Tan Malaka, Pahlawan Yang Terpinggirkan

TanMalaka_DariPendjara_ed3

 

Pada tanggal 19 Februari 1949, Tan Malaka diculik dan dua hari kemudian dieksekusi mati di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, Jawa Timur. Sejak saat itu, selama berpuluh tahun tidak diketahui secara pasti di mana pusara terakhir tokoh pergerakan tersebut.

Di penghujungJanuari lalu, ada titik terang atas jasad yang diduga adalah milik Tan Malaka.Hasil pemeriksaan dari jasad yang tersisa, yaitu 0,25 gram gigi dan 1,1 gram tulang menunjukkan bahwa itu adalah jasad penulis buku Madilog. Pemeriksaan ini juga diperkuat dengan kesesuaian bahan sampel DNA keponakan laki-laki Tan Malaka, Zulfikar Kamarudin. Begitu pentingnya tokoh ini menjadikan penelitian yang dilakukan oleh Sejarawan Belanda Harry A. Poeze selama kurang lebih 40 tahun harus dibuktikan secara medis melalui tes DNA.

Menurut Aswi Warman Adam, berdasarkan kajian historis menunjukkan bahwa makam di Selopanggung itu merupakan kuburan terakhir Tan Malaka. Indikasinya, merujuk pada data penelitian forensik yang menyimpulkan bahwa jenazah yang pernah bersemayam di makam itu merupakan seorang laki-laki, bertinggi badan 163-165 sentimeter, dikubur secara Islam dan dalam keadaan tangan terikat di belakang badan. Perkiraan tersebut sama dengan posisi Tan waktu ditembak mati oleh Letnan Sukotjo.

Tan Malaka adalah salah seorang pahlawan negeri ini yang namanya “dihilangkan” ketika Orde Baru berkuasa. Pada masa itu, tidak banyak orang tahu siapa dan bagaimana pemikiran Tan Malaka. Namanya sengaja disembunyikan pemerintah untuk melanggengkan propaganda sejarah. Penulis pun mulai mulai kenal dan menyukai tokoh yang satu ini semenjak di bangku kuliah. Sebelumnya tidak pernah mengenal siapa itu Tan Malaka, apalagi tentang pemikirannya.

Perjalanan politik Tan Malaka dimulai ketika ia berangkat ke Semarang tahun 1921. Di kota ini, ia banyak berkenalan dengan dengan tokoh-tokoh pergerakan haluan kiri seperti Muso, Alimin, Darsono,Tjokroaminoto, dan tokoh pergerakan lainnya. Dalam waktu yang relatif singkat ia dipercaya sebagai Ketua PKI sebelum akhirnya dibuang ke Belanda oleh pemerintah kolonial.

Membicarakan Tan Malaka tidak dapat dilepaskan dari komunisme. Sebagai seorang ketua partai,Tan Malaka tidak sepenuhnya sepakat dengan ajaran partai. Ketika PKI akan melakukan “pemberontakan” tahun 1926-1927, sejak awal Tan Malaka tidak sepakat karena rencana tersebut belum dipersiapkan secara matang. Di samping itu pula kondisi obyektif Indonesia berbeda dengan negara-negara komunis.

Rencana ini dilakukan oleh “Kelompok Prambanan” yang terdiri dari Semaun, Alimin,Prawirodirdjo, Musso, dan Darsono. Alhasil, pemberontakan ini berlangsung tidak serentak, hanya terjadi di Jawa Barat, dan Sumatera Barat. Akibatnya, banyak kader dan simpatisan partai ini ditangkap dan dibuang ke Boven Digul. Sebagian lagi melarikan diri ke luar negeri.

Setelah pemberontakan yang gagal itu, Tan keluar dari PKI dan mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di perantauan Bangkok tahun 1927 bersama Subakat dan Djamaludin Tamin. Akan tetapi perjalanan partai ini tidak bertahan lama dan mati suri.

Pada masa perang kemerdekaan tahun 1947, ia mendirikan organisasi Musyawarah Rakyat Banyak (Murba). Ajarannya masih termasuk Marxis-Leninis yang juga termasuk radikal. Berkat pengalaman perjalanannya di berbagai negara, sekalipun masihmenganut Marxisme-Leninisme, namun dominasi Moskow tidak dapat diterima.Kelompok ini juga menolak perundingan dengan Belanda. Kemerdekaan tidak ada artinyajika kekuatan ekonomi tidak sepenuhnya dikuasai oleh negara. Ia menilai bahwayang dapat melihat dan mengetahui kondisi obyektif yang ada di Indonesia adalah masyarakat Indonesia, bukan negara lain.

Meski berpisahdengan PKI, Tan Malaka konsisten dengan perjuangan revolusionernya. Dia dengantegas menyatakan tidak setuju perundingan dengan Belanda kecuali atas dasarpengakuan kemerdekaan 100 persen.

Sikapnya itudiwujudkan dengan membentuk Persatuan Perjuangan. Wadah ini digunakan untukmenghimpun semua kekuatan revolusioner guna menggagalkan usaha-usaha diplomasiyang dilakukan pemerintah. Bahkan dalam pertemuan di Purwokerto tahun 1946, TanMalaka berhasil menghimpun 138 organisasi massa(Quo Vadis Golongan Kiri, 2000).

Rehabilitasi

Belum lama ini, di Surabaya terdapat sekelompokorang yang mengecam acara seminar dengan tema komunisme. Hal yang sama jugaterjadi di Semarang.Diskusi buku Tan Malaka dengan pembicara Harry A Poeze sang penulis buku juga diancam“dibubarkan” oleh sekelompok orang yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Nasib Bangsa (Mapenab).

Banyak orang yang menganggap komunisme itu hanyakelompok ateis atau anti agama. Walaupunsebagian besar anggota atau kader adalah ateis, ada banyak orang beragama yangmenganut komunisme sebagai ideologi ekonomi politiknya. Misalnya saja HajiMisbach, dari Solo. Tokoh agama ini menganut komunisme sebagai jalan politik karena pada saat itu PKI yang memiliki semangat perlawanan terhadap imperialisme.

Begitu pula ketika membaca sejarah perjalanan hidup Tan Malaka.Sebagai bocah Minang, Tan hidup dalam nuansa keagamaan yang cukup kuat. Bahkan,diceritakan salah seorang keponakan Tan Malaka, bahwa penulis buku Dari Penjara Ke Penjara ini juga hafalal-Qur’an. Bahkan, sejak terpilih sebagai Ketua PKI tahun 1921-1922 iamengingatkan perlunya persatuan antara komunisme dan Islam dalam revolusi Indonesia.Gagasan Pan-Islamisme ini pun kembali ia sampaikan dalam Kongres Komunis Internasional (komintern) IV di Petrograd, Rusia pada November 1922.

Tudingan komunisme adalah ateis bisa dikaitkan dengan ungkapan KarlMarx (1888), seorang penggagas komunisme yang mengatakan “agama adalah candu.” Baginya,dengan iming-iming surga, agama mengajarkan para pemeluknya untuk selalu pasrah dengan keadaan. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat perlawanan dan perjuangan kelas terhadap pemilik modal. Ungkapan itu kemudian ditafsirkan berbeda demi kepentingan tertentu. Alhasil, membicarakan komunisme

Tan Malaka adalah salah seorang tokoh nasionalis yang pertama menuangkan konsep tentang konstruksi masyarakat bangsayang dibayangkan (the imagined community)di masa depan. Baginya, partai hanyalah alat untukmencapai perjuangan, yakni kemerdekaan bagi Indonesia. Komitmen ini sudah ditunjukkannya ketika berada di Kanton tahun 1925 dengan menulis buku Naar de Republik Indonesia (MenujuKemerdekaan Republik Indonesia).

Nama Tan Malaka tidak begitu dikenal jika dibandingkan dengan Soekano, Hatta, Muh. Yamin, dan lain sebagainya. Padahal pemikiran dan karya-karya yang dihasilkan banyak mengispirasi tokoh-tokoh pergerakan saat itu. Gagasan tentang kemerdekaan Indonesia diajukanya lebih dulu daripada Hatta yang menulis Indonesia Vrije (1928) dan Soekarno yang menulis MenujuIndonesia Merdeka (1933). Bahkan sesuai keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan Nasional.

Ironis, ketika sudah banyak orang yang tahu bagaimana petualangannya di berbagai negara untuk kemerdekaan negara ini,apakah peran dan namanya dipinggirkan begitu saja. Meski tidak mudah, nama Tan Malaka perlu direhabilitasi dan disejajarkan dengan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Ada banyakcerita, inspirasi dan motivasi yang muncul setiap kali mendiskusikan tokoh ini.Tan Malaka adalah seorang radikal dalam pemikiran, tapi seorang nasionalis dalam semua tindakannya.

 

Penulis M Dalhar.

Bomber Tu – 16 Indonesia era Soekarno

Tupolev Tu-16 (kode NATO: Badger) adalah sebuah pembom jet bermesin ganda yang dikembangkan dan digunakan oleh Angkatan Udara Uni Soviet. Pesawat ini telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun, dan masih beroperasi di Angkatan Udara Cina dengan varian Xian H-6.

Dirancang untuk menjadi serba bisa, Tu-16 diproduksi dalam berbagai varian untuk mata-mata, patroli maritim, pengumpul data elektronik intelijen, dan perang elektronik. Sebanyak 1507 pesawat dibangun di tiga pabrik pesawat di Uni Soviet antara tahun 1954 hingga tahun 1962. Varian untuk sipil, Tu-104 Camel, menjadi pesawat penumpang untuk maskapai penerbangan Uni Soviet, Aeroflot.

Tu-16 sempat diekspor ke Mesir, Indonesia dan Irak. Pesawat pembom strategis ini terus digunakan oleh angkatan udara dan angkatan laut Uni Soviet (kemudian Rusia) hingga tahun 1993.

Tu-16 dan TNI-AU

25 unit pesawat bomber ini, varian Tu-16KS-1 dimiliki oleh AURI (nama TNI-AU waktu itu) pada tahun 1961. Pesawat-pesawat ini digunakan untuk mempersiapkan diri dalam Operasi Trikora tahun 1962 untuk merebut kembali Irian Barat dari Belanda. Semua pesawat ini direncanakan untuk menyerang Hr. Ms. Karel Doorman, kapal induk AL Belanda yang tengah berlayar dekat Irian Barat saat itu menggunakan rudal anti-kapal AS-1 Kennel,

14 unit Tu-16 tergabung dalam Skadron 41 dan sisanya di Skadron 42. Kedua skadron ini bermarkas di Pangkalan Udara AURI Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur. Semua unit Tu-16 tidak diterbangkan lagi pada tahun 1969 dan keluar dari armada AURI pada tahun 1970.

Awal masuk TNI AU

Bila predikat Angkatan Udara terkuat di Asia Tenggara kini di pegang oleh Singapura, maka di era tahun 60-an kekuatan angkatan udara negeri kita boleh dibilang menjadi “singa”, tak cuma di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia TNI-AU kala itu sangat diperhitungkan. Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 Hustler), Inggris (V bomber-nya, Vulcan, Victor, serta Valiant) dan Rusia.

Gelar “singa” tentu bukan tanpa alasan, di awal tahun 60-an TNI-AU sudah memiliki arsenal pembom tempur mutakhir (dimasanya-red) Tu-16, yang punya daya jelajah cukup jauh, dan mampu membawa muatan bom dalam jumlah besar. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan ambisi politik.

“Tu-16 masih dalam pengembangan dan belum siap untuk dijual,” ucap Dubes Rusia untuk Indonesia Zhukov kepada Bung Karno (BK) suatu siang di penghujung tahun 50-an. Ini menandakan, pihak Rusia masih bimbang untuk meluluskan permintaan Indonesia membeli Tu-16. Tapi apa daya Rusia, AURI ngotot. BK terus menguber Zhukov tiap kali bersua. “Gimana nih, Tu-16-nya,” kira-kira begitu percakapan dua tokoh ini. Akhirnya, mungkin bosan dikuntit terus, Zhukov melaporkan juga keinginan BK kepada Menlu Rusia Mikoyan. Usut punya usut, kenapa BK begitu semangat? Ternyata, Letkol Salatun-lah pangkal masalahnya. “Saya ditugasi Pak Surya (KSAU Suryadarma-Red) menagih janji Bung Karno setiap ada kesempatan,” aku Marsda (Pur) RJ Salatun tertawa.

Ketika ide pembelian Tu-16 dikemukakan Salatun saat itu sekretaris Dewan Penerbangan/Sekretaris Gabungan Kepala-kepala Staf kepada Suryadarma tahun 1957, tidak seorangpun tahu. Maklum, TNI tengah sibuk menghadapi PRRI/Permesta. Namun dari pemberontakan itu pula, semua tersentak. AURI tidak punya pembom strategis! B-25 yang dikerahkan menghadapi AUREV (AU Permesta), malah merepotkan. Karena daya jelajahnya terbatas, pangkalannya harus digeser, peralatan pendukungnya harus diboyong. Waktu dan tenaga tersita. Sungguh tidak efektif. Celaka lagi, Amerika meng-embargo suku cadangnya. Alhasil, gagasan memiliki Tu-16 semakin terbuka.

Salatun yang menemukan proyek Tu-16 dari majalah penerbangan asing tahun 1957, menyampaikannya kepada Suryadarma. “Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh sekalipun dan kembali sebelum makan siang,” jelasnya kepada KSAU. “Bagaimana pangkalannya,” tanya Pak Surya. “Kita akan pakai Kemayoran yang mampu menampung pesawat jet,” jawab Salatun. Seiring disetujuinya rencana pembelian Tu-16 ini, landas pacu Lanud Iswahyudi, Madiun, kemudian turut diperpanjang.

Proses pembeliannya memang tidak mulus. Sejak dikemukakan, baru terealisasi 1 Juli 1961, ketika Tu-16 pertama mendarat di Kemayoran. Ketika lobi pembeliannya tersekat dalam ketidakpastian, Cina pernah dilirik agar membantu menjinakkan “beruang merah”. Caranya, Cina diminta menalangi dulu pembeliannya. Namun usaha ini sia-sia, karena neraca perdagangan Cina-Rusia lagi terpuruk. Sebaliknya, “Malah Cina menawarkan Tu-4m Bull-nya,” tutur Salatun. Misi Salatun ke Cina sebenarnya mencari tambahan B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

Jadi, pemilihan Tu-16 memperkuat AURI bukan semata alat diplomasi. Penyebab lain adalah embargo senjata Amerika. Padahal saat bersamaan, AURI sangat membutuhkan suku cadang B-25 dan P-51 untuk menghantam AUREV.

Tahun 1960, Salatun berangkat ke Moskow bersama delegasi pembelian senjata dipimpin Jenderal AH Nasution. Sampai kedatangannya, delegasi belum tahu, apakah Tu-16 sudah termasuk dalam daftar persenjataan yang disetujui Soviet. Perintah BK hanya, cari senjata. Apa yang terjadi. Tu-16 termasuk dalam daftar persenjataan yang ditawarkan Uni Soviet. Betapa kagetnya delegasi.

“Karena Tu-16 kami berikan kepada Indonesia, maka pesawat ini akan kami berikan juga kepada negara sahabat lain,” ujar Menlu Mikoyan. Mulai detik itu, Indonesia menjadi negara ke empat di dunia yang mengoperasikan pembom strategis selain Amerika, Inggris dan Rusia sendiri. Hebat lagi, AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu-16 dengan Anti Radiation Paint cat khusus anti radiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir. “Gertak musuh saja, AURI kan tak punya bom nuklir,” tutur Salatun. Usul tersebut ditolak.

Segera AURI mempersiapkan awaknya. Puluhan kadet dikirim ke Chekoslovakia dan Rusia. Mereka dikenal dengan angkatan Cakra I, II, III, Ciptoning I dan Ciptoning II.
Mulai tahun 1961, ke-24 Tu-16 mulai datang bergiliran diterbangkan awak Indonesia maupun Rusia. Pesawat pertama yang mendarat di Kemayoran dikemudikan oleh Komodor Udara (sekarang Marsda TNI Pur Cok Suroso Hurip). Mendapat perhatian terutama dari kalangan intel Amerika.

Kesempatan pertama intel-intel AS melihat Tu-16 dari dekat ini, memberikan kesempatan kepada mereka memperkirakan kapasitas tangki dan daya jelajahnya. Pengintaian terus dilakukan AS sampai saat Tu-16 dipindahkan ke Madiun. U-2 pun mereka libatkan. Wajar, di samping sebagai negara pertama yang mengoperasikan Tu-16 di luar Rusia, kala itu beraneka ragam pesawat blok Timur lainnya berjejer di Madiun.

Persiapan Operasi Trikora

Saat Trikora dikumandangkan, angkatan perang Indonesia sedang berada pada “puncaknya”. Lusinan persenjataan Blok Timur dimiliki. Mendadak AURI berkembang jadi kekuatan terbesar di belahan bumi selatan. Dalam mendukung kampanye Trikora, AURI menyiapkan satu flight Tu-16 di Morotai yang hanya memerlukan 1,5 jam penerbangan dari Madiun. “Kita siaga 24 jam di sana,” ujar Kolonel (Pur) Sudjijantono, salah satu penerbang Tu-16. “Sesekali terbang untuk memanaskan mesin. Tapi belum pernah membom atau kontak senjata dengan pesawat Belanda,” ceritanya kepada Angkasa. Saat itu, dikalangan pilot Tu-16 punya semacam target favorit, yaitu kapal induk Belanda Karel Doorman.

Selain memiliki 12 Tu-16 versi bomber (Badger A) yang masuk dalam Skadron 41, AURI juga memiliki 12 Tu-16 KS-1 (Badger B) yang masuk dalam Skadron 42 Wing 003 Lanud Iswahyudi. Versi ini mampu membawa sepasang rudal anti kapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Rudal inilah yang ditakuti Belanda. Karena hantaman enam Kennel, mampu menenggelamkan Karel Doorman ke dasar samudera. Sayangnya, hingga Irian Barat diselesaikan melalui PBB atas inisiatif pemerintah Kennedy, Karel Doorman tidak pernah ditemukan Tu-16.

Lain lagi kisah Idrus Abas (saat itu Sersan Udara I), operator radio sekaligus penembak ekor (tail gunner) Tu-16. Bulan Mei 1962, saat perundingan RI-Belanda berlangsung di PBB, merupakan saat paling mendebarkan. Awak Tu-16 disiagakan di Morotai. Dengan bekal radio transistor, mereka memonitor hasil perundingan. Mereka diperintahkan, “Kalau perundingan gagal, langsung bom Biak,” ceritanya mengenang. “Kita tidak tahu, apakah bisa kembali atau tidak setelah mengebom,” tambah Sjahroemsjah yang waktu itu berpangkat Sersan Udara I, rekan Idrus yang bertugas sebagai operator radio/tail gunner. Istilahnya, one way ticket operation.

Namun para awak Tu-16 di Morotai ini, tidak akan pernah melupakan jerih payah ground crew-nya. “Yang paling susah kalau isi bahan bakar. Bayangkan untuk sebuah Tu-16, dibutuhkan sampai 70 drum bahan bakar. Kadang ngangkutnya tidak pakai pesawat, jadi langsung diturunkan dari kapal laut. Itupun dari tengah laut. Makanya, sering mereka mendorong dari tengah laut,” ujar Idrus. Derita awak darat itu belum berakhir, lantaran untuk memasukkan ke tangki pesawat yang berkapasitas kurang lebih 45.000 liter itu, masih menggunakan cara manual. Di suling satu per satu dari drum hingga empat hari empat malam. Hanya sebulan Tu-16 di Morotai, sebelum akhirnya ditarik kembali ke Madiun usai Trikora.

Rudal Kennel


Kennel memang tidak pernah ditembakkan. Tapi ujicoba pernah dilakukan sekitar tahun 1964-1965. Kennel ditembakkan ke sebuah pulau karang di tengah laut, persisnya antara Bali dan Ujung Pandang. “Nama pulaunya Arakan,” aku Hendro Subroto, mantan wartawan TVRI. Dalam ujicoba, Hendro mengikuti dari sebuah C-130 Hercules bersama KSAU Omar Dhani. Usai peluncuran, Hercules mendarat di Denpasar. Dari Denpasar, dengan menumpang helikopter Mi-6, KSAU dan rombongan terbang ke Arakan melihat perkenaan. “Tepat di tengah, plat bajanya bolong,” jelas Hendro.

Diuber Javelin

Lebih tepat, di masa Dwikoralah awak Tu-16 merasakan ketangguhan Tu-16. Apa pasal? Ternyata, berkali-kali pesawat ini dikejar pesawat tempur Inggris. Rupanya, Inggris menyadap percakapan AURI di Lanud Polonia Medan dari Butterworth, Penang.

“Jadi mereka tahu kalau kita akan meluncur,” ujar Marsekal Muda (Pur) Syah Alam Damanik, penerbang Tu-16 yang sering mondar-mandir di selat Malaka.

Damanik menuturkan pengalamannya di kejar Javelin pada tahun 1964. Damanik terbang dengan ko-pilot Sartomo, navigator Gani dan Ketut dalam misi kampanye Dwikora.

Pesawat diarahkan ke Kuala Lumpur, atas saran Gani. Tidak lama kemudian, dua mil dari pantai, Penang (Butterworth) sudah terlihat. Mendadak, salah seorang awak melaporkan bahwa dua pesawat Inggris take off dari Penang. Damanik tahu apa yang harus dilakukan. Dia berbelok menghindar. “Celaka, begitu belok, nggak tahunya mereka sudah di kanan-kiri sayap. Cepat sekali mereka sampai,” pikir Damanik. Javelin-Javelin itu rupanya berusaha menggiring Tu-16 untuk mendarat ke wilayah Singapura atau Malaysia (forced down). Dalam situasi tegang itu, “Saya perintahkan semua awak siaga. Pokoknya, begitu melihat ada semburan api dari sayap mereka (menembak-Red), kalian langsung balas,” perintahnya. Perhitungan Damanik, paling tidak sama-sama jatuh. Anggota Wara (wanita AURI) yang ikut dalam misi, ketakutan. Wajah mereka pucat pasi.

Dalam keadaan serba tak menentu, Damanik berpikir cepat. Pesawat ditukikkannya untuk menghindari kejaran Javelin. Mendadak sekali. “Tapi, Javelin-Javelin masih saja nempel. Bahkan sampai pesawat saya bergetar cukup keras, karena kecepatannya melebihi batas (di atas Mach 1).” Dalam kondisi high speed itu, sekali lagi Damanik menunjukkan kehebatannya. Ketinggian pesawat ditambahnya secara mendadak. Pilot Javelin yang tidak menduga manuver itu, kebablasan. Sambil bersembunyi di balik awan yang menggumpal, Damanik membuat heading ke Medan.

Segenap awak bersorak kegirangan. Tapi kasihan yang di ekor (tail gunner). Mereka berteriak ternyata bukan kegirangan, tapi karena kena tekanan G yang cukup besar saat pesawat menanjak. Akibat manuver yang begitu ketat saat kejar-kejaran, perangkat radar Tu-16 jadi ngadat. “Mungkin saya terlalu kasar naiknya. Tapi nggak apa-apa, daripada dipaksa mendarat oleh Inggris,” ujar Damanik mengenang peristiwa itu.

Lain lagi cerita Sudjijantono. “Saya ditugaskan menerbangkan Tu-16 ke Medan lewat selat Malaka di Medan selalu disiagakan dua Tu-16 selama Dwikora. Satu pesawat terbang ke selatan dari Madiun melalui pulau Christmas (kepunyaan Inggris), pulau Cocos, kepulauan Andaman Nikobar, terus ke Medan,” katanya. Pesawat berikutnya lewat jalur utara melalui selat Makasar, Mindanao, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Laut Cina selatan, selat Malaka, sebelum akhirnya mendarat di Medan. Ada juga yang nakal, menerobos tanah genting Kra.

Walau terkesan “gila-gilaan”, misi ini tetap sesuai perintah. BK memerintahkan untuk tidak menembak sembarangan. Dalam misi berbau pengintaian ini, beberapa sempat ketahuan Javelin. Tapi Inggris hanya bertindak seperti “polisi”, untuk mengingatkan Tu-16 agar jangan keluar perbatasan.

Misi ala stealth


Masih dalam Dwikora. Pertengahan 1963, AURI mengerahkan tiga Tu-16 versi bomber (Badger A) untuk menyebarkan pamflet di daerah musuh. Satu pesawat ke Serawak, satunya ke Sandakan dan Kinibalu, Kalimantan. Keduanya wilayah Malaysia. Pesawat ketiga ke Australia. Khusus ke Australia, Tu-16 yang dipiloti Komodor Udara (terakhir Marsda Purn) Suwondo bukan menyebarkan pamflet. Tapi membawa peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi dan makanan kaleng. Skenarionya, barang-barang itu akan didrop di Alice Springs, Australia (persis di tengah benua), untuk menunjukkan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua kangguru itu. “Semacam psi-war buat Australia,” ujar Salatun.

Padahal Alice Springs ditongkrongi over the horizon radar system. “Untuk memantau seluruh kawasan Asia Pasifik,” ujar Marsma (Pur) Zainal Sudarmadji, pilot Tu-16 angkatan Ciptoning II.

Walau begitu, misi tetap dijalankan. Pesawat diberangkatkan dari Madiun sekitar jam satu malam. “Pak Wondo (pilot pesawat-Red) tak banyak komentar. Beliau hanya minta, kita kumpul di Wing 003 pukul 11 malam dengan hanya berbekal air putih,” ujar Sjahroemsjah, gunner Tu-16 yang baru tahu setelah berkumpul bahwa mereka akan diterbangkan ke Australia.
Briefing berjalan singkat. Pukul 01.00 WIB, pesawat meninggalkan Madiun. Pesawat terbang rendah guna menghindari radar. Sampai berhasil menembus Australia dan menjatuhkan bawaan, tidak terjadi apa-apa. Pesawat pencegat F-86 Sabre pun tak terlihat aktivitasnya, rudal anti pesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga “tertidur”. Karena Suwondo berputar agak jauh, ketika tiba di Madiun matahari sudah agak tinggi. “Sekitar pukul delapan pagi,” kata Sjahroemsjah.

Penyusupan ke Sandakan, dipercayakan ke Sudjijantono bersama Letnan Kolonel Sardjono (almarhum). Mereka berangkat dari Iswahyudi (Madiun) jam 12 malam. Pesawat membumbung hingga 11.000 m. Menjelang adzan subuh, mereka tiba di Sandakan. Lampu-lampu rumah penduduk masih menyala. Pesawat terus turun sampai ketinggian 400 m. Persis di atas target (TOT), ruang bom (bomb bay) dibuka. Seperti berebutan, pamflet berhamburan keluar disedot angin yang berhembus kencang.

Usai satu sortie, pesawat berputar, kembali ke lokasi semula. “Ternyata sudah gelap, tidak satupun lampu rumah yang menyala,” kata Sudjijantono. Rupanya, aku Sudjijantono, Inggris mengajari penduduk cara mengantisipasi serangan udara. Akhirnya, setelah semua pamflet diserakkan, mereka kembali ke Iswahyudi dan mendarat dengan selamat pukul 08.30 pagi. Artinya, kurang lebih sepuluh jam penerbangan. Semua Tu-16 kembali dengan selamat.

Dapat dibayangkan, pada dekade 60-an AURI sudah sanggup melakukan operasi-operasi penyusupan udara tanpa terdeteksi radar lawan. Kalaulah sepadan, bak operasi NATO ke Yugoslavia dengan pesawat silumannya.

Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970.

Dokumen CIA (central intelligence agency) sebagaimana dikutip Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya “Subversi Sebagai Politik Luar Negeri” menulis: “Belanja senjata RI mencapai 229. 395.600 dollar AS. Angka itu merupakan akumulasi perdagangan pada tahun 1958. Sementara dari Januari hingga Agustus 1959 saja, nilainya mencapai 100.456.500 dollar AS. Dari jumlah ini, AURI kebagian 69.912. 200 dollar AS, yang di dalamnya termasuk pemesanan 20 pesawat pembom.”

Tidak dapat dipungkiri, memang, Tu-16 pembom paling maju pada zamannya. Selain dilengkapi peralatan elektronik canggih, badannya terbilang kukuh. “Badannya tidak mempan dibelah dengan kampak paling besar sekalipun. Harus pakai las yang besar. Bahkan, untuk membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya, laspun tak sanggup. Karena campuran magnesiumnya lebih banyak ketimbang alumunium,” ujar Bagio.

Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan spare pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. “Kita terpaksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas dengan kedudukannya. Seperti blister (kubah kaca-Red), mesti diamplas dulu,” kenang Bagio lagi. Pengadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran.

Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia, memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdiannya selama Trikora – Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16-nya ke Mesir. Namun hal ini tidak pernah terlaksana.

Begitulah nasib Tu-16. Tragis. Farewell flight, penerbangan perpisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada bulan Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. “Sempat ke sasar waktu kita cari Monas,” ujar Zainal Sudarmadji. Saat mendarat lagi di Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem secara mendadak.

Patut diakui, keberadaan pembom strategis mampu memberikan efek psikologis bagi lawan-lawan Indonesia saat itu. Bahkan, sampai pertengahan 80-an, Tu-16 AURI masih dianggap ancaman oleh AS. “Lah, wong nama saya masih tercatat sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay, kok,” ujar Sudjijantono, angkatan Cakra 1.

Sekian tahun hidup dalam kedigdayaan, sampailah AURI (juga ALRI) pada massa yang teramat pahit dalam perjalanannya. Pasokan suku cadang terhenti, nasib pesawat tak jelas. Ditulis oleh Harold Crouch “Politik dan Militer di Indonesia”, 1978), AL dan AU yang bergantung pada teknologi yang lebih maju dari AD tidak dapat memelihara lagi dengan baik peralatannya.

Pada awal tahun 1970, KSAU Marsdya Suwoto Sukendar mengatakan, hanya 15 sampai 20 persen pesawat AURI yang dapat diterbangkan kapal ALRI hanya 40 persen karena ketiadaan suku cadang dari Uni Soviet. Tahun 1970, kemudian dikenang sebagai tahun pemusnahan persenjataan Blok Timur.

(Dikutip dari www.angkasa-online.com)

Kekuatan Militer Indonesia era Soekarno

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1960-an, Era Presiden Sukarno, kekuatan militer Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu, bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.

1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi masih dibawah kendali Belanda.

Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat itu  kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.

Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (Kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).

Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.

Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang.

Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang dikenal dengan nama TOP GUN.

Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev (Badger A dan B). ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.

Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.

Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini semua membuat Indonesia menjadi salah satu kekuatan militer laut dan udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima.

Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967

Kesaksian tentang Bung Karno
1945-1967
Oleh H. Mangil Martowidjojo

Pengalaman Mangil Martowidjojo, bersama sejumlah polisi rekannya merupakan suatu kisah yang menarik. Di mana dia bersama teman-temannya menjadi pengawal pribadi Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia.
Tugas mengawal presiden yang dilakukan oleh Mangil pertama kali pada 17 Agustus 1945 ketika Bung Karno bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan penugasan yang dilakukan Mangil sampai pada 16 Agustus 1967. Ketika seiringnya dengan bergantinya zaman. Lengser atau lebih tepatnya di lengserkan nya Bung Karno dari kursi kekuasaan. Mangil selalu berada di sisi Bung Karno selama 22 tahun dan ia bukan hanya menyaksikan tetapi sekaligus juga menghayati seluruh pengalaman Bung Karno, sejak dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Mengalami puncak kejayaannya hingga sampai pada saat kejatuhannya.
Mangil juga selalu menemani Bung Karno ketika terpaksa hijrah dari Jakarta menuju ke Jogjakarta. Dan juga menghadapi berbagai macam kudeta dari berbagai macam faktor dan ketidakpuasan para eks pejuang. Seperti contoh ini adalah pejuang revolusioner sosialis pimpinan Jendral Soedarsono, dalam peristiwa 3 juli 1946 yang ingin membunuh Presiden namun gagal, banyak tokoh yang terlibat dalam peristiwa 3 Juli 1946 antara lain :
1. Jendral Soedarsono, komandan divisi III
2. Achmad Soebardjo
3. Iwa Kusumasumantri
4. Sukarni
5. Chaerul Saleh
6. Sajuti Melik/Trimurti
7. Dr. Buntaran
8. Mohammad Yamin
9. Tan Malaka sebagai pemimpinnya
Mangil juga berdiri di samping Presiden ketika Istana Presiden di Jogjakarta diserbu oleh pasukan kolonel Van Langen dalam agresi militer Belanda yang kedua tanggal 19 desember 1948. Di mana aksi tersebut dinamai oleh Belanda sebagai aksi polisi atau politionele actie,dan oleh Bung Karno sebagai aksi militer. Di mana Belanda menyerang ibu kota negara yaitu Jogjakarta pada waktu itu, pada pagi hari dengan merebut pangkalan udara maguwo sebagai permulaanya lalu pasukan Belanda yaitu KL dan KNIL memasuki kota Jogjakarta melalui darat. Dan pada akhirnya Belanda dapat menawan Bung Karno beserta Mangil dan anak buahnya, sedangkan Jendral Soedirman mendapat mandat dari Presiden untuk melanjutkan pertempuran dengan cara gerilya dan Pemerintahan darurat didirikan di Sumatera. Pimpinan pun diserakan kepada Syafrudin Prawiranegara.
Namun pada akhirnya kemenangan pun dapat diraih dengan perundingan-perundingan yang dilakukan di dunia Internasional dan keluarlah perundingan Konfrensi Meja Bundar atau KMB yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia di dunia Internasional. Dan Bung Karno pun kembali ke Istana Negara di Jakarta pada akhir Desember 1949.
Mangil pula yang berada pada sisi Bung Karno ketika terjadi peristiwa Cikini pada 30 November 1957 di sekolah yayasan Cikini di mana putra – putri Bung Karno bersekolah. Dimana dilakukan lima lemparan granat yang hampir mengenai Presiden. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh Organisasi Gerakan Anti Komunis yang diketuai oleh Saleh Ibrahim. Gerakan ini tumbuh karena menganggap Presiden Soekarno sebagai pelindung Partai Komunis Indonesia sehingga Komunisme dapat berkembang dengan subur di Indonesia. Tokoh –tokoh dalam peristiwa cikini :
1. Joesoef Ismail
2. Saadon bin Muchamad
3. Tasrip bin Husein
4. Muchamad Tasim bin Abubakar
Pernah juga ketika sebuah pesawat Mig 17 AURI membuat kalang kabut Mangil dan anak buahnya karena melakukan penembakan di Istana Merdeka yang dilakukan oleh Letnan II Daniel Alexander Maukar pada tanggal 9 Maret 1960.
Mangil pun selalu menemani Bung Karno di manapun semisal di makassar dan pernah terjadi percobaan pembunuhan di sana oleh RPKAD REV ( Resimen Pertempuran Koordinator Angkatan Darat Revolusioner) yang bertujuan menentang pemerintahan yang sah dan meneruskan perjuangan Republik Persatuan Indonesia (RPI) untuk menghancurkan atau membatasi gerakan Komunis di Indonesia. Mereka berusaha membunuh Bung Karno dengan cara pelemparan granat, tetapi aksi tersebut tidak berhasil dan hanya membuat kerusakan di mobil Bung Karno dan beberapa rakyat menjadi korban. Beberapa pelakunya adalah :
1. Jan Pieter Korompis
2. Welly Trouwerbach
3. Lukas Hukom
4. Bagus Suja Tanaja
5. Alex Alfonsusratu
6. Marcus Octavianus Latupeirisia
7. Syamsudin
8. Sutar
9. Paulus
10. Maera Tapposubarang
11. Arsyad
Mangil pun berada di dekat Bung Karno waktu terjadi penembakan terhadap Bung Karno pada waktu perayaan Idul Adha. Di mana Bung Karno pada waktu itu di tembak dari jarak dekat tetapi tidak satu pun peluru mengenai beliau. Aksi ini dilakukan oleh anggata Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo yang menginginkan berdirinya negara Islam Indonesia.Para pelaku penembakan adalah:
1. Uci Sacusi Fikrat
2. Harun bin Karta
3. Hidayat bin Mustofa
4. Jahaman bin Mahadi
5. Hambali bin Tajudi
6. Pi’i bin Dachroji
7. Dacja bin Candra
8. Nurdin bin Satebi
Pengalaman Mangil pun tidak hanya pada hari-hari buruk saja tetapi juga pada saat kejayaan Internasional di mana Bung Karno menggebrak dunia Internasional dengan pidato terkenal berjudul To Build The World a New pada sidang umum PBB XV di New York, AS.
Mangil pun pernah menjadi saksi ketika Bung Karno menikah dengan hartini di Istana Cipanas. Dan salah satu kisah percintaan Bung Karno yang mungkin saja paling dramatis dimulai saat Bung Karno bersama Hartini terpaksa masih harus melakukan backstreet karena pada waktu itu Hartini masih terikat perkawinan dengan Soewondo. Dan sampai dengan menikah dan ini mereka harus berani menhadapi badai kecaman, tantangan dan bahkan demonstrasi dari sejumlah massa ormas wanita yang tetap menentang perkawinan mereka. Sampai kemudian setapak demi setapak keberadaan Hartini di Istana Bogor dapat diterima oleh masyarakat luas. Dan lebih penting lagi dapat diterima oleh anak-anak Bung Karno dari hasil perkawinanya dengan Fatmawati.
Menurut Mangil ada dua hal yang membanggakan Mangil ketika bertugas untuk mengawal Bung Karno, yakni ketika dia mendampingi Bung Karno pada tanggal 1 Oktober 1965 dan pada tanggal 11 Maret 1966.
Peristiwa pertama yaitu pada tanggal 1 Oktober 1965 atau lebih dikenal dengan gerakan 30S ini yaitu dimana terjadi sergapan dari angkatan darat resimen Dharma putra kostrad asal Diponegero dan Brawijaya yang dipimpin oleh Jendral Supardjo membangkang dan ingin melaporkan keberhasilan mereka dalam menertibkan para Jendral “pembangakang” serta me lurus kan kembali menurut anggapan mereka jalannya Revolusi kepada Presiden. Dimana pada waktu itu Istana Negara telah dikepung oleh pasukan kostrad dan Mangil melarikan Bung Karno yang pada waktu itu tidak berada di Istana negara menuju ke pangkalan Halim perdanakusuma.
Dan peristiwa kedua adalah pada tanggal 11 Maret 1966 dimana pada saat itu lahirnya Supersemar yang hingga saat ini masih menjadi misteri. Dan dimana pada saat itu juga sedang terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa dan Bung Karno pada waktu itu diungsikan ke Istana Bogor pada 10 Maret 1966 dan keesokan harinya menuju ke Istana Presiden di Jakarta. Dan di sekitar monas banyak pasukan liar dan setelah diselidiki ternyata pasukan RPKAD.dan Presiden tiba di Istana Negara dengan selamat dan setelah mengikuti sidang kabinet Bung Karno menuju kembali ke Istana Bogor. Ketika sudah di Istana Bogor ada beberapa tamu yang menemui Bung Karno yaitu :
1. Soebandrio
2. Chaerul Saleh
3. Jendral Basuki Rahmat
4. Jendral M Jusuf
5. Jendral Amirmachmud
6. Brigjen Sabur
Dan tidak diketahui apa yang dilakukan mereka di dalam paviliun tamu bersama Bung Karno, yang diketahui Mangil adalah Sabur pada waktu itu mengetik sesuatu dan keesokan harinya muncul Supersemar.
Dan sejak 17 Agustus 1967 Mangil tidak pernah bertemu dengan Bung Karno karena Mangil telah dipindahkan dan digantikan CPM Norman Sasono., Komandan Satgas Pomad (Satuan Tugas Polisi Militer Angkatan Darat)
Mangil pun pernah dipenjara selama tiga tahun di kamp tahanan militer karena disangka terlibat dengan gerakan 30S dan pada akhirnya Mangil dibebaskan karena tidak ada bukti dia terlibat dalam gerakan tersebut dan Mangil pun menyesal karena tidak dapat menemani Bung Karno pada saat-saat terakhirnya karena dia pada saat itu masih dipenjara.

Komentar

Menurut saya buku ini bagus di mana Mangil selaku kepala pengamanan presiden memberikan pegalaman-pengalamannya bersama presiden Soekarno. Di mana ada ungkapan tak kenal maka tak sayang, tak dekat maka tak cinta. Di sinilah Mangil menceritakan kedekatannya dengan Soekarno dan juga keseharian Soekarno pada masa setelah proklamasi dan menjelang kejatuhannya. Ada cerita bahagia, lelucon, dan kesedihan yang dilakukan Mangil selama masa pengabdiannya kepada Soekarno. Disini pula Mangil menjelaskan tentang kehidupan Soekarno yang kadang ada lika liku dan juga Soekarno yang senang dengan kedisiplinan dan kebersihan. Mangil menceritakan pula tentang perjuangan-perjuangan Soekarno dalam melawan penjajahan Belanda dengan cara berdiplomasi dengan negara-negara Internasional agar bangsa Indonesia bisa lepas dari penjajahan Belanda serta Mangil menceritakan tentang kudeta-kudeta yang terjadi selama Soekarno menjabat Presiden Republik Indonesia di mana banyak terjadi pro dan kontra pada waktu itu dan puncaknya pada gerakan 30 September yang mengakibatkan kejatuhan Soekarno karena dianggap melindungi PKI yang dianggap mendalangi gerakan tersebut.
Dalam buku ini adalah dimana Mangil dapat memberikan keterangan yang detail tentang kegiatan-kegiatan Soekarno setiap hari, juga keputusan-keputusan pada saat genting dan candaan-candaan serta gurauan-gurauan Soekarno terhadap anak buahnya yang masih dia ingat.
Meskipun begitu Mangil masih banyak menggunakan cerita dari sudut pandang Mangil sendiri dan tidak mengikut sertakan cerita dari anak buahnya pada waktu itu.