Tan Malaka, Pahlawan Yang Terpinggirkan

TanMalaka_DariPendjara_ed3

 

Pada tanggal 19 Februari 1949, Tan Malaka diculik dan dua hari kemudian dieksekusi mati di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, Jawa Timur. Sejak saat itu, selama berpuluh tahun tidak diketahui secara pasti di mana pusara terakhir tokoh pergerakan tersebut.

Di penghujungJanuari lalu, ada titik terang atas jasad yang diduga adalah milik Tan Malaka.Hasil pemeriksaan dari jasad yang tersisa, yaitu 0,25 gram gigi dan 1,1 gram tulang menunjukkan bahwa itu adalah jasad penulis buku Madilog. Pemeriksaan ini juga diperkuat dengan kesesuaian bahan sampel DNA keponakan laki-laki Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin. Begitu pentingnya tokoh ini menjadikan penelitian yang dilakukan oleh Sejarawan Belanda Harry A. Poeze selama kurang lebih 40 tahun harus dibuktikan secara medis melalui tes DNA.

Menurut Aswi Warman Adam, berdasarkan kajian historis menunjukkan bahwa makam di Selopanggung itu merupakan kuburan terakhir Tan Malaka. Indikasinya, merujuk pada data penelitian forensik yang menyimpulkan bahwa jenazah yang pernah bersemayam di makam itu merupakan seorang laki-laki, bertinggi badan 163-165 sentimeter, dikubur secara Islam dan dalam keadaan tangan terikat di belakang badan. Perkiraan tersebut sama dengan posisi Tan waktu ditembak mati oleh Letnan Sukotjo.

Tan Malaka adalah salah seorang pahlawan negeri ini yang namanya “dihilangkan” ketika Orde Baru berkuasa. Pada masa itu, tidak banyak orang tahu siapa dan bagaimana pemikiran Tan Malaka. Namanya sengaja disembunyikan pemerintah untuk melanggengkan propaganda sejarah. Penulis pun mulai mulai kenal dan menyukai tokoh yang satu ini semenjak di bangku kuliah. Sebelumnya tidak pernah mengenal siapa itu Tan Malaka, apalagi tentang pemikirannya.

Perjalanan politik Tan Malaka dimulai ketika ia berangkat ke Semarang tahun 1921. Di kota ini, ia banyak berkenalan dengan dengan tokoh-tokoh pergerakan haluan kiri seperti Muso, Alimin, Darsono,Tjokroaminoto, dan tokoh pergerakan lainnya. Dalam waktu yang relatif singkat ia dipercaya sebagai Ketua PKI sebelum akhirnya dibuang ke Belanda oleh pemerintah kolonial.

Membicarakan Tan Malaka tidak dapat dilepaskan dari komunisme. Sebagai seorang ketua partai,Tan Malaka tidak sepenuhnya sepakat dengan ajaran partai. Ketika PKI akan melakukan “pemberontakan” tahun 1926-1927, sejak awal Tan Malaka tidak sepakat karena rencana tersebut belum dipersiapkan secara matang. Di samping itu pula kondisi obyektif Indonesia berbeda dengan negara-negara komunis.

Rencana ini dilakukan oleh “Kelompok Prambanan” yang terdiri dari Semaun, Alimin,Prawirodirdjo, Musso, dan Darsono. Alhasil, pemberontakan ini berlangsung tidak serentak, hanya terjadi di Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Akibatnya, banyak kader dan simpatisan partai ini ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Sebagian lagi melarikan diri ke luar negeri.

Setelah pemberontakan yang gagal itu, Tan keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di perantauan Bangkok tahun 1927 bersama Subakat dan Djamaludin Tamin. Akan tetapi perjalanan partai ini tidak bertahan lama dan mati suri.

Pada masa perang kemerdekaan tahun 1947, ia mendirikan organisasi Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Ajarannya masih termasuk Marxis-Leninis yang juga termasuk radikal. Berkat pengalaman perjalanannya di berbagai negara, sekalipun masihmenganut Marxisme-Leninisme, namun dominasi Moskow tidak dapat diterima.Kelompok ini juga menolak perundingan dengan Belanda. Kemerdekaan tidak ada artinyajika kekuatan ekonomi tidak sepenuhnya dikuasai oleh negara. Ia menilai bahwayang dapat melihat dan mengetahui kondisi obyektif yang ada di Indonesia adalah masyarakat Indonesia, bukan negara lain.

Meski berpisahdengan PKI, Tan Malaka konsisten dengan perjuangan revolusionernya. Dia dengantegas menyatakan tidak setuju perundingan dengan Belanda kecuali atas dasarpengakuan kemerdekaan 100 persen.

Sikapnya itudiwujudkan dengan membentuk Persatuan Perjuangan. Wadah ini digunakan untukmenghimpun semua kekuatan revolusioner guna menggagalkan usaha-usaha diplomasiyang dilakukan pemerintah. Bahkan dalam pertemuan di Purwokerto tahun 1946, TanMalaka berhasil menghimpun 138 organisasi massa(Quo Vadis Golongan Kiri, 2000).

Rehabilitasi

Belum lama ini, di Surabaya terdapat sekelompokorang yang mengecam acara seminar dengan tema komunisme. Hal yang sama jugaterjadi di Semarang.Diskusi buku Tan Malaka dengan pembicara Harry A Poeze sang penulis buku juga diancam“dibubarkan” oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Nasib Bangsa (Mapenab).

Banyak orang yang menganggap komunisme itu hanyakelompok ateis atau anti agama. Walaupunsebagian besar anggota atau kader adalah ateis, ada banyak orang beragama yangmenganut komunisme sebagai ideologi ekonomi politiknya. Misalnya saja HajiMisbach, dari Solo. Tokoh agama ini menganut komunisme sebagai jalan politik karena pada saat itu PKI yang memiliki semangat perlawanan terhadap imperialisme.

Begitu pula ketika membaca sejarah perjalanan hidup Tan Malaka.Sebagai bocah Minang, Tan hidup dalam nuansa keagamaan yang cukup kuat. Bahkan,diceritakan salah seorang keponakan Tan Malaka, bahwa penulis buku Dari Penjara Ke Penjara ini juga hafalal-Qur’an. Bahkan, sejak terpilih sebagai Ketua PKI tahun 1921-1922 iamengingatkan perlunya persatuan antara komunisme dan Islam dalam revolusi Indonesia.Gagasan Pan-Islamisme ini pun kembali ia sampaikan dalam Kongres Komunis Internasional (komintern) IV di Petrograd, Rusia pada November 1922.

Tudingan komunisme adalah ateis bisa dikaitkan dengan ungkapan KarlMarx (1888), seorang penggagas komunisme yang mengatakan “agama adalah candu.” Baginya,dengan iming-iming surga, agama mengajarkan para pemeluknya untuk selalu pasrah dengan keadaan. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat perlawanan dan perjuangan kelas terhadap pemilik modal. Ungkapan itu kemudian ditafsirkan berbeda demi kepentingan tertentu. Alhasil, membicarakan komunisme

Tan Malaka adalah salah seorang tokoh nasionalis yang pertama menuangkan konsep tentang konstruksi masyarakat bangsayang dibayangkan (the imagined community)di masa depan. Baginya, partai hanyalah alat untukmencapai perjuangan, yakni kemerdekaan bagi Indonesia. Komitmen ini sudah ditunjukkannya ketika berada di Kanton tahun 1925 dengan menulis buku Naar de Republik Indonesia (MenujuKemerdekaan Republik Indonesia).

Nama Tan Malaka tidak begitu dikenal jika dibandingkan dengan Soekano, Hatta, Muh. Yamin, dan lain sebagainya. Padahal pemikiran dan karya-karya yang dihasilkan banyak mengispirasi tokoh-tokoh pergerakan saat itu. Gagasan tentang kemerdekaan Indonesia diajukanya lebih dulu daripada Hatta yang menulis Indonesia Vrije (1928) dan Soekarno yang menulis MenujuIndonesia Merdeka (1933). Bahkan sesuai keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan Nasional.

Ironis, ketika sudah banyak orang yang tahu bagaimana petualangannya di berbagai negara untuk kemerdekaan negara ini,apakah peran dan namanya dipinggirkan begitu saja. Meski tidak mudah, nama Tan Malaka perlu direhabilitasi dan disejajarkan dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Ada banyakcerita, inspirasi dan motivasi yang muncul setiap kali mendiskusikan tokoh ini.Tan Malaka adalah seorang radikal dalam pemikiran, tapi seorang nasionalis dalam semua tindakannya.

 

Penulis M Dalhar.

Iklan