Namun , diantara jalan raya dari magelang atau semarang ke wonosobo , terdapat sebuah desa yang namanya “kedu”.
Batas-batas karesidenan kedu di masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda hingga masa sekarang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Sebelah barat berbatasan dengan karesidenan Banyumas dan karesidenan Pekalongan.
2. Sebelah utara berbatasan dengan karesidenan Semarang.
3. Sebelah timur berbatasan dengan karesidenan Surakarta dan daerah Istimewa Yogyakarta.
4. Sebelah selatan membentang luas Samudra Hindia yang kini lebih sering disebut Samudra Indonesia.
Daerah Kedu di sebelah utara terdiri dari tanah perbukitan dengan dataran-dataran yang luas, menjulang tinggi dengan megahnya gunung Sindoro dan Sumbing. Dataran-dataran perbukitan itu merupakan daerah yang subur seperti Dieng dan Temanggung, yang terkenal dengan tembakau dan vanili sebagai penghasil utamanya. Pada beberapa bagian di sebelah utara dan timur daerah Kedu masih terdapat hutan-hutan lindung yang terpelihara dengan baik.
Tengah-tengah wilayah Kedu terletak kota Magelang yang di jadikan sebagai ibukota Karesidenan Kedu. Di sebelah selatan kota Magelang terdapat dataran luas yang di atasnya berdiri candi Borobudur. Disini dulu bermukim seorang Raja Agung dan pendiri dinasti syailendra yang beragama Budha.
Di selatan wilayah Kedu, tepatnya di sepanjang Samudra Indonesia terdapat dataran luas dan perbukitan kecil di karangbolong ( selatan Gombong ). Karangbolong terkenal dengan penghasil sarang burung walet. Sedangkan dataran rendahnya merupakan penghasil tanaman padi dan palawija. Dibandingkan dengan daerah lain di Kedu, daerah ini sangat padat penduduknya. Secara keseluruhan keadaaan iklim di daerah Kedu sebelah utara hawanya dingin dan sejuk, tapi ke selatan berangsur-angsur panas.
Di zaman Diponegoro Kedu merupakan daerah yang baik untuk gerilya. Medannya berbukit-bukit dan tanahnya yang subur merupakan sumber logistik perang yang handal. Ditambah lagi dengan semangat rakyatnya yang sangat patriotik menjadikan perang Diponegoro berkobar dengan dasyatnya.
Perang yang juga disebut sebagai perang jawa ini baru berhenti setelah pangeran Diponegoro ditangkap oleh Kolonial Belanda secara licik da magelang.akan tetapi para pengikut Diponegoro tidak kembali ke daerahnya. Mereka memilih menyatu dengan rakyat di Kedu dan sebagian besar di daerah Kedu bagian selatan.
Pada masa pemerintah kolonial Hindia Belanda, Karesidenan Kedu dikepalai oleh seorang Residen yang membawahi beberapa Bupati.pada masa kini, Residen disebut sebagai pembantu Gubernur dengan tugas dan kewajiban untuk melakukan koordinasi dan pengendalian terhadap Kabupaten-kabupaten dalam wilayah yang bersangkutan. Para Bupati berada langsung di bawah Gubernur dan tidak berada di bawah Residen seperti zaman Hindia Belanda dahulu.
Wilayah pembantu Gubernur yang dahulu Karesidanan Kedu, kini menjadi bagian propinsi Jawa Tengah. Karesidenan Kedu terdiri dari kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kebumen, Purworejo dan juga kotamadya Magelang. Propinsi Jawa Tengah sendiri terdiri dari 6 wilayah pembantu Gubernur, yakni : Semarang, Pati, Surakarta, Kedu, Banyumas dan Pekalongan.

Pembentukan-badan-Keamanan-Rakyat-BKR

• Proses Pembentukan BKR di Kedu Selatan

Menjelang Proklamasi, pada tanggal 23 Agustus 1945 President mengeluarkan seruan agar bekas para Prajurit PETA, HEIHO, Pelaut serta segenap pemuda untuk masuk dan bekerja pada Badan Keamanan Rakyat. Setelah itu di daerah tingkat kabupaten diadakan musyawarah antara bekas opsir PETA yang tertinngi pangkatnya dengan Bupati dan Kepala Polisi Negara Kabupaten, untuk memecahkan berbagai masalah guna melaksanakan seruan Presiden. Maka dari itu diambilah langkah-langkah sebagai berikut:
1. BKR di tempatkan di dalam wadah BPKKP(Badan Penolong Keluarga Korban Perang) yang dibina oleh KNI di daerah-daerah.
2. Tugas BKR adalah menjaga keamanan Rakyat setempat.
Dengan adanya langkah-langkah itu segera diadakan pemanggilan kepada para bekas prajurit PETA, HEIHO, Pelaut, KNIL dan pemuda lain di kampung atau desa yang telah ditentukan. Mengenai masalah konsumsi BKR, menjadi tanggung jawab Bupati selaku Ketua BPKKP Kabupaten. Wedono untuk tingkat Kawedanan dan Camat untuk tingkat Kecamatan. Sedangkan untuk masalah persenjataan, Kepala Polisi setempat menyatakan kesanggupannya untuk memberikan pinjaman beberapa pucuk senjata selama diperlukan.

1. Di Purworejo
Kepala Polisi Kabupaten Purworejo talah menentukan bahwa tempat berkumpulnya BKR di gudang bekas kediaman Mayor KNIL Oerip Soemohardjo. Waktu berkumpul bagi yang dipanggil adalah segera setelah panggilan diterima. Asal wilayah yang dipanggilan adalah Kota Purworejo dan sekitarnya, yaitu dari wilayah Kawedanan Purwodadi, Loan dan Purworejo. Eks Daidancho Moekahar menunjuk eks Ccudancho Koen Kamdani untuk memipin pasukan BKR Purworejo, jumlah pasukan BKR Purworejo sekitar 600 orang. Bekal untuk pasukan BKR disediakan oleh dapur umum yang melibatkan Ibu Moekahar dan ibu-ibu dari Perwari yang semasa Jepang dikenal sebagai FUJINKAI, sedangkan sumber dana berasal dari Bupati Soeraryo.
Senjata BKR di dapat dari pinjaman Kepala Polisi Kabupaten Purworejo Inspektur I Soewoso berupa beberapa pucuk senapan laras panjang dan pistol yang digunakan polisi. Setelah itu terus menambah senjata dengan melucuti Jepang yang berkedudukan di kota dan sekitar Purworejo. Pakaian pasukan BKR terdiri dari 3 macam: sebagian besar hijau PETA bagi bekas PETA, khaki HEIHO bagi bekas HEIHO, dan campuran KNIL dan pemuda non Prajurit, yaitu memakai pakaian yang dimiliki masing-masing.
Demikianlah BKR Purworejo dengan kekuatan sebesar batalyon, dan senjata hampir dua kompi atau 1:3. Meskipun begitu, dengan berbekal semangat yang tinggi, BKR Purworejo tetap siap bertempur menghadapi segala kemungkinan.

2. Di Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri
BKR Kutoarjo diselenggarakan secara tidak terpusat yaitu di Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri. Keempat tempat itu memiliki pola dasar penyelenggaran yang sama. Logistik menjadi tugas dan tanggung jawab BPKKP yang di ketahui oleh Wedana di Kawedanan dan Camat di Kecamatan. Peminjaman senjata yang diperlukan, diberikan i oleh polisi yang terdekat selama diperlukan di berikan oleh polisi yang terdekat selama diperlukan. Bekal untuk anggota BKR diselinggarakan oleh dapur umum yang melibatkan ibu-ibu yang di zaman Jepang disebut FUJINKAI dan juga keikut sertaan dari pihak keluarga atau organisasi wanita lain.
Selain itu juga terbentuk BKR di beberapa tempat, yaitu BKR Grabag di Bawah pimpinan mantan Shodancho Ramelan, BKR Butuh di bawah pimpin mantan Shodancho Roes’an dan BKR Kemiri di bawah pimpinan mantan Shodancho Panoedjoe. Setiap BKR masing-masing berkekuatan satu kompi dan memiliki markas sendiri.
Persenjataan yang dimiliki BKR Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri sangat minim, meskipun telah mendapat pinjaman dari polisi dan perolehan dari pelucutan senjata di Sumpyuh. Namun dengan semangat yang berkobar-kobar, pasukan BKR Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri siap untuk bertugas menghadapi musuh.
Pakain seragam anggota BKR di Kutoarjo, Grabag, Butuh dan Kemiri sama dengan yang didapat di Purworejo. Sebagian menggunakan seragam PETA, sebagian kecil seragam HEIHO dan sebagian lagi menggunakan pakaian campuran milik masing-masing.
Seperti halnya di Purworejo, bekal bagi anggota BKR menjadi tanggung jawab Bupati. Demikian pula anggota BKR Kutoarjo menjadi tanggung jawab Wedana Kutoarjo selaku Ketua BPKKP; BKR Grabag menjadi tanggung jawab Camat Grabag; BKR Butuh menjadi tanggung jawab Camat Butuh; BKR Kemiri menjadi tanggung jawab Wedana Kemiri.

3. Di Prembun
Pembentukan BKR di Prembun mengambil tempat di gudang bekas Pabrik Gula Prembun, para pemuda bekas prajurit PETA, HEIHO, KNIL, Pelaut dan pemuda lainnya yang bertempat tinggal di sekitar Prembun yaitu dari daerah Kecamatan Prembun dan Kecamatan Mirit diminta untuk menjadi anggota BKR. Bekal bagi anggota BKR Prembun diselenggarakan oleh Wedana Prembun dengan bantuan Ibu-ibu Perwari dan dari organisasi wanita lain. Mereka menyelenggarakan dapur umum guna menyediakan ”NUK” bagi pasukan BKR.
Senjata yang dimiliki BKR Prembun termasuk lumayan. Senjata didapat dari hasil melucuti tentara Jepang yang ada di gedung bekas pabrik gula. Senjata lain berasal dari pinjaman Polisi Prembun. Dengan senjata senapan yang ada ditambah dengan senjata tajam yang berupa keris, tombak dan bambu runcing, BKR Prembun siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Pakaian BKR Prembun berlaku Komandan tunggal, dalam arti semuanya langsung atas komando dari pimpinan BKR.

4. Di Kutowinangun
Pembentukan BKR di Kutowinangun, mengambil tempat di Kawedanan Kutowinangun dipimpin oleh eks Bundancho Marsoem dan Aboe Soedjak, bekas HEIHO Bawoek dan Saimin. Satu kompi BKR Kutowinangun berhasil dibentuk dan dipusatkan di Sekolah Muhammadiyah, serta sebagian lagi di SDN Kutowinangun. Pembentukan BKR mendapat dukungan dari Wedana Kutowinangun. Sedangkan dapur umum diselenggarakan oleh Ibu-ibu Perwari yang menyediakan ”NUK”.
Pakaian BKR Kutowinangun tidak berbeda dengan di tempat-tempat lain. Ada tiga macam, yaitu hijau PETA, khaki HEIHO dan campuran. Sedangkan senjata masih sangat minim. Namun, semangat tetap tinggi.

5. Di Kebumen
Setelah terdengar berita mengenai panggilan BKR dari radio langsung dalam menghubungi bekas Opsir PETA yang berkedudukan di Kebumen, agar secepatnya membentuk BKR Kebumen. Pembentukan BKR di Kebumen dipimpin eks Chudancho Soedradjat bertempat di Kantor Polisi Kebumen. Selain itu peran Ibu-ibu Perwari di Kebumen juga besar di bawah pimpinan Ibu Goelarso dan Ibu Mangkoe Soemitro serta organisasi wanita lainnya. Mereka menyelenggarakan dapur umum untuk bekal pasukan BKR Kebumen yang dipusatkan di Gedung Sekolah Cina HCS (Holland Chinese School) yang terletak di Jalan Kutoarjo, dekat Monumen Walet.
Kepala Polisi Kebumen Ajun Komisaris Soedjono memberikan pinjaman senjata kepada BKR kebumen berupa :
• Pistol Buldok 5 pucuk.
• Pistol Colt kuda 3 pucuk.
• Pistol Mauser 1 pucuk.
• Senapan panjang (polisi) 24 pucuk.
Pakaian yang di kenakan oleh BKR di Kebumen tidak berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Ada tiga macam, sebagian besar berpakaian hijau bekas PETA, khaki bekas HEIHO sebagaian kecil dan sebagian lagi campuran milik masing-masing.

6. Di Pejagoan
Pejagoan adalah Kota Kawedanan yang letaknya dekat dan berbatasan dengan Kota Kebumen. Pejagoan ditunjuk menjadi tempat pemusatan pendaftaran menjadi BKR bagi pemuda bekas PETA, HEIHO, Pelaut dan lainnya yang tinggal di sekitar Pejagoan. Kegiatan pendaftaran, pembentukan serta kesiagaan pasukan BKR dilakukan dengan mengambil tempat di Komplek Perumahan Pabrik Genteng Soka di Kebulusan.
Seperti halnya dengan di tempat-tempat lain,bekal bagi pasukan BKR Pejagoan diselenggarakan oleh Wedana Pejagoan. Pelaksanaannya dilakukan oleh Camat Pejagoan Daroesman dengan dibantu oleh Ibu-ibu Perwari Pejagoan.
Seragam BKR Pejagoan tidak berbeda dengan pasukan BKR lainnya. Ada yang sebagian hijau bekas PETA, sebagian lagi khaki bekas HEIHO, dan sebagian besar campuran milik masing-masing. Senjata pasukan BKR Pejagoan pada awalnya dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Akan tetapi mereka memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan, meskipun hanya dengan bersenjata keris, tombak, pedang dan bambu runcing.

7. Di Karanganyar
Di Karanganyar dilakukan rapat untuk menanggapi seruan Presiden tentang pembentukan BKR, rapat ini di selenggarakan di rumah tinggal eks Bundancho Bambang Widjanarko. Rapat memutuskan tentang waktu dan tempat pendaftaran masuk BKR untuk para pemuda yang tinggal di sekitar Karanganyar, baik bekas prajurit maupun yang bukan. Wedana Karanganyar Hardjo Kartoatmodjo selaku ketua BPKKP dibantu ibu-ibu Perwari menyelenggarakan bekal pasukan BKR Karanganyar. Senjata BKR Karanganyar berjumlah 5 pucuk. Senjata tersebut dimiliki karena sebelum BKR terbentuk para bekas prajurit PETA sudah bertindak melucuti Jepang yang berada di Karanganyar. Meskipun begitu hanya dengan senjata bambu runcing dan senjata tajam yang beragam jenisnya sekalipun, BKR Karanganyar tetap siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Seragam bagi BKR Karanganyar ada 3 macam, yaitu : sebagian hijua bekas PETA, sebagian lagi khaki bekas HEIHO dan sebagian besar lainnya campuran milik masing-masing pemuda non prajurit.

8. Di Gombong
Seruan Presiden RI tanggal 23 Agustus 1945 yang diteruskan melalui pamong praja disambut baik para pemuda bekas PETA, HEIHO, Pelaut, KNIL, serta pemuda lain. Mereka bergegas untuk mendaftarkan diri masuk BKR ke Kesatrian. Dalam waktu singkat terhimpunlah pasukan sebesar 2 kompi. Gombong fasilitas militer yang lengkap, berbeda dengan Karanganyar dan Kebumen. Meskipun mereka telah dibubarkan, namun terdapat beberapa bekas prajurit PETA yang tetap berkumpul dan siaga di Kesatrian. Pengarahan pasukan BKR Gombong disampaikan oleh eks Chudancho Sarbini. Atas permintaan Wedana Gombong Sosroboesono, ibu-ibu Perwari Gombong menyelenggarakan dapur umum, untuk menyediakan ”Nuk” bagi pasukan BKR Gombong.
Sementara itu Kepala Polisi Gombong meminjamkan 40 pucuk senjatanya kepada pihak BKR Gombong, setelah sebelumnya Komandan Pasukan BKR Gombong minta bantuan pinjaman senjata.
Secara keseluruhan dalam hal organisasi, Badan Keamanan Rakyat merupakan organisasi lokal dibawah BPKKP setempat. Ia tidak mempunyai garis komando dari tingkat teratas hingga ke Kabupaten-kabupaten dan Kecamatan-kecamatan.

Iklan