Pembentukan tentara BKR

BKR

 • Letak Geografis Daerah Kedu

Kedu selatan terletak di daerah kedu bagian selatan dan termasuk dalam wilayah propinsi Jawa Tengah. Kedu selatan terdiri dari kabupaten purworejo dan kabupaten kebumen.
Nama “kedu” digunakan sebagai nama karesidenan pada zaman pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Dari mana asal nama “kedu” sehingga digunakan menjadi nama karesidenan , sejak kapan , oleh siapa , dan bagaimana riwayatnya tidak diungkap disini. Namun , diantara jalan raya dari magelang atau semarang ke wonosobo , terdapat sebuah desa yang namanya “kedu”.
Batas-batas karesidenan kedu di masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda hingga masa sekarang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Sebelah barat berbatasan dengan karesidenan Banyumas dan karesidenan Pekalongan.
2. Sebelah utara berbatasan dengan karesidenan Semarang.
3. Sebelah timur berbatasan dengan karesidenan Surakarta dan daerah Istimewa Yogyakarta.
4. Sebelah selatan membentang luas Samudra Hindia yang kini lebih sering disebut Samudra Indonesia.
Daerah Kedu di sebelah utara terdiri dari tanah perbukitan dengan dataran-dataran yang luas, menjulang tinggi dengan megahnya gunung Sindoro dan Sumbing. Dataran-dataran perbukitan itu merupakan daerah yang subur seperti Dieng dan Temanggung, yang terkenal dengan tembakau dan vanili sebagai penghasil utamanya. Pada beberapa bagian di sebelah utara dan timur daerah Kedu masih terdapat hutan-hutan lindung yang terpelihara dengan baik.
Tengah-tengah wilayah Kedu terletak kota Magelang yang di jadikan sebagai ibukota Karesidenan Kedu. Di sebelah selatan kota Magelang terdapat dataran luas yang di atasnya berdiri candi Borobudur. Disini dulu bermukim seorang Raja Agung dan pendiri dinasti syailendra yang beragama Budha.
Di selatan wilayah Kedu, tepatnya di sepanjang Samudra Indonesia terdapat dataran luas dan perbukitan kecil di karangbolong ( selatan Gombong ). Karangbolong terkenal dengan penghasil sarang burung walet. Sedangkan dataran rendahnya merupakan penghasil tanaman padi dan palawija. Dibandingkan dengan daerah lain di Kedu, daerah ini sangat padat penduduknya. Secara keseluruhan keadaaan iklim di daerah Kedu sebelah utara hawanya dingin dan sejuk, tapi ke selatan berangsur-angsur panas.
Di zaman Diponegoro Kedu merupakan daerah yang baik untuk gerilya. Medannya berbukit-bukit dan tanahnya yang subur merupakan sumber logistik perang yang handal. Ditambah lagi dengan semangat rakyatnya yang sangat patriotik menjadikan perang Diponegoro berkobar dengan dasyatnya.
Perang yang juga disebut sebagai perang jawa ini baru berhenti setelah pangeran Diponegoro ditangkap oleh Kolonial Belanda secara licik da magelang.akan tetapi para pengikut Diponegoro tidak kembali ke daerahnya. Mereka memilih menyatu dengan rakyat di Kedu dan sebagian besar di daerah Kedu bagian selatan.
Pada masa pemerintah kolonial Hindia Belanda, Karesidenan Kedu dikepalai oleh seorang Residen yang membawahi beberapa Bupati.pada masa kini, Residen disebut sebagai pembantu Gubernur dengan tugas dan kewajiban untuk melakukan koordinasi dan pengendalian terhadap Kabupaten-kabupaten dalam wilayah yang bersangkutan. Para Bupati berada langsung di bawah Gubernur dan tidak berada di bawah Residen seperti zaman Hindia Belanda dahulu.
Wilayah pembantu Gubernur yang dahulu Karesidanan Kedu, kini menjadi bagian propinsi Jawa Tengah. Karesidenan Kedu terdiri dari kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kebumen, Purworejo dan juga kotamadya Magelang. Propinsi Jawa Tengah sendiri terdiri dari 6 wilayah pembantu Gubernur, yakni : Semarang, Pati, Surakarta, Kedu, Banyumas dan Pekalongan.

Pembentukan-badan-Keamanan-Rakyat-BKR

• Proses Pembentukan BKR di Kedu Selatan

Menjelang Proklamasi, pada tanggal 23 Agustus 1945 President mengeluarkan seruan agar bekas para Prajurit PETA, HEIHO, Pelaut serta segenap pemuda untuk masuk dan bekerja pada Badan Keamanan Rakyat. Setelah itu di daerah tingkat kabupaten diadakan musyawarah antara bekas opsir PETA yang tertinngi pangkatnya dengan Bupati dan Kepala Polisi Negara Kabupaten, untuk memecahkan berbagai masalah guna melaksanakan seruan Presiden. Maka dari itu diambilah langkah-langkah sebagai berikut:
1. BKR di tempatkan di dalam wadah BPKKP(Badan Penolong Keluarga Korban Perang) yang dibina oleh KNI di daerah-daerah.
2. Tugas BKR adalah menjaga keamanan Rakyat setempat.
Dengan adanya langkah-langkah itu segera diadakan pemanggilan kepada para bekas prajurit PETA, HEIHO, Pelaut, KNIL dan pemuda lain di kampung atau desa yang telah ditentukan. Mengenai masalah konsumsi BKR, menjadi tanggung jawab Bupati selaku Ketua BPKKP Kabupaten. Wedono untuk tingkat Kawedanan dan Camat untuk tingkat Kecamatan. Sedangkan untuk masalah persenjataan, Kepala Polisi setempat menyatakan kesanggupannya untuk memberikan pinjaman beberapa pucuk senjata selama diperlukan.

1. Di Purworejo
Kepala Polisi Kabupaten Purworejo talah menentukan bahwa tempat berkumpulnya BKR di gudang bekas kediaman Mayor KNIL Oerip Soemohardjo. Waktu berkumpul bagi yang dipanggil adalah segera setelah panggilan diterima. Asal wilayah yang dipanggilan adalah Kota Purworejo dan sekitarnya, yaitu dari wilayah Kawedanan Purwodadi, Loan dan Purworejo. Eks Daidancho Moekahar menunjuk eks Ccudancho Koen Kamdani untuk memipin pasukan BKR Purworejo, jumlah pasukan BKR Purworejo sekitar 600 orang. Bekal untuk pasukan BKR disediakan oleh dapur umum yang melibatkan Ibu Moekahar dan ibu-ibu dari Perwari yang semasa Jepang dikenal sebagai FUJINKAI, sedangkan sumber dana berasal dari Bupati Soeraryo.
Senjata BKR di dapat dari pinjaman Kepala Polisi Kabupaten Purworejo Inspektur I Soewoso berupa beberapa pucuk senapan laras panjang dan pistol yang digunakan polisi. Setelah itu terus menambah senjata dengan melucuti Jepang yang berkedudukan di kota dan sekitar Purworejo. Pakaian pasukan BKR terdiri dari 3 macam: sebagian besar hijau PETA bagi bekas PETA, khaki HEIHO bagi bekas HEIHO, dan campuran KNIL dan pemuda non Prajurit, yaitu memakai pakaian yang dimiliki masing-masing.
Demikianlah BKR Purworejo dengan kekuatan sebesar batalyon, dan senjata hampir dua kompi atau 1:3. Meskipun begitu, dengan berbekal semangat yang tinggi, BKR Purworejo tetap siap bertempur menghadapi segala kemungkinan.

2. Di Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri
BKR Kutoarjo diselenggarakan secara tidak terpusat yaitu di Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri. Keempat tempat itu memiliki pola dasar penyelenggaran yang sama. Logistik menjadi tugas dan tanggung jawab BPKKP yang di ketahui oleh Wedana di Kawedanan dan Camat di Kecamatan. Peminjaman senjata yang diperlukan, diberikan i oleh polisi yang terdekat selama diperlukan di berikan oleh polisi yang terdekat selama diperlukan. Bekal untuk anggota BKR diselinggarakan oleh dapur umum yang melibatkan ibu-ibu yang di zaman Jepang disebut FUJINKAI dan juga keikut sertaan dari pihak keluarga atau organisasi wanita lain.
Selain itu juga terbentuk BKR di beberapa tempat, yaitu BKR Grabag di Bawah pimpinan mantan Shodancho Ramelan, BKR Butuh di bawah pimpin mantan Shodancho Roes’an dan BKR Kemiri di bawah pimpinan mantan Shodancho Panoedjoe. Setiap BKR masing-masing berkekuatan satu kompi dan memiliki markas sendiri.
Persenjataan yang dimiliki BKR Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri sangat minim, meskipun telah mendapat pinjaman dari polisi dan perolehan dari pelucutan senjata di Sumpyuh. Namun dengan semangat yang berkobar-kobar, pasukan BKR Kutoarjo, Grabag, Butuh, dan Kemiri siap untuk bertugas menghadapi musuh.
Pakain seragam anggota BKR di Kutoarjo, Grabag, Butuh dan Kemiri sama dengan yang didapat di Purworejo. Sebagian menggunakan seragam PETA, sebagian kecil seragam HEIHO dan sebagian lagi menggunakan pakaian campuran milik masing-masing.
Seperti halnya di Purworejo, bekal bagi anggota BKR menjadi tanggung jawab Bupati. Demikian pula anggota BKR Kutoarjo menjadi tanggung jawab Wedana Kutoarjo selaku Ketua BPKKP; BKR Grabag menjadi tanggung jawab Camat Grabag; BKR Butuh menjadi tanggung jawab Camat Butuh; BKR Kemiri menjadi tanggung jawab Wedana Kemiri.

3. Di Prembun
Pembentukan BKR di Prembun mengambil tempat di gudang bekas Pabrik Gula Prembun, para pemuda bekas prajurit PETA, HEIHO, KNIL, Pelaut dan pemuda lainnya yang bertempat tinggal di sekitar Prembun yaitu dari daerah Kecamatan Prembun dan Kecamatan Mirit diminta untuk menjadi anggota BKR. Bekal bagi anggota BKR Prembun diselenggarakan oleh Wedana Prembun dengan bantuan Ibu-ibu Perwari dan dari organisasi wanita lain. Mereka menyelenggarakan dapur umum guna menyediakan ”NUK” bagi pasukan BKR.
Senjata yang dimiliki BKR Prembun termasuk lumayan. Senjata didapat dari hasil melucuti tentara Jepang yang ada di gedung bekas pabrik gula. Senjata lain berasal dari pinjaman Polisi Prembun. Dengan senjata senapan yang ada ditambah dengan senjata tajam yang berupa keris, tombak dan bambu runcing, BKR Prembun siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Pakaian BKR Prembun berlaku Komandan tunggal, dalam arti semuanya langsung atas komando dari pimpinan BKR.

4. Di Kutowinangun
Pembentukan BKR di Kutowinangun, mengambil tempat di Kawedanan Kutowinangun dipimpin oleh eks Bundancho Marsoem dan Aboe Soedjak, bekas HEIHO Bawoek dan Saimin. Satu kompi BKR Kutowinangun berhasil dibentuk dan dipusatkan di Sekolah Muhammadiyah, serta sebagian lagi di SDN Kutowinangun. Pembentukan BKR mendapat dukungan dari Wedana Kutowinangun. Sedangkan dapur umum diselenggarakan oleh Ibu-ibu Perwari yang menyediakan ”NUK”.
Pakaian BKR Kutowinangun tidak berbeda dengan di tempat-tempat lain. Ada tiga macam, yaitu hijau PETA, khaki HEIHO dan campuran. Sedangkan senjata masih sangat minim. Namun, semangat tetap tinggi.

5. Di Kebumen
Setelah terdengar berita mengenai panggilan BKR dari radio langsung dalam menghubungi bekas Opsir PETA yang berkedudukan di Kebumen, agar secepatnya membentuk BKR Kebumen. Pembentukan BKR di Kebumen dipimpin eks Chudancho Soedradjat bertempat di Kantor Polisi Kebumen. Selain itu peran Ibu-ibu Perwari di Kebumen juga besar di bawah pimpinan Ibu Goelarso dan Ibu Mangkoe Soemitro serta organisasi wanita lainnya. Mereka menyelenggarakan dapur umum untuk bekal pasukan BKR Kebumen yang dipusatkan di Gedung Sekolah Cina HCS (Holland Chinese School) yang terletak di Jalan Kutoarjo, dekat Monumen Walet.
Kepala Polisi Kebumen Ajun Komisaris Soedjono memberikan pinjaman senjata kepada BKR kebumen berupa :
• Pistol Buldok 5 pucuk.
• Pistol Colt kuda 3 pucuk.
• Pistol Mauser 1 pucuk.
• Senapan panjang (polisi) 24 pucuk.
Pakaian yang di kenakan oleh BKR di Kebumen tidak berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Ada tiga macam, sebagian besar berpakaian hijau bekas PETA, khaki bekas HEIHO sebagaian kecil dan sebagian lagi campuran milik masing-masing.

6. Di Pejagoan
Pejagoan adalah Kota Kawedanan yang letaknya dekat dan berbatasan dengan Kota Kebumen. Pejagoan ditunjuk menjadi tempat pemusatan pendaftaran menjadi BKR bagi pemuda bekas PETA, HEIHO, Pelaut dan lainnya yang tinggal di sekitar Pejagoan. Kegiatan pendaftaran, pembentukan serta kesiagaan pasukan BKR dilakukan dengan mengambil tempat di Komplek Perumahan Pabrik Genteng Soka di Kebulusan.
Seperti halnya dengan di tempat-tempat lain,bekal bagi pasukan BKR Pejagoan diselenggarakan oleh Wedana Pejagoan. Pelaksanaannya dilakukan oleh Camat Pejagoan Daroesman dengan dibantu oleh Ibu-ibu Perwari Pejagoan.
Seragam BKR Pejagoan tidak berbeda dengan pasukan BKR lainnya. Ada yang sebagian hijau bekas PETA, sebagian lagi khaki bekas HEIHO, dan sebagian besar campuran milik masing-masing. Senjata pasukan BKR Pejagoan pada awalnya dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Akan tetapi mereka memiliki semangat yang tinggi untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan, meskipun hanya dengan bersenjata keris, tombak, pedang dan bambu runcing.

7. Di Karanganyar
Di Karanganyar dilakukan rapat untuk menanggapi seruan Presiden tentang pembentukan BKR, rapat ini di selenggarakan di rumah tinggal eks Bundancho Bambang Widjanarko. Rapat memutuskan tentang waktu dan tempat pendaftaran masuk BKR untuk para pemuda yang tinggal di sekitar Karanganyar, baik bekas prajurit maupun yang bukan. Wedana Karanganyar Hardjo Kartoatmodjo selaku ketua BPKKP dibantu ibu-ibu Perwari menyelenggarakan bekal pasukan BKR Karanganyar. Senjata BKR Karanganyar berjumlah 5 pucuk. Senjata tersebut dimiliki karena sebelum BKR terbentuk para bekas prajurit PETA sudah bertindak melucuti Jepang yang berada di Karanganyar. Meskipun begitu hanya dengan senjata bambu runcing dan senjata tajam yang beragam jenisnya sekalipun, BKR Karanganyar tetap siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan.
Seragam bagi BKR Karanganyar ada 3 macam, yaitu : sebagian hijua bekas PETA, sebagian lagi khaki bekas HEIHO dan sebagian besar lainnya campuran milik masing-masing pemuda non prajurit.

8. Di Gombong
Seruan Presiden RI tanggal 23 Agustus 1945 yang diteruskan melalui pamong praja disambut baik para pemuda bekas PETA, HEIHO, Pelaut, KNIL, serta pemuda lain. Mereka bergegas untuk mendaftarkan diri masuk BKR ke Kesatrian. Dalam waktu singkat terhimpunlah pasukan sebesar 2 kompi. Gombong fasilitas militer yang lengkap, berbeda dengan Karanganyar dan Kebumen. Meskipun mereka telah dibubarkan, namun terdapat beberapa bekas prajurit PETA yang tetap berkumpul dan siaga di Kesatrian. Pengarahan pasukan BKR Gombong disampaikan oleh eks Chudancho Sarbini. Atas permintaan Wedana Gombong Sosroboesono, ibu-ibu Perwari Gombong menyelenggarakan dapur umum, untuk menyediakan ”Nuk” bagi pasukan BKR Gombong.
Sementara itu Kepala Polisi Gombong meminjamkan 40 pucuk senjatanya kepada pihak BKR Gombong, setelah sebelumnya Komandan Pasukan BKR Gombong minta bantuan pinjaman senjata.
Secara keseluruhan dalam hal organisasi, Badan Keamanan Rakyat merupakan organisasi lokal dibawah BPKKP setempat. Ia tidak mempunyai garis komando dari tingkat teratas hingga ke Kabupaten-kabupaten dan Kecamatan-kecamatan.

Bomber Tu – 16 Indonesia era Soekarno

Tupolev Tu-16 (kode NATO: Badger) adalah sebuah pembom jet bermesin ganda yang dikembangkan dan digunakan oleh Angkatan Udara Uni Soviet. Pesawat ini telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun, dan masih beroperasi di Angkatan Udara Cina dengan varian Xian H-6.

Dirancang untuk menjadi serba bisa, Tu-16 diproduksi dalam berbagai varian untuk mata-mata, patroli maritim, pengumpul data elektronik intelijen, dan perang elektronik. Sebanyak 1507 pesawat dibangun di tiga pabrik pesawat di Uni Soviet antara tahun 1954 hingga tahun 1962. Varian untuk sipil, Tu-104 Camel, menjadi pesawat penumpang untuk maskapai penerbangan Uni Soviet, Aeroflot.

Tu-16 sempat diekspor ke Mesir, Indonesia dan Irak. Pesawat pembom strategis ini terus digunakan oleh angkatan udara dan angkatan laut Uni Soviet (kemudian Rusia) hingga tahun 1993.

Tu-16 dan TNI-AU

25 unit pesawat bomber ini, varian Tu-16KS-1 dimiliki oleh AURI (nama TNI-AU waktu itu) pada tahun 1961. Pesawat-pesawat ini digunakan untuk mempersiapkan diri dalam Operasi Trikora tahun 1962 untuk merebut kembali Irian Barat dari Belanda. Semua pesawat ini direncanakan untuk menyerang Hr. Ms. Karel Doorman, kapal induk AL Belanda yang tengah berlayar dekat Irian Barat saat itu menggunakan rudal anti-kapal AS-1 Kennel,

14 unit Tu-16 tergabung dalam Skadron 41 dan sisanya di Skadron 42. Kedua skadron ini bermarkas di Pangkalan Udara AURI Iswahyudi, di Madiun, Jawa Timur. Semua unit Tu-16 tidak diterbangkan lagi pada tahun 1969 dan keluar dari armada AURI pada tahun 1970.

Awal masuk TNI AU

Bila predikat Angkatan Udara terkuat di Asia Tenggara kini di pegang oleh Singapura, maka di era tahun 60-an kekuatan angkatan udara negeri kita boleh dibilang menjadi “singa”, tak cuma di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia TNI-AU kala itu sangat diperhitungkan. Bahkan Cina maupun Australia belum punya armada pembom strategis bermesin jet. Sampai awal tahun 60-an hanya Amerika yang memiliki pembom semacam(B-58 Hustler), Inggris (V bomber-nya, Vulcan, Victor, serta Valiant) dan Rusia.

Gelar “singa” tentu bukan tanpa alasan, di awal tahun 60-an TNI-AU sudah memiliki arsenal pembom tempur mutakhir (dimasanya-red) Tu-16, yang punya daya jelajah cukup jauh, dan mampu membawa muatan bom dalam jumlah besar. Pembelian Tu-16 AURI didasari, terbatasnya kemampuan B-25, embargo suku cadang dari Amerika, dan untuk memuaskan ambisi politik.

“Tu-16 masih dalam pengembangan dan belum siap untuk dijual,” ucap Dubes Rusia untuk Indonesia Zhukov kepada Bung Karno (BK) suatu siang di penghujung tahun 50-an. Ini menandakan, pihak Rusia masih bimbang untuk meluluskan permintaan Indonesia membeli Tu-16. Tapi apa daya Rusia, AURI ngotot. BK terus menguber Zhukov tiap kali bersua. “Gimana nih, Tu-16-nya,” kira-kira begitu percakapan dua tokoh ini. Akhirnya, mungkin bosan dikuntit terus, Zhukov melaporkan juga keinginan BK kepada Menlu Rusia Mikoyan. Usut punya usut, kenapa BK begitu semangat? Ternyata, Letkol Salatun-lah pangkal masalahnya. “Saya ditugasi Pak Surya (KSAU Suryadarma-Red) menagih janji Bung Karno setiap ada kesempatan,” aku Marsda (Pur) RJ Salatun tertawa.

Ketika ide pembelian Tu-16 dikemukakan Salatun saat itu sekretaris Dewan Penerbangan/Sekretaris Gabungan Kepala-kepala Staf kepada Suryadarma tahun 1957, tidak seorangpun tahu. Maklum, TNI tengah sibuk menghadapi PRRI/Permesta. Namun dari pemberontakan itu pula, semua tersentak. AURI tidak punya pembom strategis! B-25 yang dikerahkan menghadapi AUREV (AU Permesta), malah merepotkan. Karena daya jelajahnya terbatas, pangkalannya harus digeser, peralatan pendukungnya harus diboyong. Waktu dan tenaga tersita. Sungguh tidak efektif. Celaka lagi, Amerika meng-embargo suku cadangnya. Alhasil, gagasan memiliki Tu-16 semakin terbuka.

Salatun yang menemukan proyek Tu-16 dari majalah penerbangan asing tahun 1957, menyampaikannya kepada Suryadarma. “Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh sekalipun dan kembali sebelum makan siang,” jelasnya kepada KSAU. “Bagaimana pangkalannya,” tanya Pak Surya. “Kita akan pakai Kemayoran yang mampu menampung pesawat jet,” jawab Salatun. Seiring disetujuinya rencana pembelian Tu-16 ini, landas pacu Lanud Iswahyudi, Madiun, kemudian turut diperpanjang.

Proses pembeliannya memang tidak mulus. Sejak dikemukakan, baru terealisasi 1 Juli 1961, ketika Tu-16 pertama mendarat di Kemayoran. Ketika lobi pembeliannya tersekat dalam ketidakpastian, Cina pernah dilirik agar membantu menjinakkan “beruang merah”. Caranya, Cina diminta menalangi dulu pembeliannya. Namun usaha ini sia-sia, karena neraca perdagangan Cina-Rusia lagi terpuruk. Sebaliknya, “Malah Cina menawarkan Tu-4m Bull-nya,” tutur Salatun. Misi Salatun ke Cina sebenarnya mencari tambahan B-25 Mitchell dan P-51 Mustang.

Jadi, pemilihan Tu-16 memperkuat AURI bukan semata alat diplomasi. Penyebab lain adalah embargo senjata Amerika. Padahal saat bersamaan, AURI sangat membutuhkan suku cadang B-25 dan P-51 untuk menghantam AUREV.

Tahun 1960, Salatun berangkat ke Moskow bersama delegasi pembelian senjata dipimpin Jenderal AH Nasution. Sampai kedatangannya, delegasi belum tahu, apakah Tu-16 sudah termasuk dalam daftar persenjataan yang disetujui Soviet. Perintah BK hanya, cari senjata. Apa yang terjadi. Tu-16 termasuk dalam daftar persenjataan yang ditawarkan Uni Soviet. Betapa kagetnya delegasi.

“Karena Tu-16 kami berikan kepada Indonesia, maka pesawat ini akan kami berikan juga kepada negara sahabat lain,” ujar Menlu Mikoyan. Mulai detik itu, Indonesia menjadi negara ke empat di dunia yang mengoperasikan pembom strategis selain Amerika, Inggris dan Rusia sendiri. Hebat lagi, AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu-16 dengan Anti Radiation Paint cat khusus anti radiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir. “Gertak musuh saja, AURI kan tak punya bom nuklir,” tutur Salatun. Usul tersebut ditolak.

Segera AURI mempersiapkan awaknya. Puluhan kadet dikirim ke Chekoslovakia dan Rusia. Mereka dikenal dengan angkatan Cakra I, II, III, Ciptoning I dan Ciptoning II.
Mulai tahun 1961, ke-24 Tu-16 mulai datang bergiliran diterbangkan awak Indonesia maupun Rusia. Pesawat pertama yang mendarat di Kemayoran dikemudikan oleh Komodor Udara (sekarang Marsda TNI Pur Cok Suroso Hurip). Mendapat perhatian terutama dari kalangan intel Amerika.

Kesempatan pertama intel-intel AS melihat Tu-16 dari dekat ini, memberikan kesempatan kepada mereka memperkirakan kapasitas tangki dan daya jelajahnya. Pengintaian terus dilakukan AS sampai saat Tu-16 dipindahkan ke Madiun. U-2 pun mereka libatkan. Wajar, di samping sebagai negara pertama yang mengoperasikan Tu-16 di luar Rusia, kala itu beraneka ragam pesawat blok Timur lainnya berjejer di Madiun.

Persiapan Operasi Trikora

Saat Trikora dikumandangkan, angkatan perang Indonesia sedang berada pada “puncaknya”. Lusinan persenjataan Blok Timur dimiliki. Mendadak AURI berkembang jadi kekuatan terbesar di belahan bumi selatan. Dalam mendukung kampanye Trikora, AURI menyiapkan satu flight Tu-16 di Morotai yang hanya memerlukan 1,5 jam penerbangan dari Madiun. “Kita siaga 24 jam di sana,” ujar Kolonel (Pur) Sudjijantono, salah satu penerbang Tu-16. “Sesekali terbang untuk memanaskan mesin. Tapi belum pernah membom atau kontak senjata dengan pesawat Belanda,” ceritanya kepada Angkasa. Saat itu, dikalangan pilot Tu-16 punya semacam target favorit, yaitu kapal induk Belanda Karel Doorman.

Selain memiliki 12 Tu-16 versi bomber (Badger A) yang masuk dalam Skadron 41, AURI juga memiliki 12 Tu-16 KS-1 (Badger B) yang masuk dalam Skadron 42 Wing 003 Lanud Iswahyudi. Versi ini mampu membawa sepasang rudal anti kapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Rudal inilah yang ditakuti Belanda. Karena hantaman enam Kennel, mampu menenggelamkan Karel Doorman ke dasar samudera. Sayangnya, hingga Irian Barat diselesaikan melalui PBB atas inisiatif pemerintah Kennedy, Karel Doorman tidak pernah ditemukan Tu-16.

Lain lagi kisah Idrus Abas (saat itu Sersan Udara I), operator radio sekaligus penembak ekor (tail gunner) Tu-16. Bulan Mei 1962, saat perundingan RI-Belanda berlangsung di PBB, merupakan saat paling mendebarkan. Awak Tu-16 disiagakan di Morotai. Dengan bekal radio transistor, mereka memonitor hasil perundingan. Mereka diperintahkan, “Kalau perundingan gagal, langsung bom Biak,” ceritanya mengenang. “Kita tidak tahu, apakah bisa kembali atau tidak setelah mengebom,” tambah Sjahroemsjah yang waktu itu berpangkat Sersan Udara I, rekan Idrus yang bertugas sebagai operator radio/tail gunner. Istilahnya, one way ticket operation.

Namun para awak Tu-16 di Morotai ini, tidak akan pernah melupakan jerih payah ground crew-nya. “Yang paling susah kalau isi bahan bakar. Bayangkan untuk sebuah Tu-16, dibutuhkan sampai 70 drum bahan bakar. Kadang ngangkutnya tidak pakai pesawat, jadi langsung diturunkan dari kapal laut. Itupun dari tengah laut. Makanya, sering mereka mendorong dari tengah laut,” ujar Idrus. Derita awak darat itu belum berakhir, lantaran untuk memasukkan ke tangki pesawat yang berkapasitas kurang lebih 45.000 liter itu, masih menggunakan cara manual. Di suling satu per satu dari drum hingga empat hari empat malam. Hanya sebulan Tu-16 di Morotai, sebelum akhirnya ditarik kembali ke Madiun usai Trikora.

Rudal Kennel


Kennel memang tidak pernah ditembakkan. Tapi ujicoba pernah dilakukan sekitar tahun 1964-1965. Kennel ditembakkan ke sebuah pulau karang di tengah laut, persisnya antara Bali dan Ujung Pandang. “Nama pulaunya Arakan,” aku Hendro Subroto, mantan wartawan TVRI. Dalam ujicoba, Hendro mengikuti dari sebuah C-130 Hercules bersama KSAU Omar Dhani. Usai peluncuran, Hercules mendarat di Denpasar. Dari Denpasar, dengan menumpang helikopter Mi-6, KSAU dan rombongan terbang ke Arakan melihat perkenaan. “Tepat di tengah, plat bajanya bolong,” jelas Hendro.

Diuber Javelin

Lebih tepat, di masa Dwikoralah awak Tu-16 merasakan ketangguhan Tu-16. Apa pasal? Ternyata, berkali-kali pesawat ini dikejar pesawat tempur Inggris. Rupanya, Inggris menyadap percakapan AURI di Lanud Polonia Medan dari Butterworth, Penang.

“Jadi mereka tahu kalau kita akan meluncur,” ujar Marsekal Muda (Pur) Syah Alam Damanik, penerbang Tu-16 yang sering mondar-mandir di selat Malaka.

Damanik menuturkan pengalamannya di kejar Javelin pada tahun 1964. Damanik terbang dengan ko-pilot Sartomo, navigator Gani dan Ketut dalam misi kampanye Dwikora.

Pesawat diarahkan ke Kuala Lumpur, atas saran Gani. Tidak lama kemudian, dua mil dari pantai, Penang (Butterworth) sudah terlihat. Mendadak, salah seorang awak melaporkan bahwa dua pesawat Inggris take off dari Penang. Damanik tahu apa yang harus dilakukan. Dia berbelok menghindar. “Celaka, begitu belok, nggak tahunya mereka sudah di kanan-kiri sayap. Cepat sekali mereka sampai,” pikir Damanik. Javelin-Javelin itu rupanya berusaha menggiring Tu-16 untuk mendarat ke wilayah Singapura atau Malaysia (forced down). Dalam situasi tegang itu, “Saya perintahkan semua awak siaga. Pokoknya, begitu melihat ada semburan api dari sayap mereka (menembak-Red), kalian langsung balas,” perintahnya. Perhitungan Damanik, paling tidak sama-sama jatuh. Anggota Wara (wanita AURI) yang ikut dalam misi, ketakutan. Wajah mereka pucat pasi.

Dalam keadaan serba tak menentu, Damanik berpikir cepat. Pesawat ditukikkannya untuk menghindari kejaran Javelin. Mendadak sekali. “Tapi, Javelin-Javelin masih saja nempel. Bahkan sampai pesawat saya bergetar cukup keras, karena kecepatannya melebihi batas (di atas Mach 1).” Dalam kondisi high speed itu, sekali lagi Damanik menunjukkan kehebatannya. Ketinggian pesawat ditambahnya secara mendadak. Pilot Javelin yang tidak menduga manuver itu, kebablasan. Sambil bersembunyi di balik awan yang menggumpal, Damanik membuat heading ke Medan.

Segenap awak bersorak kegirangan. Tapi kasihan yang di ekor (tail gunner). Mereka berteriak ternyata bukan kegirangan, tapi karena kena tekanan G yang cukup besar saat pesawat menanjak. Akibat manuver yang begitu ketat saat kejar-kejaran, perangkat radar Tu-16 jadi ngadat. “Mungkin saya terlalu kasar naiknya. Tapi nggak apa-apa, daripada dipaksa mendarat oleh Inggris,” ujar Damanik mengenang peristiwa itu.

Lain lagi cerita Sudjijantono. “Saya ditugaskan menerbangkan Tu-16 ke Medan lewat selat Malaka di Medan selalu disiagakan dua Tu-16 selama Dwikora. Satu pesawat terbang ke selatan dari Madiun melalui pulau Christmas (kepunyaan Inggris), pulau Cocos, kepulauan Andaman Nikobar, terus ke Medan,” katanya. Pesawat berikutnya lewat jalur utara melalui selat Makasar, Mindanao, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Laut Cina selatan, selat Malaka, sebelum akhirnya mendarat di Medan. Ada juga yang nakal, menerobos tanah genting Kra.

Walau terkesan “gila-gilaan”, misi ini tetap sesuai perintah. BK memerintahkan untuk tidak menembak sembarangan. Dalam misi berbau pengintaian ini, beberapa sempat ketahuan Javelin. Tapi Inggris hanya bertindak seperti “polisi”, untuk mengingatkan Tu-16 agar jangan keluar perbatasan.

Misi ala stealth


Masih dalam Dwikora. Pertengahan 1963, AURI mengerahkan tiga Tu-16 versi bomber (Badger A) untuk menyebarkan pamflet di daerah musuh. Satu pesawat ke Serawak, satunya ke Sandakan dan Kinibalu, Kalimantan. Keduanya wilayah Malaysia. Pesawat ketiga ke Australia. Khusus ke Australia, Tu-16 yang dipiloti Komodor Udara (terakhir Marsda Purn) Suwondo bukan menyebarkan pamflet. Tapi membawa peralatan militer berupa perasut, alat komunikasi dan makanan kaleng. Skenarionya, barang-barang itu akan didrop di Alice Springs, Australia (persis di tengah benua), untuk menunjukkan bahwa AURI mampu mencapai jantung benua kangguru itu. “Semacam psi-war buat Australia,” ujar Salatun.

Padahal Alice Springs ditongkrongi over the horizon radar system. “Untuk memantau seluruh kawasan Asia Pasifik,” ujar Marsma (Pur) Zainal Sudarmadji, pilot Tu-16 angkatan Ciptoning II.

Walau begitu, misi tetap dijalankan. Pesawat diberangkatkan dari Madiun sekitar jam satu malam. “Pak Wondo (pilot pesawat-Red) tak banyak komentar. Beliau hanya minta, kita kumpul di Wing 003 pukul 11 malam dengan hanya berbekal air putih,” ujar Sjahroemsjah, gunner Tu-16 yang baru tahu setelah berkumpul bahwa mereka akan diterbangkan ke Australia.
Briefing berjalan singkat. Pukul 01.00 WIB, pesawat meninggalkan Madiun. Pesawat terbang rendah guna menghindari radar. Sampai berhasil menembus Australia dan menjatuhkan bawaan, tidak terjadi apa-apa. Pesawat pencegat F-86 Sabre pun tak terlihat aktivitasnya, rudal anti pesawat Bloodhound Australia yang ditakuti juga “tertidur”. Karena Suwondo berputar agak jauh, ketika tiba di Madiun matahari sudah agak tinggi. “Sekitar pukul delapan pagi,” kata Sjahroemsjah.

Penyusupan ke Sandakan, dipercayakan ke Sudjijantono bersama Letnan Kolonel Sardjono (almarhum). Mereka berangkat dari Iswahyudi (Madiun) jam 12 malam. Pesawat membumbung hingga 11.000 m. Menjelang adzan subuh, mereka tiba di Sandakan. Lampu-lampu rumah penduduk masih menyala. Pesawat terus turun sampai ketinggian 400 m. Persis di atas target (TOT), ruang bom (bomb bay) dibuka. Seperti berebutan, pamflet berhamburan keluar disedot angin yang berhembus kencang.

Usai satu sortie, pesawat berputar, kembali ke lokasi semula. “Ternyata sudah gelap, tidak satupun lampu rumah yang menyala,” kata Sudjijantono. Rupanya, aku Sudjijantono, Inggris mengajari penduduk cara mengantisipasi serangan udara. Akhirnya, setelah semua pamflet diserakkan, mereka kembali ke Iswahyudi dan mendarat dengan selamat pukul 08.30 pagi. Artinya, kurang lebih sepuluh jam penerbangan. Semua Tu-16 kembali dengan selamat.

Dapat dibayangkan, pada dekade 60-an AURI sudah sanggup melakukan operasi-operasi penyusupan udara tanpa terdeteksi radar lawan. Kalaulah sepadan, bak operasi NATO ke Yugoslavia dengan pesawat silumannya.

Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! Bayangkan, “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970.

Dokumen CIA (central intelligence agency) sebagaimana dikutip Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya “Subversi Sebagai Politik Luar Negeri” menulis: “Belanja senjata RI mencapai 229. 395.600 dollar AS. Angka itu merupakan akumulasi perdagangan pada tahun 1958. Sementara dari Januari hingga Agustus 1959 saja, nilainya mencapai 100.456.500 dollar AS. Dari jumlah ini, AURI kebagian 69.912. 200 dollar AS, yang di dalamnya termasuk pemesanan 20 pesawat pembom.”

Tidak dapat dipungkiri, memang, Tu-16 pembom paling maju pada zamannya. Selain dilengkapi peralatan elektronik canggih, badannya terbilang kukuh. “Badannya tidak mempan dibelah dengan kampak paling besar sekalipun. Harus pakai las yang besar. Bahkan, untuk membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya, laspun tak sanggup. Karena campuran magnesiumnya lebih banyak ketimbang alumunium,” ujar Bagio.

Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan spare pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. “Kita terpaksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas dengan kedudukannya. Seperti blister (kubah kaca-Red), mesti diamplas dulu,” kenang Bagio lagi. Pengadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran.

Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia, memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdiannya selama Trikora – Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16-nya ke Mesir. Namun hal ini tidak pernah terlaksana.

Begitulah nasib Tu-16. Tragis. Farewell flight, penerbangan perpisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada bulan Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. “Sempat ke sasar waktu kita cari Monas,” ujar Zainal Sudarmadji. Saat mendarat lagi di Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem secara mendadak.

Patut diakui, keberadaan pembom strategis mampu memberikan efek psikologis bagi lawan-lawan Indonesia saat itu. Bahkan, sampai pertengahan 80-an, Tu-16 AURI masih dianggap ancaman oleh AS. “Lah, wong nama saya masih tercatat sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay, kok,” ujar Sudjijantono, angkatan Cakra 1.

Sekian tahun hidup dalam kedigdayaan, sampailah AURI (juga ALRI) pada massa yang teramat pahit dalam perjalanannya. Pasokan suku cadang terhenti, nasib pesawat tak jelas. Ditulis oleh Harold Crouch “Politik dan Militer di Indonesia”, 1978), AL dan AU yang bergantung pada teknologi yang lebih maju dari AD tidak dapat memelihara lagi dengan baik peralatannya.

Pada awal tahun 1970, KSAU Marsdya Suwoto Sukendar mengatakan, hanya 15 sampai 20 persen pesawat AURI yang dapat diterbangkan kapal ALRI hanya 40 persen karena ketiadaan suku cadang dari Uni Soviet. Tahun 1970, kemudian dikenang sebagai tahun pemusnahan persenjataan Blok Timur.

(Dikutip dari www.angkasa-online.com)